Potensi bisnis waralaba (franchise) di Indonesia dinilai masih terbuka lebar. Namun, masyarakat diimbau berhati-hati sebelum menanamkan modal pada usaha waralaba maupun kemitraan agar tidak terjebak investasi bermasalah.
Data Kementerian Perdagangan RI menunjukkan persebaran bisnis waralaba masih terpusat di Pulau Jawa, terutama di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Dari sisi sektor usaha, bidang makanan dan minuman menjadi kategori yang paling banyak diwaralabakan, dengan porsi 47,92%.
Pada 2024, omzet bisnis waralaba di Indonesia tercatat mencapai Rp 143,25 triliun dan menyerap hampir 98.000 tenaga kerja. Angka tersebut menggambarkan besarnya peluang waralaba dalam mendorong perekonomian nasional sekaligus membuka lapangan kerja.
Meski demikian, Ketua Umum Himpunan Kemitraan dan Peluang Usaha Indonesia (HIKPI) Djoko Kurniawan menilai bisnis waralaba di Tanah Air masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya, dari jutaan usaha kemitraan yang ada, baru 216 yang telah memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW).
Djoko menyebut, dengan potensi yang besar, bisnis waralaba perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Ia menilai selama ini belum ada perbedaan yang berarti antara usaha yang sudah memiliki STPW dan jenis kemitraan lainnya. Kondisi tersebut membuat sebagian investor menganggap manfaat berinvestasi pada waralaba tidak berbeda dibanding kemitraan biasa.
“Sehingga ke depannya kami meminta perhatian lebih dari pemerintah. Bisa dibedakan perlakuannya misal dengan pemberian insentif kepada usaha yang sudah memiliki STPW,” ujar Djoko di Bandung, pekan lalu.
Untuk memperkenalkan konsep bisnis waralaba sekaligus mendorong edukasi publik, Djoko yang juga pendiri DK Consulting bekerja sama dengan Myevent, Kadin Jawa Barat, Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi (Aptiknas), serta didukung Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat. Mereka berencana menyelenggarakan pameran waralaba pada awal Februari mendatang.
Salah satu tujuan kegiatan tersebut adalah mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak investasi bisnis bodong. Djoko menyebut minat terhadap bisnis waralaba cukup tinggi, termasuk dari generasi muda yang ingin mulai berbisnis dan para pensiunan yang ingin meniti karier kedua melalui usaha.
Ia mengingatkan masyarakat agar cermat dalam memilih waralaba maupun kemitraan dan tidak mudah tergiur oleh iming-iming keuntungan yang berlebihan.

