Olahraga semakin digemari karena manfaatnya bagi kesehatan. Namun, aktivitas fisik yang dilakukan tanpa menyesuaikan kondisi tubuh dapat memicu gangguan jantung dan berujung fatal.
Duka datang dari dunia sepak bola nasional. Asisten pelatih Arema FC, Kuncoro, meninggal dunia setelah kolaps akibat serangan jantung saat mengikuti Laga Charity 100 Tahun Stadion Gajayana, Minggu (18/1) sore.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), dr. Mohammad Perdana Airlangga, Sp.JP, menekankan pentingnya memahami batas kemampuan tubuh agar olahraga tetap aman, baik bagi masyarakat umum maupun atlet.
Menurut dr. Airlangga, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengenali diri sendiri, termasuk apakah seseorang rutin berolahraga atau tidak. Ia mengingatkan agar tidak memaksakan tubuh meski merasa masih kuat.
“Misalnya seseorang yang tidak pernah olahraga lalu tiba-tiba diajak lari, itu sudah memiliki risiko,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Ia menambahkan, atlet sekalipun tetap memiliki potensi mengalami gangguan jantung. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala atau medical check up dinilai penting untuk mengetahui faktor risiko dan penyakit penyerta yang dapat memengaruhi kerja jantung.
Hal lain yang disoroti adalah intensitas latihan. Saat berolahraga, jantung bekerja lebih aktif. Latihan berlebihan atau overtraining dapat meningkatkan risiko dan membahayakan.
“Tidak boleh overtraining. Olahraga yang relatif aman seperti jogging, jalan kaki, senam, atau bersepeda santai. Bukan sepeda mendaki, karena itu membutuhkan kerja jantung lebih berat. Untuk olahraga kompetisi harus profesional, melalui tes kesehatan, dan usia di atas 40 tahun sebaiknya tidak mengikuti kompetisi tanpa pengawasan medis,” jelasnya.
dr. Airlangga juga menjelaskan perbedaan serangan jantung dan henti jantung. Pada serangan jantung, pasien umumnya masih sempat mengeluhkan nyeri dada. Sementara pada henti jantung, pasien biasanya langsung pingsan. Serangan jantung terjadi akibat sumbatan pembuluh darah koroner dan bila tidak ditangani dapat berkembang menjadi henti jantung yang berisiko kematian.
Ia menegaskan semua jenis olahraga, terutama yang bersifat kompetisi atau profesional, memiliki risiko terhadap jantung, dan faktor usia turut memengaruhi.
“Usia muda pun tetap bisa mengalami serangan atau henti jantung. Olahraga seperti lari, badminton, sepak bola, hingga basket memiliki risiko. Jika ingin mengikuti olahraga kompetisi, wajib dilakukan medical check up dan dipantau tenaga medis untuk memastikan kelayakan. Kita juga harus membedakan antara olahraga rekreasi dan profesional, karena bebannya berbeda. Meski pernah menjadi atlet, jika pola latihannya tidak seperti dulu, risikonya tetap ada,” pungkasnya.

