PADANG—Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2022 menjadi titik balik bagi Dona Safira, warga Kota Padang, untuk memulai usaha kuliner mandiri. Berbekal hobi memasak, ia membangun Fatihah Kitchen sebagai upaya bangkit dari tekanan ekonomi.
Kisah perjalanan usahanya disampaikan dalam program UMKM BICARA di RRI Pro 1 Padang yang disiarkan pada Senin, 5 Oktober 2026. Dalam siaran tersebut, Dona menceritakan Fatihah Kitchen yang bermula dari warung mi ayam hingga berkembang dengan ragam produk olahan.
Untuk menjaga cita rasa, Dona bahkan belajar membuat pempek langsung ke Palembang, Sumatera. Upaya itu berbuah respons positif dari pelanggan yang menyukai olahan Fatihah Kitchen.
Dona menyebut produknya tetap dapat menghasilkan tekstur pempek yang lezat dan gurih meski tidak menggunakan ikan tenggiri yang harganya relatif mahal. Pempek dijual dengan harga Rp2.000 per buah atau Rp12.000 per porsi. Satu porsi berisi lima buah pempek lengkap dengan kuah cuko.
Selain pempek, Fatihah Kitchen juga memproduksi bolu pisang premium dengan variasi topping keju dan cokelat. Produk-produk tersebut dapat dibeli langsung di Komplek Jondul Rawang Blok WW 14, Kota Padang. Pemesanan juga dilayani secara daring melalui akun Instagram Dona Safira dan WhatsApp.
Perkembangan usaha ini turut didukung pendampingan UMKM di Kota Padang. Beni Herlian, pendamping dari Dinas Koperasi dan UKM wilayah Padang Selatan 1, memberikan pembinaan bisnis kepada pelaku usaha, termasuk penguatan promosi digital.
Dalam pendampingan tersebut, pelaku usaha mikro juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu merancang logo merek. Selain itu, promosi harian di berbagai platform media sosial ditekankan dengan pendekatan “amati, tiru, dan modifikasi” agar produk lokal lebih dikenal.
Meski prospeknya dinilai cukup baik, Fatihah Kitchen masih menghadapi kendala untuk masuk ke jaringan swalayan modern. Salah satu tantangan yang disebutkan adalah persyaratan sertifikasi perizinan BPOM yang membutuhkan dapur produksi khusus dan terpisah dari area tempat tinggal.
Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang juga disebut terus memfasilitasi akses permodalan melalui lembaga keuangan. Pembukuan yang rapi menjadi salah satu syarat agar pelaku usaha mikro lebih mudah mengakses pinjaman perbankan.
Perjalanan Dona Safira menunjukkan upaya bangkit melalui kerja keras dan keterbukaan terhadap teknologi dalam mengembangkan usaha. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha kecil lainnya untuk terus bertahan dan berkembang.