Pemerintah Kota Da Nang menyiapkan langkah untuk menempatkan mi Quang sebagai “duta kuliner” daerah, menyusul pengakuan “Kearifan Lokal Mie Quang Nam” yang pada Agustus 2024 telah masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Pengakuan ini dinilai menjadi landasan bagi upaya pelestarian, penetapan subjek warisan, standarisasi produk, serta penghubung nilai budaya dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal.
Dalam kerangka Resolusi No. 80-NQ/TW dari Politbiro yang menekankan pemikiran inovatif dalam pengembangan budaya—termasuk industri dan jasa budaya—Da Nang memandang mi Quang bukan sekadar makanan, melainkan “aset simbolis” yang merepresentasikan nilai sejarah, pertanian tradisional, dan identitas masyarakat Vietnam Tengah.
Wakil Direktur Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Da Nang, Nguyen Thi Hoai An, menilai masuknya mi Quang dalam daftar warisan nasional sebagai langkah tepat untuk meningkatkan kesadaran publik. Ia menekankan pelestarian harus berangkat dari komunitas, terutama para penjaga tradisi. Karena itu, kota perlu meninjau dan membangun basis data pengrajin, keluarga yang memiliki tradisi panjang, fasilitas pengolahan, serta desa kerajinan tradisional. Pendataan tersebut dipandang penting untuk memperjelas pihak yang melestarikan, lokasi praktik, dan nilai inti yang perlu dijaga, didukung, serta dihormati.
Di sisi lain, upaya penguatan merek mi Quang disebut masih menghadapi sejumlah kendala. Ketua Asosiasi Budaya Kuliner Kota Da Nang, Ly Dinh Quan, menyoroti belum adanya standar mutu dan keamanan pangan yang seragam di antara pelaku usaha, ketiadaan identitas merek bersama yang mengikat secara hukum, belum tergarapnya segmen pasar kelas atas, serta hubungan yang masih terfragmentasi antara daerah penghasil bahan baku pertanian dengan restoran dan sektor wisata.
Dari perspektif pengembangan rantai nilai, salah satu pendiri Cathi Food Co., Ltd., Truong Van An, menekankan pentingnya penerapan teknologi pengolahan dan standarisasi rantai pasok. Menurutnya, pengembangan produk siap saji dalam kemasan—seperti mi kering, sachet kaldu pekat, dan bumbu—dapat mengoptimalkan suplai bahan baku dari desa kerajinan sekaligus menciptakan produk OCOP bernilai tinggi yang memenuhi standar ketat untuk ekspor dan suvenir wisata.
“Wisatawan yang mengunjungi Da Nang dapat dengan mudah menikmati semangkuk mie Quang segar yang hangat di warung makan lokal yang terkenal. Namun, bagi mereka yang ingin membelinya sebagai oleh-oleh atau menikmatinya di rumah di provinsi dan kota lain, produk siap saji dalam kemasan adalah solusi yang optimal…,” kata Truong Van An.
Da Nang juga menyatakan perlunya mengembangkan mi Quang dengan model “segitiga nilai”: budaya sebagai akar, pariwisata sebagai sarana penyebaran, dan ekonomi lokal sebagai fondasi keberlanjutan. Dalam konteks ini, mi Quang tidak hanya dipertahankan dalam bentuk tradisional, tetapi juga didorong untuk memiliki kreativitas yang fleksibel. Selain varian yang sudah dikenal—seperti ayam, udang dan babi, ikan gabus, serta katak—eksperimen bahan dan penggabungan pengaruh kuliner internasional dipandang dapat memperluas daya tarik, terutama bagi wisatawan muda dan pengunjung internasional.
Untuk menguatkan posisi mi Quang sebagai “duta kuliner”, Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Da Nang bersama Asosiasi Budaya Kuliner serta pelaku usaha menyiapkan serangkaian langkah yang menggeser pengalaman wisata dari sekadar “makan mi Quang” menjadi “mengalami budaya mi Quang”. Salah satu agenda utama adalah menyusun dan menerbitkan “Standar Mi Da Nang Quang” yang akan terkait dengan merek sertifikasi, dengan rujukan model sertifikasi seperti SELECT Thailand. Standar itu dirancang menilai asal bahan, teknik pengolahan tradisional, keamanan dan kebersihan makanan, gaya pelayanan, hingga kemampuan menyampaikan cerita budaya kepada wisatawan.
Penguatan juga direncanakan melalui infrastruktur digital, antara lain pembuatan peta kuliner digital, digitalisasi pelacakan asal bahan menggunakan kode QR, serta promosi di platform media multibahasa.
Dari sisi pariwisata, Nguyen Thi Hoai An menyebut Da Nang tidak ingin berhenti pada popularitas mi Quang sebagai jajanan kaki lima, tetapi juga memperkenalkannya ke khalayak yang lebih luas. Industri pariwisata kota berkoordinasi dengan maskapai seperti Vietnam Airlines dan Vietjet Air untuk memasukkan mi Quang dalam layanan penerbangan. Selain itu, pada festival dan acara internasional besar di Da Nang—seperti Festival Kembang Api Internasional Da Nang (DIFF) maupun konferensi diplomatik—stan yang menampilkan seni pembuatan mi Quang ditempatkan di lokasi strategis.
Ia menambahkan, mi Quang sudah akrab bagi wisatawan domestik, tetapi untuk wisatawan internasional pengenalannya belum setingkat pho. Meski demikian, Da Nang menilai mi Quang memiliki ruang dan potensi untuk memperkuat posisinya. Dalam persaingan destinasi wisata, termasuk di tingkat Asia Tenggara, kuliner dipandang sebagai ujung tombak untuk membangun keunggulan yang berbeda.
Rencana tersebut akan diarahkan melalui “Proyek Membangun dan Mengembangkan Merek Mie Quang Da Nang untuk periode 2026–2030”. Pemerintah kota menyebut dukungan asosiasi, pelaku pengolahan, serta komunitas desa kerajinan menjadi faktor penting agar mi Quang tidak hanya bertahan sebagai hidangan khas, tetapi juga menguat sebagai identitas budaya yang berkontribusi pada promosi budaya Vietnam melalui pariwisata dan kuliner.