Demam berdarah dengue (DBD) kerap ditemukan di wilayah tropis dan umumnya meningkat saat musim hujan yang lembap. Untuk mengantisipasi risiko penularan, masyarakat perlu memahami penyebab, gejala, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan rumah.
DBD merupakan penyakit akibat virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini berciri warna hitam dengan bercak putih pada tubuhnya, dan umumnya menggigit pada pagi serta sore hari.
Virus dengue masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk. Pada sejumlah kasus, infeksi dapat menyebabkan kebocoran pembuluh darah yang berisiko mengancam nyawa.
Gejala demam berdarah
Gejala DBD dapat dikenali melalui beberapa tanda berikut, yang dapat menjadi alasan untuk segera memeriksakan diri lebih lanjut.
1. Suhu tubuh naik
Demam tinggi menjadi gejala yang umum muncul. Pada anak-anak, demam dapat terjadi beberapa hari, turun, lalu naik kembali. Demam biasanya berlangsung sekitar tiga hari dengan suhu mencapai 39–40 derajat Celcius dan dapat sulit turun meski sudah mengonsumsi obat penurun panas.
2. Seluruh tubuh lemas
Penderita dapat mengalami tubuh lemas, tampak pucat, ujung jari dan tangan terasa dingin, serta denyut nadi cepat dan kecil. Kondisi ini disebut dapat berkaitan dengan syok akibat pendarahan atau perpindahan plasma, sehingga penderita merasa tidak bertenaga bahkan untuk duduk atau berdiri.
3. Mual dan muntah
Gangguan pencernaan sering muncul pada fase awal infeksi. Mual disertai muntah dapat membuat penderita sulit makan dan minum, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi bila asupan cairan tidak tercukupi.
4. Nyeri perut berlebih
Nyeri perut hebat dapat menjadi tanda penyakit memasuki fase kritis. Nyeri biasanya terasa di ulu hati atau menyebar di perut. Jika gejala ini muncul, diperlukan pengawasan tenaga medis.
5. Pendarahan terlihat
Tanda pendarahan dapat berupa gusi berdarah atau darah pada area mulut, mimisan, melena (tinja berwarna hitam yang mengindikasikan pendarahan saluran cerna), hingga darah dalam urine (hematuria).
6. Pendarahan tidak terlihat (petekie)
Petekie ditandai bintik atau ruam merah pada kulit. Salah satu cara membedakannya dengan gigitan nyamuk biasa adalah dengan menekan bintik tersebut. Jika bintik tidak hilang saat ditekan, kondisi itu dapat mengarah pada pendarahan pada DBD.
Tips mencegah demam berdarah dengan 3M Plus
Pencegahan DBD menekankan pemutusan rantai penularan melalui pemberantasan sarang nyamuk. Upaya ini disebut akan lebih efektif bila dilakukan bersama-sama oleh warga di lingkungan permukiman.
1. Pemberantasan sarang nyamuk (3M)
Menguras penampungan air
Wadah air seperti bak mandi, ember, atau tempayan perlu dikuras dan disikat rutin minimal satu minggu sekali untuk menghilangkan telur nyamuk yang menempel.
Menutup penampungan air
Tempat penyimpanan air perlu ditutup rapat agar nyamuk tidak masuk dan bertelur.
Mendaur ulang atau mengubur barang bekas
Barang bekas yang berpotensi menampung air hujan, seperti ban, botol plastik, atau kaleng, sebaiknya disingkirkan dengan cara didaur ulang atau dikubur agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
2. Perlindungan tambahan (Plus)
Menggunakan kelambu
Kelambu dianjurkan saat tidur, terutama pada siang hari bagi bayi dan anak-anak, untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk.
Menggunakan lotion anti nyamuk
Lotion penolak nyamuk pada area tubuh yang terbuka dapat memberi perlindungan sementara, terutama saat berada di luar rumah.
Menanam tanaman pengusir nyamuk
Tanaman seperti lavender, serai, dan zodia disebut memiliki aroma yang tidak disukai nyamuk, sehingga dapat ditanam di sekitar rumah.
Memelihara ikan pemakan jentik
Ikan cupang atau guppy dapat ditempatkan di kolam atau penampungan air yang sulit dikuras untuk membantu membasmi jentik secara alami.
Melakukan fogging
Fogging dilakukan bila sudah ada kasus positif di suatu wilayah untuk membunuh nyamuk dewasa. Namun, fogging tidak membunuh jentik nyamuk.
Selain itu, masyarakat juga diimbau tidak menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar karena pakaian yang berbau keringat manusia disebut menjadi tempat favorit nyamuk untuk hinggap dan bersembunyi.
Dengan mengenali gejala dan menerapkan langkah pencegahan secara rutin, risiko penularan DBD saat musim hujan dapat ditekan, terutama bila dilakukan serentak di tingkat lingkungan.

