Pendidikan gizi di sekolah dinilai berpotensi mendorong perubahan perilaku makan remaja, terutama ketika dirancang secara sistematis dan melibatkan praktik langsung. Sejumlah kajian sistematis menunjukkan intervensi pendidikan gizi berbasis sekolah dapat memengaruhi perilaku konsumsi secara positif, dengan mayoritas program yang ditelaah memperlihatkan perubahan menguntungkan pada konsumsi setidaknya dua kelompok pangan.
Dalam pelaksanaan edukasi gizi, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari pemahaman teori, tetapi juga dari kemampuan siswa menerapkan konsep gizi seimbang dalam situasi nyata. Karena itu, pendekatan yang menggabungkan media interaktif dan demonstrasi dinilai dapat membantu siswa menjembatani pengetahuan dengan kebiasaan makan sehari-hari.
Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk melihat perubahan pengetahuan siswa sebelum dan sesudah edukasi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan setelah kegiatan dilaksanakan. Peningkatan ini menjadi indikator bahwa materi dan metode yang digunakan mampu memperkuat pemahaman siswa mengenai gizi seimbang dan konsep “Isi Piringku”.
Namun, capaian program tidak berhenti pada skor pengetahuan. Siswa juga menunjukkan kemampuan menerapkan materi melalui demonstrasi dan praktik menyusun piring makan seimbang. Dengan demikian, hasil kegiatan mencakup dua aspek, yakni peningkatan pengetahuan dan keterampilan aplikatif. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa literasi gizi semestinya berkembang dari kemampuan menjawab pertanyaan menjadi kemampuan mengambil keputusan pangan yang lebih sehat.
Monitoring dan evaluasi kegiatan dilakukan pada 6 Juni 2026. Pemantauan ditujukan untuk melihat sejauh mana materi dapat dipahami dan diterapkan oleh siswa, sekaligus menilai respons mitra terhadap pelaksanaan program. Evaluasi juga digunakan sebagai dasar untuk menilai peluang keberlanjutan kegiatan setelah intervensi langsung selesai.
Keterlibatan sekolah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Dukungan diberikan oleh kepala sekolah dan unsur wakil kepala sekolah, sementara guru diharapkan melanjutkan penguatan pesan gizi melalui pembelajaran dan lingkungan sekolah. Pendekatan ini sejalan dengan konsep Health Promoting Schools yang menempatkan sekolah sebagai lingkungan pendukung pembentukan perilaku sehat secara berkelanjutan.
Program juga dirancang tidak berhenti pada satu kali kegiatan. Sejumlah luaran disiapkan agar dapat dimanfaatkan sekolah, antara lain media edukasi “Isi Piringku”, video praktik menu seimbang, rekomendasi menu kantin sehat, serta instrumen evaluasi. Keberadaan materi yang dapat digunakan berulang diharapkan membantu sekolah mempertahankan pesan gizi meski kegiatan pengabdian telah berakhir.
Salah satu pesan yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bahwa makanan sehat tidak harus mahal dan tidak harus jauh dari budaya makan setempat. Pangan lokal Maluku dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang apabila dikombinasikan secara tepat, misalnya ikan sebagai sumber protein, papeda atau ubi sebagai sumber karbohidrat, serta sayuran dan buah lokal sebagai pelengkap untuk memenuhi prinsip keberagaman pangan.
Pendekatan berbasis pangan lokal juga membuat edukasi lebih dekat dengan realitas siswa. Mereka tidak hanya mempelajari contoh makanan dari gambar, tetapi memahami bahwa prinsip gizi seimbang dapat diterapkan pada makanan yang tersedia di rumah dan lingkungan sekitar. Dalam berbagai pedoman, komposisi diet sehat dapat berbeda mengikuti karakteristik individu, budaya, ketersediaan pangan lokal, dan kebiasaan makan, sementara prinsip dasarnya tetap menekankan keberagaman dan kecukupan zat gizi.
Kegiatan di SMP Al-Wathan Ambon menunjukkan edukasi gizi dapat dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang aktif, sederhana, dan aplikatif. Ketika siswa diberi kesempatan untuk melihat, mendiskusikan, menyusun, dan menjelaskan kembali makanan dalam satu piring, konsep gizi seimbang menjadi lebih konkret.
Ke depan, keberlanjutan program diarahkan pada penguatan lingkungan sekolah melalui pemanfaatan media “Isi Piringku”, peningkatan literasi guru, penguatan pilihan jajanan sehat di kantin, serta pelibatan keluarga. Sejumlah bukti penelitian juga menekankan bahwa intervensi berbasis sekolah lebih berpeluang berdampak bila tidak hanya mengandalkan edukasi individu, tetapi turut didukung perubahan lingkungan serta keterlibatan keluarga dan komunitas.
Pada akhirnya, transformasi edukasi gizi tidak hanya menyangkut cara menyampaikan materi, melainkan juga cara siswa memahami dan mempraktikkan makanan sehat. Dari sekadar mengetahui konsep gizi seimbang, siswa diarahkan untuk mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.