BERITA TERKINI
Biksu Buddha dan Cara Memisahkan Rasa Sakit dari Penderitaan

Biksu Buddha dan Cara Memisahkan Rasa Sakit dari Penderitaan

Menghadapi rasa sakit fisik kerap menjadi perjuangan berat, bukan hanya bagi tubuh tetapi juga bagi pikiran. Bagi banyak orang, nyeri yang kuat sering otomatis memicu penderitaan emosional. Namun, dalam tradisi Buddhisme, ada pendekatan berbeda: mencoba memisahkan sensasi fisik yang dirasakan tubuh dari reaksi batin yang memperbesar penderitaan.

Pertanyaannya kemudian, apakah manusia bisa merasakan sakit secara nyata tanpa harus terperosok dalam penderitaan? Sejumlah praktik meditasi dan kesadaran penuh (mindfulness) yang dijalani para biksu Buddha berangkat dari gagasan bahwa rasa sakit dan penderitaan bukanlah hal yang identik.

Isu ini relevan secara global. Sekitar 10 persen populasi dunia saat ini hidup dengan nyeri kronis. Dampaknya juga tercermin pada skala pembiayaan: di Amerika Serikat, pengeluaran untuk menangani nyeri kronis disebut jauh lebih tinggi dibanding biaya gabungan untuk diabetes dan kanker.

Pencarian cara lain untuk merespons nyeri turut diangkat dalam episode ketiga serial Limitless: Live Better Now, yang menampilkan aktor Chris Hemsworth—yang disebut telah lama bergulat dengan nyeri punggung kronis. Dalam episode tersebut, Hemsworth melakukan perjalanan ke Korea Selatan untuk mempelajari kebijaksanaan kuno dan sains modern. Serial ini dijadwalkan tayang di Disney+ dan Hulu mulai 15 Agustus, serta di National Geographic mulai 25 Agustus 2025.

Dalam pendampingannya, BJ Miller, dokter perawatan paliatif sekaligus pakar nyeri, menekankan bahwa inti ajaran Buddha terletak pada kemampuan membedakan antara nyeri dan penderitaan. Menurutnya, penderitaan sering muncul dari dorongan untuk melawan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.

Dalam pandangan Buddhisme—yang dianut sekitar 4,1 persen populasi global dan 17 persen orang dewasa di Korea Selatan—penderitaan dipahami sebagai bagian inheren dari kondisi manusia. Karena itu, alih-alih semata berupaya menghindari atau menghapus penderitaan, praktik yang dijalani sebagian biksu berfokus pada melihat pengalaman tersebut apa adanya.

Jeong Yeo, biksu yang menjabat sebagai Grand Patriarch di Beomeosa Temple sejak 2023, menggambarkan pendekatan tersebut sebagai upaya mengamati penderitaan tanpa segera bereaksi. Ia juga menceritakan pengalaman pribadi ketika mengalami cedera kepala akibat jatuh saat bekerja di kuil. Dalam situasi itu, ia memilih mengalihkan fokus dari rasa sakit ke pengamatan terhadap pikiran.

Melalui praktik kesadaran penuh, para biksu berupaya menempatkan sensasi fisik sebagai pengalaman yang dapat diamati, sementara reaksi emosional diperlakukan sebagai sesuatu yang muncul dan dapat dikenali. Pendekatan ini tidak meniadakan rasa sakit, tetapi berupaya mencegahnya berkembang menjadi penderitaan yang lebih dalam.