Perkembangan bisnis kuliner di Bojonegoro terus menunjukkan dinamika. Di tengah dominasi promo digital yang turut menggeser pola belanja masyarakat, pelaku usaha kini tidak hanya berfokus pada persaingan diskon, tetapi juga memperkuat kualitas pelayanan dan pengalaman pelanggan, terutama untuk segmen makan di tempat (dine-in).
Store Manager Emado’s Bojonegoro, Andika Bima Setiawan, mengatakan persaingan industri kuliner saat ini menuntut pelaku usaha untuk lebih adaptif. Menurutnya, ketika pengunjung datang langsung ke restoran, pelayanan dapat menjadi pembeda utama di tengah kompetisi yang ketat.
“Pengunjung yang datang di resto, itu kita mempersiapkannya lebih ke menjaga pelayanan publiknya bagaimana, pelayanan kualitas harus bagaimana juga untuk serving time juga harus cepat, tanggap, untuk staffnya juga harus ramah ataupun care sama sama customer,” ujar Andika.
Ia menilai persaingan tidak selalu harus dihadapi melalui strategi harga. Andika menekankan pentingnya menjaga konsistensi kualitas makanan dan pelayanan sebagai langkah yang lebih berkelanjutan untuk mempertahankan pelanggan. “Lebih menjaga ke pelayanan aja, menjaga kualitas diri, kualitas makanan,” lanjutnya.
Di sisi lain, maraknya promo berbasis digital juga menghadirkan tantangan tersendiri, khususnya bagi restoran yang memiliki basis pelanggan usia matang. Andika menyebut mayoritas pengunjung Emado’s Bojonegoro berasal dari kelompok usia di atas 30 tahun atau keluarga, yang belum sepenuhnya akrab dengan mekanisme promo di platform digital seperti TikTok.
“Mungkin pemahamannya beda, soalnya customer sendiri belum tahu cara tiktoknya gimana, cara klaim ordernya juga belum tahu, itu sering lah di sini,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak dianggap sebagai hambatan. Andika mengapresiasi timnya yang tetap sabar membantu dan mengedukasi pengunjung. Pendekatan humanis ini dinilai penting agar transformasi digital di sektor kuliner tetap dapat diikuti berbagai kelompok konsumen.

