BERITA TERKINI
Dusun Phu Tho Bertumpu pada Teh: Dari Masa Sulit hingga Produksi Teh Aman

Dusun Phu Tho Bertumpu pada Teh: Dari Masa Sulit hingga Produksi Teh Aman

Bukit-bukit teh hijau membentang di dusun Phu Tho, komune Vo Tranh, di tengah lembah pegunungan yang medannya kompleks. Di wilayah yang sawahnya terbatas dan tidak selalu cukup untuk menopang kebutuhan pangan, budidaya teh perlahan menjadi tumpuan ekonomi warga—terutama komunitas etnis Mong—sekaligus membuka ruang berbagi pengalaman dalam memproduksi teh yang aman.

Menurut Lau Van Vu, tokoh yang dihormati di kalangan etnis Mong di Thai Nguyen, kawasan itu dulunya disebut sebagai “tanah yang diberkati” dan sempat menjadi tempat pendatang dari dataran rendah bercocok tanam teh. “Sebelum tahun 1950, orang-orang dari dataran rendah datang ke sini untuk hidup dari budidaya teh. Ketika mereka memiliki modal, mereka menjual tanah ini untuk pindah ke kota. Kami adalah orang-orang yang membelinya dan terus hidup dari teh,” ujarnya.

Kondisi geografis membuat pilihan penghidupan warga tidak mudah. Sawah yang sedikit memaksa sebagian penduduk mencari cara lain untuk menambah pemasukan, mulai dari membeli kerbau di daerah tetangga untuk digemukkan hingga bekerja membersihkan lahan milik orang lain demi mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keterbatasan itu, warga mulai melihat nilai ekonomi teh. Sejumlah orang bahkan menyebutnya sebagai “revolusi” dalam cara berpikir ekonomi keluarga: menetap dan menanam teh untuk dijual, lalu membeli bahan pangan, alih-alih membuka lahan untuk menanam jagung sebagai bahan membuat men men.

Kepala dusun Phu Tho, Hoang Van Si, mengatakan dusun tersebut kini memiliki 80 rumah tangga, termasuk 45 rumah tangga etnis Mong. Ia menyebut pada 2025 pendapatan rata-rata diperkirakan mencapai 47 juta VND per orang per tahun. “Mereka tidak hanya akan memiliki cukup makanan, tetapi sebagian besar rumah tangga juga akan memiliki tabungan,” katanya.

Perubahan itu juga dirasakan keluarga-keluarga etnis Mong yang bermigrasi dari provinsi Cao Bang lebih dari 40 tahun lalu. Dari yang awalnya tidak mengetahui cara membuat teh, mereka kini menguasai proses budidaya hingga pengolahan, mulai dari memilih bibit, teknik penanaman, perawatan, panen, sampai pengolahan, dan disebut mampu menghasilkan teh berkualitas tinggi.

Perjalanan menjadikan teh sebagai tanaman ekonomi utama berlangsung panjang. Sejumlah generasi petugas pertanian dari tingkat provinsi datang memberi bimbingan langsung, dukungan modal dan benih, pendampingan ilmiah dan teknis, serta bantuan peralatan pengolahan teh. Seiring musim panen, keterampilan dan pengalaman warga meningkat, dan mereka menjadi lebih proaktif dalam budidaya.

Pada 2010, mengikuti arahan petugas penyuluhan pertanian, warga mulai mengganti kebun teh lama dengan varietas baru, terutama LDP1 dan TRI 777. Pada periode yang sama, luas tanam juga bertambah. Hingga kini, penduduk dusun Phu Tho telah menanam lebih dari 35 hektare teh, dengan hasil stabil sekitar 95 kuintal pucuk teh segar per hektare per tahun.

Investasi perawatan dan irigasi menjadi salah satu kunci menjaga produktivitas, termasuk saat musim dingin. Ly Van Thanh, petani teh berpengalaman di dusun itu, menuturkan ia pernah menginvestasikan 13 juta VND untuk sistem irigasi, dengan dukungan pemerintah sebesar 50% dari pendanaan. Dengan irigasi dan perawatan teknis, keluarganya memanen sekitar 10 ton daun teh segar per tahun dari hampir 5.000 meter persegi lahan.

Menjelang musim dingin, udara di lembah pegunungan Phu Tho semakin menusuk. Namun sejumlah kebun teh tetap menghasilkan pucuk, terutama yang didukung irigasi dan perawatan proaktif. Selain keluarga Thanh, terdapat keluarga Hoang Van Dung, Do Van Kien, serta lima keluarga lain yang memasang sistem irigasi untuk mempertahankan budidaya teh pada musim dingin.

Di sisi lain, tidak semua kebun memiliki akses air. Sung Van Ly menyebut kebunnya jauh dari sumber air dan belum sempat memasang irigasi. Meski begitu, ia mengandalkan perawatan untuk menjaga panen. Dengan luas kebun hampir 2.000 meter persegi, ia mengaku dapat memanen tujuh kali setahun dan menghasilkan lebih dari 100 juta VND per tahun.

Dalam keseharian, pengetahuan teknis juga tersebar melalui peran sejumlah keluarga yang telah lama menekuni teh, seperti Ha Quoc Viet, Ha The Dan, dan Nguyen Van Quynh, yang disebut aktif berbagi pemahaman ilmiah dan teknis kepada warga lain. Sementara itu, beberapa rumah tangga memiliki kebun yang lebih luas, seperti keluarga Hoang Thi Hoa dan Duong Van Xuan yang masing-masing memiliki lebih dari 5.000 meter persegi lahan teh.

Mayoritas rumah tangga menjual daun teh segar ke fasilitas pengolahan lokal. Harga mengikuti pasar, sekitar 20.000 VND per kilogram saat panen melimpah dan dapat mencapai 50.000 VND per kilogram pada periode puncak. Bagi banyak warga, perubahan paling terasa adalah meningkatnya rasa aman dalam memenuhi kebutuhan dasar. Mereka menyebut sejak menekuni teh, keluarga tidak lagi khawatir kekurangan beras, anak-anak tidak kekurangan pakaian saat cuaca dingin, dan banyak rumah tangga memiliki perangkat rumah tangga seperti TV, lemari es, mesin cuci, serta penanak nasi listrik, juga telepon seluler yang dibawa ke mana pun.

Praktik kerja di dusun itu pun mengikuti perkembangan teknologi. Ketika kebun siap panen dan membutuhkan pemetik, informasi dibagikan lewat Zalo atau Facebook. Keesokan paginya, pemetik sudah menunggu di tepi kebun. Setelah penimbangan, pembayaran dilakukan dengan kartu sehingga tidak perlu uang tunai.

Di dusun tersebut, disebut hanya ada dua tempat yang memproses teh secara berkelanjutan, yakni Koperasi Teh Aman Phu Do dan koperasi produksi teh organik. Keberadaan keduanya menarik banyak pemilik kebun untuk bergabung, sekaligus menjadi wadah warga untuk bertemu, berinteraksi, dan saling berbagi pengalaman dalam memproduksi teh yang aman dan berkualitas tinggi, serta membangun merek produk mereka.