Pasuruan—Di tengah upaya Indonesia memprioritaskan perbaikan gizi dan penurunan stunting, akses terhadap pangan bergizi dengan harga terjangkau dinilai tetap krusial. Di Jawa Timur, Cargill menyatakan berkontribusi melalui sejumlah program terintegrasi yang menargetkan perluasan akses gizi, layanan kesehatan, air bersih, serta penguatan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat sekitar wilayah operasionalnya.
Merujuk Resilient Food Systems Index (RFSI), riset Economist Impact yang didukung Cargill, Indonesia berada di peringkat ke-29 dari 60 negara dengan skor keseluruhan 66.522. Indeks tersebut menggambarkan fondasi yang kuat pada aspek keterjangkauan pangan dan akses nutrisi, namun masih mencatat kesenjangan pada ketersediaan pangan dan ketahanan sistem pangan. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan cara pangan diproduksi, didistribusikan, dan diakses di tingkat masyarakat.
Yusuf Ronzy, Director, Plant Management, Food Southeast Asia, Australia and New Zealand, mengatakan akses gizi merupakan hal mendasar untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan membangun sistem pangan yang tangguh. Ia menyebut indeks tersebut memperlihatkan penguatan sistem pangan memerlukan aksi di sepanjang rantai nilai, dari produksi hingga konsumsi, yang kemudian diterjemahkan Cargill ke dalam program berbasis masyarakat, terutama di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Di Gresik, Cargill mendukung inisiatif “Laskar Cegah Stunting” di Kecamatan Manyar melalui kerja sama dengan otoritas kesehatan setempat, sekolah, organisasi masyarakat, pemangku kepentingan desa, serta pihak terkait lain di enam desa. Program ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam pencegahan stunting melalui edukasi kesehatan ibu, pemberian ASI, gizi anak, dan perkembangan anak usia dini.
Dalam pelaksanaannya, kader kesehatan lokal dilatih untuk mendukung edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang anak, serta deteksi dini masalah pertumbuhan. Program ini juga mencakup Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan kelas edukasi rutin bagi kelompok rentan, khususnya bayi dan anak berisiko stunting.
Untuk meningkatkan kesadaran publik, program tersebut mengembangkan materi edukasi dan komunikasi perubahan perilaku, antara lain flipchart edukasi gizi, video edukasi, dan bahan sosialisasi yang menyoroti pemberian ASI, gizi ibu, pencegahan anemia pada remaja putri, serta pertumbuhan anak yang sehat. Kegiatan sosialisasi interaktif melibatkan orang tua, remaja, siswa PAUD, dan ibu menyusui melalui sesi pembelajaran yang ditujukan untuk membangun kebiasaan hidup lebih sehat dan meningkatkan kesadaran gizi di tingkat rumah tangga.
Hj. Nur Cholilah, kader Laskar Cegah Stunting di Desa Pegaden, Gresik, menyebut pelatihan yang diterima kader membantu mereka mendampingi ibu-ibu lain. Ia juga mengatakan para kader ikut mendukung kelas menyusui, kegiatan parenting bersama Posyandu, serta rembuk cegah stunting untuk mengenali masalah dan menyepakati langkah penanganan di tingkat desa.
Sementara di Kabupaten Pasuruan, program Cargill berfokus pada dukungan akses layanan kesehatan, pemberian gizi tambahan, akses air bersih, dan kesehatan preventif bagi masyarakat rentan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Melalui kemitraan dengan puskesmas setempat dan pemangku kepentingan desa, Cargill mendukung klinik kesehatan masyarakat di Desa Kepulungan dan Desa Ngerong yang melayani ratusan warga setiap bulan. Layanan yang disebutkan mencakup konsultasi kesehatan, pemeriksaan medis, obat-obatan, vitamin, serta rujukan bila diperlukan. Selain itu, Cargill juga mendukung pemantauan kesehatan dan gizi bagi bayi, remaja, ibu hamil, dan lansia di berbagai dusun di Pasuruan, yang dilaporkan memberi manfaat kepada lebih dari 440 anak dan lebih dari 400 lansia.
Dalam kegiatan peringatan World Food Day dan World Egg Day, Cargill mendorong edukasi gizi dan mendistribusikan pangan kaya protein seperti telur, tempe, dan susu kedelai yang berasal dari UMKM lokal. Program ini disebut menjangkau lebih dari 1.000 penerima manfaat sepanjang tahun 2025, termasuk bayi, ibu hamil, dan lansia.
Di bidang akses air bersih, Cargill mendukung pembangunan tujuh sumur dalam (deep-well) di Pasuruan yang diklaim bermanfaat bagi lebih dari 10.000 warga. Perusahaan juga menyediakan pelatihan kewirausahaan, dukungan literasi keuangan, pendampingan pengembangan produk, dan peluang akses pasar bagi UMKM yang dipimpin perempuan, sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan mata pencaharian berkelanjutan.
Sudarti, Koordinator Griya UMKM dari Desa Ngerong, Pasuruan, mengatakan dukungan Cargill membantu pelaku usaha dalam pengurusan NIB, sertifikasi halal, SPP-IRT, pelatihan digital marketing, serta pengembangan kemasan. Menurutnya, usaha yang sebelumnya belum memiliki legalitas dan kemasan standar kini menjadi lebih siap bersaing dan berkembang.
Yusuf menambahkan bahwa membangun sistem pangan yang tangguh memerlukan kolaborasi lintas sektor dan aksi nyata di lapangan. Ia menyebut Cargill berupaya memperluas akses pangan bergizi serta mendukung masyarakat yang lebih kuat dan lebih sehat melalui kerja sama dengan masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra.

