Seorang mahasiswi bernama Nisa Arinda membagikan pengalamannya mengembangkan usaha kuliner Dimsum Aysumsay yang bermula dari tugas kelompok mata kuliah kewirausahaan saat ia berada di semester lima. Kisah tersebut disampaikan dalam program siaran obrolan “Teras UMKM” bersama Shulkha Kamilia.
Nisa menuturkan, ia dan rekan satu kelompoknya semula membuat dan menjual dimsum untuk memenuhi praktik perkuliahan. Di luar dugaan, produk yang mereka buat mendapat respons positif dari konsumen. Namun setelah tugas kuliah selesai, usaha itu sempat terhenti karena masing-masing anggota kelompok kembali disibukkan aktivitas perkuliahan.
“Aku sama teman-teman engga menyangka banget produk kita mendapatkan respons positif dari konsumen, walaupun setelah tugas kuliah selesai, usaha ini sempat terhenti karena kesibukan perkuliahan masing-masing anggota kelompok,” ujar Nisa saat wawancara di Studio PRO4 Jakarta, Jumat, 17 April 2026.
Tidak ingin berhenti, Nisa kemudian memutuskan melanjutkan usaha tersebut secara mandiri. Ia memulai kembali bisnis dimsum di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dengan modal awal sekitar Rp600 ribu. Pada tahap awal, ia menggunakan sistem pre-order untuk menjual produknya.
Seiring waktu, Nisa mulai mencoba berjualan langsung dengan membuka lapak di acara Car Free Day serta di sekitar rumahnya yang ramai aktivitas warga. “Alhamdulillah makin lama usaha aku udah keliatan hasilnya, semakin dikenal dan diminati pelanggan,” katanya.
Dalam perjalanannya, Nisa menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan peralatan, kesulitan membagi waktu antara kuliah dan praktik kerja lapangan (PKL), hingga persaingan usaha kuliner yang ketat. Meski begitu, ia tetap konsisten dengan memproduksi dimsum sendiri pada malam hari dan berjualan pada sore hari.
Nisa menyebut usahanya berawal dari coba-coba, tetapi berkembang menjadi peluang bisnis karena mendapat sambutan dari pelanggan. “Awalnya dari tugas kuliah, terus sempat berhenti. Tapi karena banyak yang suka, aku jadi lanjut sendiri. Modalnya juga kecil, cuma sekitar Rp600 ribu, tapi alhamdulillah bisa berkembang sampai sekarang,” ujarnya.
Kisah Nisa menunjukkan bahwa ide sederhana dari tugas perkuliahan dapat berkembang menjadi usaha nyata ketika ditekuni secara konsisten dan disertai kepekaan membaca peluang pasar.

