Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi langkah strategis untuk memperbaiki status gizi anak usia sekolah. Namun, agar dampaknya meluas dan berkelanjutan, pelaksanaannya perlu ditopang pendekatan komprehensif, terutama melalui edukasi gizi di tingkat keluarga.
Pandangan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, yang juga Guru Besar Kebijakan Kesehatan, saat ditemui pada Kamis, 9 Februari 2026.
Prof. Sukri menilai salah satu tantangan utama implementasi MBG adalah masih terbatasnya pemahaman orang tua dan peserta didik mengenai prinsip gizi seimbang. Kondisi ini membuat penilaian terhadap menu makanan kerap lebih menekankan jumlah porsi dan rasa, sementara kualitas bahan pangan serta kandungan nutrisinya kurang mendapat perhatian.
Ia juga mengingatkan risiko ketergantungan apabila anak hanya memperoleh asupan bergizi di sekolah, sedangkan pola konsumsi di rumah masih didominasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Menurutnya, tanpa perubahan perilaku makan di lingkungan keluarga, dampak positif program akan sulit dioptimalkan. “Program ini harus menjadi pemicu perubahan pola makan, bukan sekadar solusi sementara,” tegasnya.
Dari sisi teknis, Prof. Sukri menyoroti pentingnya standar distribusi, kebersihan, dan keamanan pangan. Ia menilai pengawasan ketat menjadi krusial, terutama di wilayah yang melibatkan dapur umum atau pelaku UMKM sebagai penyedia makanan. Tanpa kontrol mutu yang konsisten, risiko penurunan kualitas hingga masalah keamanan pangan dapat menghambat kepercayaan masyarakat terhadap program.
Selain aspek teknis, ia menilai masih ada persepsi keliru yang memandang MBG semata-mata sebagai bantuan sosial. Stigma tersebut, menurutnya, berpotensi melemahkan partisipasi masyarakat dan mengurangi rasa tanggung jawab kolektif dalam menjaga keberlanjutan program. Padahal, MBG semestinya dipahami sebagai investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Sukri menekankan perlunya strategi edukasi gizi yang partisipatif dan berkesinambungan. Edukasi dinilai perlu dilakukan secara luas melalui sekolah, posyandu, media sosial, hingga forum masyarakat, dengan materi yang sederhana dan mudah dipahami. Topik yang disarankan antara lain gizi seimbang, keamanan pangan, pentingnya sarapan sehat, serta pemilihan bahan makanan berkualitas.
Ia menilai keterlibatan orang tua menjadi kunci agar kebiasaan makan sehat di sekolah sejalan dengan pola konsumsi di rumah. Menurutnya, penyuluhan rutin, kelas parenting, atau forum diskusi keluarga perlu diperkuat untuk mendukung perubahan perilaku tersebut.
Prof. Sukri juga mendorong pemerintah dan tenaga kesehatan memberikan pelatihan kepada pengelola dapur dan pelaku UMKM, khususnya terkait standar kebersihan, keamanan pangan, serta inovasi menu bergizi berbasis pangan lokal. Ia menilai kampanye berbasis komunitas, seperti lomba kreasi menu sehat dari bahan pangan lokal, dapat menumbuhkan rasa memiliki dan partisipasi aktif masyarakat.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, Prof. Sukri menilai intervensi gizi efektif harus menyentuh hulu dan hilir. Penyediaan makanan bergizi di sekolah disebut sebagai intervensi langsung, sementara edukasi gizi keluarga menjadi penguat perilaku yang menentukan keberlanjutan dampak program. Tanpa sinergi keduanya, ia mengingatkan risiko “double burden of malnutrition” atau beban gizi ganda tetap mengintai.
Menurutnya, MBG juga berpotensi mendorong ketahanan pangan lokal. Dengan melibatkan petani, nelayan, dan UMKM setempat dalam rantai pasok, program dapat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, memastikan ketersediaan bahan pangan segar, serta bernilai gizi tinggi. Integrasi aspek kesehatan dan ekonomi ini dinilai dapat memperkuat daya tahan program dalam jangka panjang.
Prof. Sukri menegaskan, keberhasilan MBG tidak semata diukur dari jumlah porsi yang tersalurkan, melainkan dari perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap makanan sehat. Ia menutup dengan menekankan bahwa MBG tidak boleh dipahami hanya sebagai distribusi makanan, tetapi sebagai gerakan perubahan perilaku untuk menanamkan budaya makan sehat sejak usia dini.

