BERITA TERKINI
Mengolah Sampah Organik Dapur di Lahan Terbatas: Pilihan Metode dan Cara Mencegah Bau

Mengolah Sampah Organik Dapur di Lahan Terbatas: Pilihan Metode dan Cara Mencegah Bau

Mengolah sampah organik dapur di rumah dengan lahan terbatas kian relevan bagi warga perkotaan yang ingin menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menekan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisa sayuran, kulit buah, hingga nasi sisa dapat dikelola mandiri agar tidak sekadar berakhir di tempat sampah, melainkan diubah menjadi nutrisi bagi tanah. Dengan teknik yang tepat, proses penguraian bisa dilakukan secara higienis dan tanpa bau menyengat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLH Klaten, Jawa Tengah, Waluyo (56), menekankan pentingnya pengelolaan dari hulu atau tingkat rumah tangga. “Harapannya persentase sampah organik yang terbuang ke TPA sudah menurun karena upaya pengelolaan di hulu atau di tingkat rumah tangga,” ujarnya. Sejumlah metode seperti biopori, Losida, komposter, hingga jogangan kini banyak dimodifikasi agar cocok untuk rumah petak maupun apartemen, dengan memanfaatkan ruang sempit dan wadah tertutup.

Biopori untuk sudut rumah yang masih memiliki akses tanah

Biopori kerap dianggap membutuhkan halaman luas, padahal satu sudut kecil di teras yang masih menyentuh tanah sudah cukup. Selain membantu mengolah sampah, biopori juga berfungsi sebagai lubang resapan air hujan untuk mengurangi genangan.

Waluyo menyebut efektivitas biopori dipengaruhi dimensi lubang. “Itu ideal minimal punya tiga lubang lah. Panjangnya diusahakan minimal untuk 50 sampai 60. Lebih panjang lebih bagus. Kalau lebih dalam itu kan mungkin satu bulan baru penuh,” katanya.

Langkah dasar yang disebutkan dalam panduan ini antara lain menyiapkan pipa PVC (paralon) berdiameter 10 cm dengan panjang minimal 60–100 cm, melubangi sekeliling pipa, lalu memasangnya pada tanah yang telah digali sesuai ukuran. Sampah organik dapur dimasukkan secara rutin. Setelah penuh, proses alami dibiarkan berlangsung hingga menjadi kompos dalam kisaran 2–3 bulan.

Bagi rumah yang halamannya sudah disemen, Waluyo menyatakan biopori tetap memungkinkan. “Kalau sudah dibeton, bisa dibor, yang penting paralon biopori itu masuk ke tanah. Tanah sangat membantu untuk bakteri yang ada di tanah untuk pengurainya,” ujarnya.

Losida (Lodong Sisa Dapur) untuk rumah tanpa lahan tanah

Untuk hunian yang tidak memiliki lahan tanah sama sekali, Losida menjadi alternatif. Metode ini mengadaptasi konsep biopori dengan bantuan ember atau wadah berisi tanah, sehingga dapat ditempatkan di balkon atau area sempit seperti ruang cuci.

Menurut Waluyo, kunci Losida adalah keberadaan media tanah sebagai tempat mikroba bekerja. “Losida itu konsepnya kan misalnya kita dengan ember. Yang penting ember itu sudah diisi tanah dulu sebelum ada penanaman losidanya. Di bawahnya harus lapisan tanah dulu,” jelasnya.

Cara membuatnya meliputi penggunaan ember bekas cat atau wadah plastik yang bagian bawahnya dilubangi, menempatkannya di area teduh, lalu memasukkan pipa paralon berlubang (lodong) di tengah ember yang sudah berisi tanah. Sampah dapur dimasukkan ke dalam lodong, sementara nutrisi meresap ke tanah di sekelilingnya yang dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman hias atau sayuran.

Komposter ember tumpuk untuk menghasilkan pupuk cair

Bagi rumah tangga yang menargetkan pupuk organik cair (POC), sistem komposter ember tumpuk disebut sebagai pilihan yang direkomendasikan. Metode ini memisahkan limbah padat dan cairan lindi hasil pembusukan.

Waluyo menilai sistem komposter ideal untuk rumah tangga kecil karena memungkinkan sisa makanan, sayuran, dan kulit buah ditangani di rumah tanpa menumpuk di tempat sampah luar yang berisiko mengundang lalat atau diacak hewan.

Sejumlah keunggulan yang dicatat antara lain wadah tertutup rapat sehingga lebih higienis, menghasilkan kompos padat dan pupuk cair sekaligus, serta dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan pembalikan sampah sesering metode kompos konvensional.

Jogangan versi mini di taman kecil

Jogangan secara tradisional dikenal sebagai lubang sampah di halaman belakang. Pada lahan terbatas, konsep ini dapat dimodifikasi menjadi lubang tanam sementara di area taman kecil, lalu ditutup kembali setelah penuh.

Waluyo menggambarkan prosesnya sebagai siklus yang terus berulang. “Nanti kalau sudah berumur bawah sampai jadi kompos bener kan pasti longgar, pasti turun semua karena sudah terurai kan. Itu tinggal masukin lagi masukin lagi itu saja,” katanya.

Langkah yang disarankan antara lain menggali lubang di antara tanaman dengan kedalaman minimal 30 cm, memasukkan sampah dapur setiap hari, lalu menutupnya tipis dengan tanah setiap kali selesai agar tidak mengundang lalat. Saat lubang penuh, proses dipindahkan ke titik lain; area pertama kemudian menjadi tanah yang lebih subur untuk penanaman.

Strategi mencegah bau saat mengolah sampah dapur

Bau tidak sedap umumnya muncul ketika sampah terlalu basah atau kekurangan oksigen. Karena itu, keseimbangan unsur karbon dan nitrogen perlu dijaga. Bila sampah dapur cenderung basah (nitrogen tinggi), dapat ditambah bahan kering seperti potongan kardus bekas atau sekam. Aktivator seperti EM4 atau air cucian beras juga disebut membantu mempercepat penguraian.

Beberapa langkah praktis yang ditekankan meliputi mencincang sampah agar cepat terurai, meniriskan sisa makanan agar tidak berkuah, melapisi dengan bahan kering seperti sekam atau serbuk gergaji untuk menyerap kelembapan, menyemprot aktivator (EM4 atau air cucian beras), serta menutup rapat tumpukan dengan tanah atau kain penutup agar tidak dihinggapi lalat.

Catatan jenis sampah dan waktu penguraian

Dalam panduan ini, sisa daging, tulang, minyak goreng, dan kotoran hewan disebut sebaiknya dihindari untuk komposter karena berpotensi mengundang hama dan memunculkan bau tajam. Lama penguraian bergantung metode: biopori dan Losida umumnya memerlukan 1–3 bulan, sementara penggunaan aktivator dapat mempercepat proses menjadi sekitar 2–4 minggu.

Jika komposter dipenuhi ulat atau belatung, disebutkan bahwa belatung (BSF) sebenarnya membantu penguraian. Namun, bila mengganggu, kelembapan dapat dikurangi dengan menambah bahan kering seperti sekam atau serbuk gergaji, atau menambahkan sedikit kapur sirih. Sementara bila kompos berbau busuk, itu menandakan sampah terlalu basah dan perlu ditambah unsur “cokelat” seperti daun kering atau potongan koran serta diaduk untuk memberi ruang oksigen.