Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pematangsiantar menggelar kegiatan Orientasi Tatalaksana Gizi Buruk bagi tenaga pengelola gizi puskesmas dan rumah sakit. Kegiatan tersebut menghadirkan dokter spesialis anak, dr Hj Susanti Dewayani SpA, sebagai narasumber.
Acara berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar, Selasa (28/07/2026). Dalam pemaparannya, dr Susanti menekankan bahwa penanganan gizi buruk memerlukan pendekatan menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pengobatan anak yang sudah mengalami gizi buruk, tetapi juga pencegahan agar kasus baru tidak muncul.
Ia menjelaskan, pemerintah menjalankan berbagai upaya melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan lintas sektor. Salah satu langkah utama adalah deteksi dini dan pemantauan pertumbuhan melalui penimbangan berat badan dan pengukuran panjang/tinggi badan secara rutin di posyandu, skrining lingkar lengan atas (LiLA/MUAC) untuk mendeteksi malnutrisi akut, serta pemantauan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) atau aplikasi pencatatan kesehatan.
Selain itu, dr Susanti memaparkan tata laksana pengobatan gizi buruk. Anak dengan gizi buruk tanpa komplikasi dapat dirawat jalan dengan pemberian makanan terapi siap saji (Ready-to-Use Therapeutic Food/RUTF) bila tersedia, atau makanan terapi sesuai pedoman. Sementara anak dengan komplikasi, seperti infeksi berat, dehidrasi, atau gangguan kesadaran, memerlukan perawatan di rumah sakit sesuai pedoman WHO dan Kementerian Kesehatan, termasuk penanganan penyakit penyerta seperti diare, pneumonia, tuberkulosis, malaria di daerah endemis, atau infeksi lainnya.
Langkah berikutnya mencakup pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal bagi balita kurang gizi dan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, disertai edukasi agar keluarga mampu menyediakan makanan bergizi seimbang menggunakan bahan pangan yang tersedia di daerah.
Dr Susanti juga menyoroti pentingnya perbaikan praktik pemberian makan bayi dan anak, mulai dari promosi ASI eksklusif selama enam bulan, melanjutkan ASI hingga usia dua tahun atau lebih, hingga pendampingan pemberian MPASI yang memadai dari sisi jumlah, kualitas, dan frekuensi.
Upaya lain yang disampaikan meliputi suplementasi gizi, seperti pemberian vitamin A dosis tinggi untuk balita sesuai jadwal nasional, tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, serta suplementasi zat gizi tertentu bila ada indikasi, misalnya zat besi atau seng.
Ia menambahkan, imunisasi dan pencegahan penyakit juga berperan penting melalui pemenuhan imunisasi rutin serta pencegahan dan pengobatan infeksi, mengingat infeksi berulang dapat memperburuk status gizi anak. Di sisi lain, perbaikan sanitasi dan akses air bersih diperlukan melalui penyediaan air minum aman, peningkatan sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pencegahan diare dan penyakit infeksi lainnya.
Menurutnya, edukasi kepada keluarga menjadi bagian penting, antara lain penyuluhan mengenai gizi seimbang, cara mengolah makanan bergizi dengan biaya terjangkau, serta pengenalan tanda bahaya gizi buruk agar keluarga segera mencari pertolongan. Intervensi sosial dan ekonomi juga disebut sebagai salah satu pendekatan, seperti bantuan sosial bagi keluarga miskin, program ketahanan pangan, serta kolaborasi dengan sektor pertanian, pendidikan, dan perlindungan sosial untuk mengatasi akar penyebab gizi buruk.
Dr Susanti turut menekankan perlunya surveilans dan evaluasi melalui pencatatan dan pelaporan kasus gizi buruk, investigasi bila ditemukan peningkatan kasus di suatu wilayah, serta evaluasi program untuk memastikan intervensi berjalan efektif.
Dalam pemaparannya, ia menyebut pemerintah memfokuskan upaya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun, sebagai masa krusial untuk mencegah gizi buruk dan stunting. Intervensi pada periode ini meliputi perbaikan gizi ibu hamil, pemeriksaan kehamilan rutin, ASI eksklusif, MPASI yang adekuat, imunisasi lengkap, serta pemantauan tumbuh kembang secara berkala.
“Dengan kombinasi intervensi kesehatan, gizi, sanitasi, dan perlindungan sosial, angka gizi buruk dapat ditekan secara lebih efektif dibandingkan jika hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan saja,” ujar dr Susanti.