Menjelang bulan suci Ramadan yang tinggal beberapa pekan lagi, persiapan puasa dinilai tidak cukup hanya dari sisi mental dan spiritual. Kesiapan fisik juga perlu diperhatikan agar ibadah dapat dijalani dengan bugar tanpa mengganggu produktivitas harian.
Dalam siaran Dialog Kesehatan Pro 1 RRI Purwokerto, Selasa, 20 Januari 2026, dr. Choirul Mufied menekankan pentingnya masa transisi sebelum memasuki perubahan pola makan selama sebulan penuh. Ia menyebut tantangan utama saat berpuasa antara lain risiko dehidrasi serta perubahan jam biologis tubuh, sehingga penyesuaian sebaiknya dilakukan sejak dini.
Menurut dr. Mufied, salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengurangi porsi camilan di antara waktu makan besar, sekaligus memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi. Ia menyarankan konsumsi air putih minimal 2 liter per hari dengan pola dicicil.
Selain itu, ia menganjurkan masyarakat mulai mengatur jam tidur dengan membiasakan tidur lebih awal. Tujuannya agar saat harus bangun untuk sahur, tubuh tidak mengalami defisit tidur yang ekstrem.
Bagi penikmat kopi dan perokok, dr. Mufied juga menyarankan pengurangan konsumsi secara bertahap. Ia bahkan menilai puasa dapat dimanfaatkan sebagai terapi untuk berhenti merokok.
Menjelang puasa, dr. Mufied turut mengingatkan pentingnya memeriksa kondisi kesehatan atau melakukan medical check-up, terutama bagi penderita penyakit degeneratif seperti diabetes atau hipertensi. Ia menyarankan konsultasi dengan dokter untuk menyesuaikan jadwal minum obat selama berpuasa.
Di sisi lain, aktivitas fisik tetap dianjurkan. Dr. Mufied menyarankan olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang agar massa otot terjaga dan metabolisme tetap baik.
Ia juga mengingatkan agar pola makan tetap dijaga saat Ramadan berlangsung. Kebiasaan mengonsumsi makanan terlalu manis atau berlemak secara berlebihan saat berbuka dapat memicu gangguan pencernaan serta kenaikan berat badan yang tidak sehat.

