MAKASSAR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi besar meningkatkan status gizi anak. Namun, pelaksanaannya perlu disertai pendekatan komprehensif agar program dapat diterima masyarakat dan berkelanjutan. Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi.
Prof. Sukri menilai, salah satu tantangan dalam implementasi MBG adalah masih rendahnya pemahaman orang tua dan peserta didik mengenai pentingnya gizi seimbang. Akibatnya, penilaian terhadap menu MBG kerap lebih berfokus pada porsi dan cita rasa, bukan pada kualitas serta kandungan nutrisinya.
Ia juga mengingatkan risiko ketergantungan jika anak hanya memperoleh asupan bergizi di sekolah, sementara pola makan di rumah tetap didominasi konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak. Menurutnya, tanpa perubahan perilaku di tingkat keluarga, manfaat program tidak akan optimal.
Dari sisi teknis, Prof. Sukri menyoroti perlunya perhatian pada standar distribusi, kebersihan, dan keamanan pangan. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat, terutama di wilayah yang melibatkan pengelola dapur atau pelaku UMKM sebagai penyedia makanan, agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.
Selain itu, ia menilai program MBG berpotensi menghadapi stigma negatif jika dipandang sekadar sebagai bantuan sosial. Pandangan tersebut, kata dia, dapat melemahkan partisipasi masyarakat dan mengurangi komitmen bersama untuk mempertahankan program dalam jangka panjang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Sukri mendorong pendekatan edukatif yang partisipatif dan berkelanjutan. Edukasi gizi, menurutnya, perlu dilakukan secara masif melalui sekolah, posyandu, media sosial, serta forum masyarakat dengan materi sederhana dan mudah dipahami, mencakup konsep gizi seimbang, keamanan pangan, dan pentingnya sarapan sehat.
Ia menekankan keterlibatan orang tua sebagai faktor krusial. Penyuluhan rutin atau kelas parenting dinilai perlu dilakukan agar kebiasaan makan sehat di sekolah selaras dengan pola makan di rumah.
Prof. Sukri juga mendorong pemerintah dan tenaga kesehatan memberikan pelatihan kepada pengelola dapur dan UMKM terkait standar kebersihan, keamanan pangan, serta pengembangan variasi menu lokal bergizi. Ia menilai kampanye berbasis komunitas, seperti lomba menu sehat berbahan pangan lokal, dapat meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap program.
Menurut Prof. Sukri, MBG tidak seharusnya dipahami hanya sebagai distribusi makanan, melainkan sebagai gerakan perubahan perilaku untuk membangun budaya makan sehat sejak dini.

