BERITA TERKINI
Dokter Gizi Ingatkan Risiko Diabetes pada Anak, Orang Tua Diminta Perkuat Pola Makan dan Aktivitas

Dokter Gizi Ingatkan Risiko Diabetes pada Anak, Orang Tua Diminta Perkuat Pola Makan dan Aktivitas

Menjaga kesehatan anak di tengah gaya hidup modern menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Maraknya jajanan tinggi gula serta kemudahan memesan makanan cepat saji membuat pola makan anak rentan tidak seimbang. Di sisi lain, aktivitas fisik juga cenderung menurun karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar gawai, yang kerap disertai pola tidur tidak teratur.

Praktisi kesehatan dr. Diana Suganda, SpGK, menilai pergeseran gaya hidup ikut mendorong meningkatnya risiko gangguan metabolisme pada usia muda. Ia menyebut kondisi seperti prediabetes dan diabetes tipe 2 kini tidak lagi identik dengan orang dewasa. “Lifestyle sudah berubah, makan siap saji yang tidak fokus ke gizinya, kurang gerak atau mageran, hingga stresor tinggi membuat risiko kesehatan meningkat,” ujarnya dalam sebuah acara di Tangerang Selatan.

Menurut dr. Diana, kombinasi kebiasaan sehari-hari dapat menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai orang tua. Beberapa di antaranya adalah konsumsi makanan ultra-processed secara berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan begadang, serta tingkat stres yang tinggi. Kebiasaan tersebut dapat berdampak pada sensitivitas insulin dan memicu penumpukan lemak, sehingga pencegahan perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Dalam hal pola makan, salah satu kendala yang sering dihadapi adalah anak yang pilih-pilih makanan atau picky eating. Kondisi ini kerap membuat orang tua akhirnya memberi makanan yang disukai anak, seperti mi instan atau gorengan, agar anak mau makan. Namun, membiarkan anak hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu dalam jangka panjang berisiko mengganggu keseimbangan asupan gizi.

Dr. Diana mendorong orang tua tetap mengenalkan ragam makanan secara bertahap, termasuk sayuran, buah, dan sumber protein. Proses penyesuaian rasa membutuhkan waktu agar anak terbiasa dengan makanan rumahan yang lebih sehat. Ia juga mengingatkan agar makanan manis tidak dijadikan hadiah atau alat menenangkan anak saat rewel, karena dapat membentuk anggapan bahwa gula merupakan sumber kenyamanan emosional.

Selain membiasakan pola makan, pengelolaan persediaan makanan di rumah dinilai berperan besar. Isi kulkas kerap mencerminkan pola makan keluarga: jika didominasi minuman manis dan makanan beku tinggi garam, anak cenderung memilih itu. Sebaliknya, ketersediaan bahan segar dapat membantu anak lebih mudah mengambil pilihan yang lebih sehat.

Beberapa bahan yang disarankan untuk tersedia di rumah antara lain potongan buah segar sebagai camilan, yoghurt tanpa pemanis, sumber protein seperti telur, susu, dan daging segar, serta sayuran yang siap diolah. Dengan cara ini, anak lebih terbiasa memilih makanan alami atau real food tanpa harus selalu dihadapkan pada larangan.

Di luar pola makan, pembatasan waktu layar juga menjadi perhatian. Anak yang terlalu lama bermain gim atau menonton video cenderung lebih pasif dan sering disertai kebiasaan ngemil. Kurangnya pergerakan dapat memperlambat pembakaran energi dan berisiko mengganggu kerja hormon insulin. Orang tua disarankan mendorong anak tetap aktif, misalnya bersepeda, berenang, atau berjalan santai bersama keluarga.

Pembatasan waktu layar juga berkaitan dengan kualitas tidur. Tidur yang cukup dianggap penting karena kurang tidur dapat memengaruhi nafsu makan dan metabolisme. Karena itu, perbaikan rutinitas harian perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada satu aspek.

Dr. Diana turut menekankan pentingnya konsep mindful eating dalam pencegahan. Ia menilai pencegahan diabetes bukan berarti melarang total makanan favorit anak, termasuk jajanan manis. Larangan yang terlalu ketat justru berisiko memicu anak makan sembunyi-sembunyi. Yang lebih penting adalah mengajarkan batasan, keseimbangan, serta kemampuan mengenali sinyal kenyang dan memahami porsi yang wajar.

Peran orang tua sebagai teladan juga dinilai krusial. Anak cenderung meniru kebiasaan di rumah, sehingga upaya membangun pola hidup sehat akan lebih efektif jika orang tua turut menjalankannya. Dr. Diana menyarankan kebiasaan sederhana seperti makan bersama tanpa gawai, membiasakan konsumsi sayur dan buah, menjaga pola tidur teratur, serta berolahraga bersama keluarga.

Pada akhirnya, upaya melindungi anak dari risiko diabetes berangkat dari penanaman kebiasaan sehat sejak dini. Fokusnya bukan semata membatasi gula, melainkan membangun hubungan yang lebih seimbang antara anak, pilihan makanannya, aktivitas fisik, dan rutinitas harian.