Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Raja Ampat menggelar pelatihan pembuatan mie sagu di Kampung Saporkren, Kamis (23/7/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sekaligus mendorong pemanfaatan pangan lokal, khususnya sagu.
Pelatihan dipandu Ketua Asosiasi Nusantara UMKM Papua Barat Daya sekaligus pemilik UMKM Pauwbili, Jhony Weinand Dawan. Ia didampingi asistennya, Ester Sudarmi, yang membimbing peserta mulai dari pencampuran adonan tepung sagu, proses pengolahan, hingga pengeringan mie sebelum dijemur di bawah sinar matahari.
Peserta pelatihan merupakan perwakilan ibu-ibu pelaku usaha dari sejumlah kampung di Kabupaten Raja Ampat. Untuk memudahkan proses belajar, peserta dibagi ke dalam empat kelompok. Setiap kelompok mempraktikkan pembuatan mie sagu dengan varian berbeda, yakni original, wortel, pakcoy, dan buah naga. Selama kegiatan berlangsung, suasana pelatihan terlihat interaktif dengan peserta yang aktif mengikuti setiap tahapan dan bekerja sama menyelesaikan praktik.
Salah seorang peserta, Mama Bersemina Mambrasar yang juga Sekretaris Kampung Saporkren, mengatakan pelatihan tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengolah sagu menjadi mie. Ia menilai pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan kepada warga lain di kampungnya.
“Saya sangat senang karena ini pertama kalinya ada pelatihan membuat sagu menjadi mie. Ilmu yang kami dapat hari ini akan kami bawa pulang dan ajarkan kembali kepada ibu-ibu di Kampung Saporkren agar semakin banyak masyarakat yang bisa mengolah sagu menjadi produk bernilai ekonomi,” ujarnya.
Di sela kegiatan, Jhony menyampaikan apresiasi kepada DPMK Raja Ampat yang menghadirkan pelatihan berbasis potensi lokal. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi langkah penting untuk mendorong lahirnya inovasi UMKM berbahan baku sagu, yang merupakan salah satu pangan khas Papua.
Jhony mengatakan ia membagikan pengetahuan dan teknik yang dimilikinya kepada peserta agar mereka dapat mengembangkan usaha secara mandiri dan menghadirkan produk unggulan dari daerah masing-masing.
“Saya bangga melihat semangat para peserta. Semua ilmu yang saya miliki saya berikan tanpa ada yang disembunyikan, karena saya berharap ibu-ibu dari enam kampung ini bisa berhasil mengolah sagu menjadi mie, menciptakan produk khas Papua yang berkualitas, dan pada akhirnya mampu meningkatkan ekonomi keluarga maupun kampungnya,” tutur Jhony.
Ia juga berharap pelatihan tidak berhenti pada kegiatan semata, melainkan menjadi awal munculnya pelaku-pelaku UMKM baru yang menghadirkan inovasi kuliner berbahan dasar sagu. Menurutnya, mie sagu berpeluang dipasarkan di homestay maupun destinasi wisata di Raja Ampat sebagai sajian khas bagi wisatawan.
“Kalau mie sagu ini nantinya bisa masuk ke homestay-homestay di Raja Ampat, para wisatawan akan mengenal kuliner khas Papua. Dampaknya bukan hanya memperkenalkan sagu sebagai pangan lokal, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat kampung,” pungkasnya.
Pelatihan ditutup dengan makan bersama menggunakan mie sagu hasil olahan para peserta dalam berbagai varian. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan potensi sagu untuk diolah tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga dikembangkan menjadi produk kuliner modern yang memiliki nilai jual.