BERITA TERKINI
Di Davos, Prabowo Tekankan Stabilitas Indonesia Berasal dari Pilihan Persatuan dan Kolaborasi

Di Davos, Prabowo Tekankan Stabilitas Indonesia Berasal dari Pilihan Persatuan dan Kolaborasi

DAVOS — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa stabilitas dan perdamaian yang dinikmati Indonesia saat ini bukan terjadi karena kebetulan. Di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku ekonomi global, ia menegaskan stabilitas tersebut merupakan hasil dari komitmen politik untuk menjaga persatuan dan mengedepankan kerja sama.

Berbicara sebagai pembicara kunci dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos Klosters, Swiss, Rabu (22/1/2026), Prabowo mengatakan Indonesia secara konsisten memilih persatuan di atas fragmentasi, serta persahabatan dan kolaborasi di atas konfrontasi.

“Perdamaian dan stabilitas di negara saya tidak terjadi karena keberuntungan,” ujar Prabowo. “Itu terjadi karena kami, Indonesia, telah dan akan selalu terus memilih persatuan di atas fragmentasi, persahabatan dan kolaborasi di atas konfrontasi.”

Dalam konteks situasi geopolitik global yang bergejolak, Prabowo menyampaikan pendekatan yang disebut sebagai Prabowonomics, yang memandang stabilitas sosial sebagai prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi untuk membangun kredibilitas, termasuk dengan terus mencari ruang pertemanan dan kerja sama di tengah meningkatnya permusuhan global.

Pernyataan Prabowo di Davos itu disebut sejalan dengan kondisi kohesi sosial di dalam negeri. Dalam laporan yang merujuk pada Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025, Indonesia mencatat skor 77,89, yang disebut sebagai angka tertinggi dalam 11 tahun terakhir sejak pengukuran dimulai pada 2015. Survei yang dilakukan Kementerian Agama bekerja sama dengan Universitas Indonesia tersebut juga menyoroti dimensi toleransi dengan skor 88,82.

Selain itu, Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB) 2025 tercatat sebesar 84,61 dan masuk kategori “Sangat Tinggi”. Indeks ini menggambarkan aspek solidaritas, etika sosial, dan kepedulian lingkungan di tengah masyarakat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai capaian itu bukan sekadar angka, melainkan panggilan moral agar agama berperan sebagai penuntun etis dalam kehidupan berbangsa. “Agama harus menjadi penuntun etis, kompas moral yang memberi arah di tengah disrupsi sosial, teknologi, dan budaya,” kata Nasaruddin dalam perilisan hasil survei tersebut.

Dalam agenda WEF 2026, Prabowo juga menyoroti komitmen pemerintahannya untuk memberantas kemiskinan ekstrem dan menurunkan angka kemiskinan dalam sisa masa jabatan empat tahun ke depan. Dalam pernyataannya pada Kamis, ia menyebut kemiskinan ekstrem di Indonesia telah turun ke tingkat terendah dalam sejarah.

“Saya bertekad dalam empat tahun ke depan, kita akan memberantas kemiskinan ekstrem, dan kita akan menurunkan kemiskinan secara keseluruhan. Itulah misi hidup saya,” tegasnya.

Prabowo menambahkan bahwa menurunkan kemiskinan dan mengakhiri kelaparan merupakan tugas yang paling mulia bagi seorang pemimpin, karena berkaitan dengan menghadirkan harapan bagi kelompok miskin dan rentan. Ia juga mengungkapkan masih banyak warga yang belum memiliki akses pada hunian layak dan kebutuhan dasar.

“Saya mengenal rakyat saya. Banyak dari mereka tinggal di gubuk. Banyak dari mereka tidak memiliki air bersih. Banyak dari mereka tidak memiliki kamar mandi. Banyak dari mereka makan nasi dengan garam. Namun mereka tetap tersenyum. Namun mereka tetap memiliki harapan,” ujarnya.

Pertemuan Tahunan WEF 2026 berlangsung pada 19–23 Januari dengan tema “Semangat Dialog”, mempertemukan pemimpin dunia, ekonom, akademisi, pakar, dan praktisi untuk membahas tantangan ekonomi global.