Pemilik usaha kuliner Tercabaikan, Inggra DP, menuturkan ide membangun bisnisnya berawal dari pengamatannya terhadap tingginya antusiasme masyarakat pada baso aci di Garut. Pengalaman itu mendorongnya mencoba membuat baso aci versi sendiri di rumah, yang kemudian dibagikan kepada keluarga sebagai oleh-oleh.
Inggra mengatakan usaha tersebut bermula setelah ia memutuskan berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Saat berkunjung ke Garut, ia melihat sebuah toko baso aci begitu ramai hingga pembeli rela mengantre sejak subuh. Rasa penasaran dari pengalaman itu membuatnya bereksperimen di rumah dan membagikan hasilnya kepada keluarga.
Respons positif dari keluarga dan lingkungan sekitar membuat usahanya berkembang bertahap. Pada syukuran pernikahannya pada 2017, Inggra juga membagikan baso aci buatannya kepada keluarga dan tetangga. Dari momen tersebut, pesanan pre-order mulai berdatangan dan menjadi titik awal pertumbuhan Tercabaikan hingga saat ini.
Dalam perjalanannya, Inggra mengakui menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap awal ketika seluruh proses masih dikerjakan sendiri, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran. Untuk memperluas jangkauan, pemasaran dilakukan melalui kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, WhatsApp Business, serta layanan pesan antar.
Seiring usaha berkembang, Inggra berupaya meningkatkan kapasitas bisnis dengan mengikuti berbagai pelatihan. Salah satunya melalui platform LinkUMKM BRI, termasuk program pelatihan yang diselenggarakan di Rumah BUMN Bandung.
Ia menyebut mulai mengenal LinkUMKM BRI sekitar 2020 saat mengikuti pelatihan di Rumah BUMN. Dari sana, ia diperkenalkan pada berbagai program pelatihan yang tersedia di LinkUMKM. Menurut Inggra, program tersebut bermanfaat karena menyediakan pelatihan gratis yang sesuai kebutuhan pelaku usaha, termasuk topik yang sedang tren seperti pelatihan mengenai kecerdasan buatan.
Hingga akhir 2025, LinkUMKM disebut telah dimanfaatkan oleh 14,98 juta pelaku UMKM untuk pendampingan usaha secara daring, mulai dari peningkatan kapasitas hingga penguatan akses pasar. Platform ini memiliki enam fitur utama yang terintegrasi, yakni UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB, serta didukung 750 modul pembelajaran untuk penguatan kemampuan soft skill dan hard skill.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan LinkUMKM BRI dirancang sebagai ekosistem pembelajaran untuk membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas usaha secara berkelanjutan. Ia mengatakan melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku UMKM meningkatkan kapasitas usaha lewat akses pelatihan yang relevan, sekaligus membuka ruang memperluas jejaring dan menangkap peluang pasar di era digital. BRI berharap penguatan kapasitas berkelanjutan dapat membantu lebih banyak UMKM naik kelas dan berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

