Remaja dinilai memerlukan edukasi gizi seimbang yang dekat dengan keseharian mereka, termasuk melalui pendekatan berbasis kearifan lokal. Upaya ini dipandang penting untuk membantu remaja memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus menjaga kesehatan, terutama pada masa pertumbuhan yang berlangsung cepat.
Tanpa pola makan yang cukup dan tepat, remaja berisiko menghadapi berbagai masalah kesehatan. Salah satu yang disorot adalah anemia, yang disebut kerap terjadi pada remaja ketika konsumsi makanan tidak beragam. Dalam jurnal berjudul Edukasi Pemenuhan Gizi Seimbang pada Remaja Berbasis Kearifan Lokal Daerah dalam Mencegah Anemia, Stephanie dkk menekankan bahwa pemenuhan gizi seimbang diperlukan untuk mencegah anemia yang banyak dialami remaja akibat pola konsumsi yang kurang bervariasi.
Selain anemia, kekurangan gizi juga dapat berdampak pada pertumbuhan yang terhambat dan menurunnya daya tahan tubuh. Kondisi tersebut disebut sering terjadi pada remaja yang hanya mengandalkan makanan pokok tanpa memperhatikan kebutuhan zat gizi lain dalam menu harian.
Pendekatan kearifan lokal dalam edukasi gizi seimbang dipandang sebagai solusi yang dapat meningkatkan keterjangkauan dan keberterimaan. Gizi seimbang diartikan sebagai pola makan yang memenuhi kebutuhan semua zat gizi dalam jumlah dan proporsi yang tepat. Sementara kearifan lokal merujuk pada pemanfaatan sumber pangan serta kebiasaan makan tradisional yang berkembang di suatu daerah.
Dalam praktiknya, pemenuhan gizi dapat dilakukan melalui menu tradisional yang mudah dijumpai, seperti tempe, tahu, ikan air tawar, serta sayur-mayur lokal. Pilihan makanan ini dinilai dapat membantu mencukupi kebutuhan nutrisi dengan biaya yang relatif terjangkau dan tetap sesuai dengan budaya setempat.
Stephanie dkk juga mencatat bahwa edukasi gizi berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja mengenai pentingnya asupan nutrisi yang bergizi seimbang. Namun, perubahan perilaku makan pada remaja tetap memerlukan strategi edukasi yang relevan dengan kebiasaan sehari-hari.
Sejumlah metode edukasi yang dapat diterapkan antara lain penyuluhan interaktif, penggunaan poster edukatif, serta pelatihan memasak menu sehat dengan bahan lokal agar materi lebih mudah dipahami dan dipraktikkan. Selain itu, dukungan sekolah dan keluarga disebut berperan penting untuk memastikan remaja tidak hanya memahami konsep gizi seimbang, tetapi juga menerapkannya.
Aktivitas bersama di rumah, seperti memasak, maupun penerapan kantin sehat di sekolah dapat memperkuat pesan edukasi. Berdasarkan temuan yang dirujuk dari jurnal Stephanie dkk, kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan edukasi gizi di kalangan remaja.

