Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga ditargetkan menjadi sarana peningkatan literasi gizi masyarakat dalam jangka panjang. Badan Gizi Nasional (BGN) menilai edukasi gizi diperlukan agar manfaat program berkelanjutan dan berdampak lebih luas.
Melalui MBG, penerima manfaat tidak hanya memperoleh makanan bergizi, tetapi juga dikenalkan pada pola makan sehat, komposisi gizi seimbang, serta pentingnya kebiasaan konsumsi yang baik sejak dini. Pendekatan tersebut diharapkan memperkuat pemahaman gizi, terutama bagi anak-anak dan keluarga.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menyatakan bahwa literasi gizi merupakan bagian penting dari tujuan jangka panjang MBG.
“MBG tidak berhenti pada pemberian makanan. Program ini juga menjadi media edukasi agar masyarakat memahami pentingnya gizi seimbang dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Hidayati di Jakarta, Rabu (19/3).
Menurut BGN, edukasi gizi dilakukan secara terintegrasi melalui perencanaan menu, penyajian makanan, serta informasi yang menyertai pelaksanaan program. Dengan cara ini, MBG diharapkan mendorong perubahan perilaku makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
BGN juga merujuk Keputusan Kepala BGN Nomor 15.1 Tahun 2024 tentang Pedoman Umum Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional untuk Program MBG, yang menempatkan peningkatan literasi gizi sebagai bagian dari dampak jangka panjang program. Kebijakan ini dimaksudkan agar MBG tidak hanya menjadi intervensi sesaat, tetapi turut berkontribusi pada pembangunan kesadaran gizi masyarakat.
Hidayati menambahkan, literasi gizi dinilai berperan dalam mendukung tujuan kesehatan nasional. “Pemahaman gizi yang baik akan memperkuat hasil Program MBG. Dengan literasi gizi yang meningkat, manfaat program dapat dirasakan lebih luas dan bertahan dalam jangka panjang,” tegasnya.

