Badan Gizi Nasional (BGN) menilai literasi gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat membantu membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter melalui edukasi yang menumbuhkan kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan MBG tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, melainkan memastikan asupan gizi yang memadai bagi kelompok sasaran seperti anak-anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Menurutnya, gizi yang cukup menjadi bekal penting bagi pertumbuhan dan perkembangan.
Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menegaskan tujuan MBG bukan sekadar membuat peserta didik kenyang. Ia menyebut makanan yang diberikan perlu dipahami sebagai makanan bergizi yang bermanfaat bagi tubuh. “Tidak hanya sekadar kenyang. Makan bergizi itu bukan hanya makan banyak, bukan makan kenyang gratis, bukan makan banyak gratis, bukan makan enak gratis, tetapi makan bergizi gratis,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai edukasi gizi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Peserta didik perlu memahami unsur gizi seperti protein, serat, vitamin, mineral, dan karbohidrat, termasuk manfaatnya bagi tubuh.
Dalam proses edukasi tersebut, guru disebut memiliki peran strategis. Pengetahuan yang disampaikan di sekolah diharapkan dapat diteruskan ke lingkungan keluarga. Sudaryono menilai pemahaman gizi yang diterima anak dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya, terutama keluarga tempat mereka tinggal.
Sejalan dengan itu, Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN Mariman Darto menyampaikan keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan bergizi. Menurutnya, program juga bergantung pada pemahaman mengenai gizi seimbang, keamanan pangan, kebersihan, kedisiplinan, serta kebiasaan hidup sehat di satuan pendidikan.
Melalui peran guru sebagai pendamping sekaligus penggerak edukasi di sekolah dan keluarga, BGN berharap manfaat MBG tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi turut mendukung terbentuknya generasi Indonesia yang berkualitas.