BERITA TERKINI
Dio Satya Paparkan Strategi Mengembangkan Bisnis Kuliner dari Malang hingga Puluhan Kota

Dio Satya Paparkan Strategi Mengembangkan Bisnis Kuliner dari Malang hingga Puluhan Kota

Pasar kuliner di Malang Raya terus menarik minat banyak pelaku usaha. Di antara para pengusaha yang merintis bisnis makanan, Dio Satya menjadi salah satu yang dinilai berhasil membangun pasar dan memperluas jangkauan usahanya. Pebisnis muda asal Malang ini kini telah mengembangkan bisnis kulinernya ke puluhan kota di Indonesia.

Dio mengatakan, langkah awalnya berbisnis kuliner bermula dari coba-coba. Ia mengawali usahanya dengan membuka Mie Setan di Jalan Bromo. Di luar perkiraannya, usaha tersebut ramai dan mendorongnya untuk membuka cabang di berbagai daerah. “Awalnya cuma iseng-iseng buka usaha Mie Setan di Jalan Bromo itu, nggak di sangka tiba-tiba rame, terus buka cabang-cabang,” ujarnya.

Saat ini, Dio menjalankan beberapa lini usaha, antara lain Mie Setan, Astep Bistro, Loteng Malang, Dialogi Café Pasuruan, hingga Gurih Malang. Seluruh unit bisnis tersebut berada di bawah naungan Enamsembilangrup. Ia menyebut, dari bisnis yang dirintisnya, omzet yang diperoleh bisa mencapai miliaran rupiah.

Dalam menentukan jenis usaha, Dio menekankan pentingnya membaca karakter lokasi dan melakukan riset pasar. Menurutnya, langkah itu membantu memastikan target konsumen yang dituju sesuai. “Kalo buka usaha itu, saya selalu lihat tempatnya dulu seperti apa lalu mikir cocoknya buat usaha apa,” katanya.

Ia mencontohkan Mie Setan yang telah ditekuni sejak 2011 dan kini memiliki 28 cabang di Indonesia. Dio menyebut, Mie Setan sejak awal menyasar pasar utama kalangan milenial. Sementara untuk usaha terbarunya, Gurih Malang, ia menargetkan kalangan pekerja serta mahasiswa kos.

Selain itu, Dio juga membangun Astep Bistro dan Loteng Malang yang dikemas sebagai café dan bar dengan segmentasi berbeda. Menurutnya, kedua tempat tersebut menyasar konsumen dewasa dan orang tua, namun tetap dapat dinikmati generasi muda. Ia menambahkan, karakter dan nuansa di masing-masing tempat juga dibuat berbeda. “Biasanya ya buat nongkrong anak muda bisa, ibu-ibu arisan juga banyak,” ujarnya.

Terkait strategi, Dio menilai keberanian untuk memulai menjadi hal utama. Ia menyebut, pelaku usaha perlu mencoba terlebih dahulu dan tidak semata-mata berfokus pada keuntungan di awal, meski ia mengakui bisnis yang dijalankan bisa mengalami pasang surut. “Coba dulu, jangan melihat untung. Untung bisa diakhir,” katanya.

Di sela kesibukannya, Dio juga menyempatkan diri menjalani hobi otomotif dengan bergabung dalam klub Ferrari.