BERITA TERKINI
Disbudpar Berau Dorong Ancur Paddas Masuk Menu Hotel untuk Perkuat Wisata dan Warisan Kuliner

Disbudpar Berau Dorong Ancur Paddas Masuk Menu Hotel untuk Perkuat Wisata dan Warisan Kuliner

Aroma rempah dari semangkuk ancur paddas kerap menjadi penanda kuliner yang telah lama hidup di tengah masyarakat Berau. Kuahnya yang gurih dengan sentuhan pedas bukan hanya soal rasa, melainkan juga membawa ingatan tentang kebiasaan, tradisi, dan cerita yang diwariskan antargenerasi.

Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) mendorong agar kuliner tradisional tidak berhenti sebagai sajian dalam kegiatan budaya, tetapi juga mendapat ruang dalam perkembangan sektor pariwisata daerah. Salah satu langkah yang didorong adalah menghadirkan ancur paddas lebih dekat dengan wisatawan, termasuk melalui menu di hotel, resor, dan cottage.

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, menilai ancur paddas memiliki keterikatan kuat dengan identitas masyarakat Berau. Hal itu, menurutnya, menjadi modal budaya untuk memperkenalkan kuliner tersebut lebih luas.

“Ancur paddas ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kuliner Berau,” kata Yudha usai Festival Kue Tradisional Berau, Rabu, 23 September 2026, di Lapangan Pemuda, Tanjung Redeb.

Yudha mengatakan, daya tarik makanan tradisional tidak hanya terletak pada cita rasa, melainkan juga cerita, sejarah, dan nilai budaya yang menyertainya. Karena itu, ia menilai pengembangan ancur paddas tidak cukup jika hanya ditampilkan dalam festival atau perlombaan. Kreativitas diperlukan agar makanan tersebut dapat diterima di berbagai ruang, termasuk melalui pengembangan tampilan, cita rasa, maupun teknik penyajian.

Meski demikian, Yudha menekankan inovasi tetap perlu memperhatikan karakter asli ancur paddas sebagai kuliner tradisional Berau. Menurutnya, ketika wisatawan mengetahui latar belakang sebuah makanan, pengalaman yang mereka peroleh menjadi lebih utuh.

“Yang kita jual bukan hanya makanannya. Ada cerita dan nilai budaya di baliknya. Ketika itu diketahui wisatawan, makanan bisa menjadi bagian dari pengalaman mereka selama berada di Berau,” ujarnya.

Gagasan tersebut kemudian diarahkan ke ruang-ruang yang lebih dekat dengan wisatawan. Disbudpar mendorong pelaku usaha akomodasi di Berau mulai mempertimbangkan kuliner lokal sebagai bagian dari menu yang ditawarkan. Ancur paddas, misalnya, dapat ditempatkan sebagai salah satu pilihan sarapan bagi tamu.

Dengan cara itu, wisatawan diharapkan bisa mengenal karakter Berau melalui makanan bahkan sebelum memulai perjalanan ke destinasi. Sebelum menikmati laut dan pulau-pulau di Maratua, menyusuri pesisir Biduk-Biduk, atau mengunjungi destinasi alam lainnya, pengalaman kuliner dapat menjadi pintu awal perkenalan dengan daerah.

Disbudpar juga memandang semakin sering kuliner tradisional hadir di ruang publik dan pariwisata, semakin terbuka kesempatan generasi muda untuk mengenal sekaligus meneruskan warisan kuliner daerah. Yudha berharap festival dan perlombaan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkreasi dan memperkenalkan makanan tradisional kepada khalayak yang lebih luas.

“Ke depan kami ingin promosi kuliner lokal semakin luas. Kegiatan seperti ini juga bisa dibuat lebih kreatif dan melibatkan lebih banyak masyarakat sehingga budaya kuliner Berau tetap hidup,” tuturnya.

Dorongan serupa disampaikan Wakil Bupati Berau, Gamalis. Ia menempatkan kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas daerah yang perlu mendapat ruang lebih besar, terutama agar generasi muda, pendatang, maupun wisatawan memiliki kesempatan mengenalnya secara langsung.

Salah satu gagasan yang ia sampaikan adalah memperluas penyajian kuliner lokal di sektor perhotelan. Gamalis berharap hotel-hotel di Berau tidak hanya menawarkan menu yang umum ditemukan wisatawan, tetapi juga memberi kesempatan kepada tamu untuk mencicipi makanan khas daerah.

“Ketika orang datang ke Berau, saya ingin mereka juga merasakan makanan khas kita. Jangan sampai mereka pulang tanpa mengenal kuliner daerah ini,” ujarnya.

Gamalis menilai penguatan kuliner tradisional memiliki dua sisi yang saling berkaitan. Di satu sisi, makanan khas menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya. Di sisi lain, pengembangannya dinilai dapat membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, ia meminta Disbudpar tidak berhenti pada promosi, tetapi turut mendorong pemberdayaan masyarakat agar kuliner tradisional dapat diproduksi secara berkelanjutan dan memiliki pasar yang lebih luas.

“Pemberdayaan masyarakat harus ikut didorong. Promosinya juga perlu diperkuat supaya makanan khas kita tidak hanya dikenal di dalam daerah,” katanya.

Selain ancur paddas, Gamalis juga melihat peluang memperluas penggunaan puncak rasul dalam berbagai kegiatan, seperti pelatihan, bimbingan teknis, agenda pemerintahan, maupun kegiatan masyarakat. Ia juga mengajak para content creator untuk ikut mengangkat kuliner khas Berau melalui konten kreatif di media sosial, sebagai jalur tambahan untuk memperkenalkan makanan tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kita punya banyak orang kreatif. Kuliner seperti ancur paddas bisa dikenalkan lewat konten yang menarik sehingga orang di luar Berau juga mengetahui bahwa kita memiliki makanan khas seperti ini,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Gamalis berharap berbagai kondisi yang dihadapi daerah tidak mengurangi ruang masyarakat untuk berkumpul, berkreasi, dan menjaga optimisme. “Situasi boleh berubah, tetapi semangat dan kebersamaan harus tetap kita jaga. Kita tidak boleh kehilangan harapan,” pungkasnya.