Industri makanan dan minuman (Food & Beverage/F&B) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan pesat. Data Kementerian Perindustrian mencatat subsektor F&B menyumbang lebih dari 6,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2024, menjadikannya salah satu kontributor besar bagi pertumbuhan ekonomi.
Meningkatnya aktivitas masyarakat setelah pandemi COVID-19 turut mendorong geliat sektor ini. Kebiasaan kembali makan di luar rumah, berkumpul, serta mencoba ragam kuliner baru membuat permintaan pasar meningkat. Kondisi tersebut memicu ekspansi, baik dari jaringan waralaba besar maupun pelaku UMKM lokal yang berlomba membuka cabang baru.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan industri F&B adalah digitalisasi. Platform pesan-antar seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood kini menjadi kanal penting bagi konsumen untuk mengakses berbagai pilihan makanan. Riset Katadata (2025) mencatat 77% konsumen urban Indonesia menggunakan layanan pesan-antar makanan setidaknya sekali dalam seminggu. Di saat yang sama, media sosial juga berperan besar dalam membentuk popularitas produk, termasuk melalui tren makanan viral yang kerap memicu lonjakan penjualan dalam waktu singkat.
Namun, peluang besar ini datang dengan tantangan yang tidak ringan. Persaingan yang sangat ketat menjadi salah satu isu utama. Kemudahan masuk ke bisnis F&B membuat jumlah pelaku usaha terus bertambah, sehingga diferensiasi produk dan konsep menjadi faktor penting untuk bertahan. Kreativitas dalam menu, desain tempat, hingga pengalaman pelanggan dinilai semakin menentukan, terutama bagi usaha baru yang berhadapan dengan kompetisi padat.
Tantangan lainnya adalah meningkatnya biaya operasional. Kenaikan harga bahan baku, listrik, sewa lokasi, dan gaji karyawan menekan margin keuntungan. Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) mencatat inflasi bahan makanan mencapai 5,4% year-on-year pada Agustus 2025. Dalam situasi tersebut, strategi efisiensi dan inovasi produk menjadi penting agar pelaku usaha tetap kompetitif tanpa menurunkan kualitas.
Dari sisi permodalan, UMKM F&B juga masih menghadapi kendala akses pendanaan untuk memperluas usaha. Kondisi ini memunculkan kebutuhan akan kebijakan yang lebih mendukung UMKM agar mampu tumbuh seimbang dengan pemain besar.
Selain itu, isu kualitas dan konsistensi produk menjadi perhatian, terutama saat bisnis melakukan ekspansi. Sejumlah merek dapat meraih popularitas pada tahap awal, tetapi kesulitan mempertahankan standar rasa dan pelayanan ketika skala usaha membesar. Salah satu contoh yang kerap disebut adalah Sour Sally, yang sempat dikenal luas melalui tren frozen yogurt, namun kemudian mengalami penurunan penjualan ketika konsistensi produk tidak terjaga. Situasi ini menunjukkan bahwa popularitas karena viral dapat membuka peluang awal, tetapi keberlanjutan bisnis tetap bergantung pada kualitas dan konsistensi.
Di tengah tantangan tersebut, perubahan preferensi konsumen membuka peluang baru. Tren gaya hidup sehat dan eco-friendly mendorong meningkatnya minat terhadap makanan organik, rendah gula, dan produk yang mengusung nilai ramah lingkungan. Produk F&B dengan pendekatan keberlanjutan dinilai memiliki potensi tumbuh lebih cepat dibanding yang semata-mata bersaing pada harga.
Secara keseluruhan, ramainya bisnis kuliner di Indonesia mencerminkan prospek yang menjanjikan, tetapi juga kompetisi yang makin kompleks. Pelaku usaha dituntut mampu menavigasi persaingan, menjaga kualitas, berinovasi mengikuti perubahan pasar, serta mengelola tekanan biaya dan keterbatasan pendanaan agar dapat bertahan dalam jangka panjang.

