BERITA TERKINI
Andi Sutrisno, dari Anak Tukang Bakso Keliling hingga Mengelola Ayam Bakar Jogja Mbah Wiryo di Surabaya

Andi Sutrisno, dari Anak Tukang Bakso Keliling hingga Mengelola Ayam Bakar Jogja Mbah Wiryo di Surabaya

Surabaya — Kisah Andi Sutrisno berangkat dari keluarga sederhana hingga kini mengelola usaha kuliner Ayam Bakar Jogja Mbah Wiryo yang mulai dikenal masyarakat Surabaya. Perjalanan tersebut, menurutnya, dibentuk oleh proses panjang, ketekunan, serta konsistensi menjaga kualitas.

Andi lahir dan besar di lingkungan keluarga pekerja keras. Ayahnya bekerja sebagai tukang bakso keliling yang setiap hari mendorong gerobak menyusuri kampung. Kebiasaan melihat kerja keras sejak kecil, ia menilai, membentuk karakter pantang menyerah dan menghargai proses.

“Sejak kecil saya belajar bahwa hidup harus diperjuangkan, tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan,” ujar Andi saat ditemui di Surabaya, Selasa (03/02/2026).

Ia mengatakan pesan orang tua tentang kejujuran dan kerja keras menjadi pegangan yang diterapkan dalam keseharian, termasuk ketika memilih jalur usaha. Baginya, keberhasilan hanya bisa dicapai dengan disiplin dan kesabaran.

Sebelum terjun ke dunia kuliner, Andi menekuni bela diri jujitsu dan sempat menjadi pelatih. Dari pengalaman itu, ia mengaku mempelajari disiplin, fokus, pengendalian emosi, serta kepemimpinan—hal yang kemudian menjadi bekal saat mengelola usaha dan memimpin tim.

“Melatih di matras mengajarkan kesabaran dan strategi. Prinsip itu saya terapkan di bisnis,” katanya.

Keinginan membangun usaha sendiri mendorong Andi memilih bidang kuliner. Menu ayam bakar dipilih karena dinilai dekat dengan selera masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya memiliki ciri khas rasa, sehingga proses peracikan bumbu dan teknik pembakaran dilakukan berulang kali sampai menemukan cita rasa yang sesuai.

Ayam Bakar Jogja Mbah Wiryo dikenal dengan rasa manis-gurih khas Jawa, daging empuk, dan aroma bakaran yang kuat. Racikan bumbu disebut dibuat sendiri dengan menggabungkan resep keluarga dan sentuhan personal.

Nama “Mbah Wiryo” dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada sosok sepuh di kampung halaman yang kerap memberi nasihat kehidupan. “Nama itu menjadi pengingat agar usaha ini tetap jujur dan sederhana,” ujarnya.

Respons pelanggan disebut positif. Mita, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Kampus A, mengaku kerap membeli karena rasa yang dinilai konsisten. “Ayamnya empuk, rasanya pas, dan harganya terjangkau,” katanya.

Sementara Yayan, warga Ketintang Baru, menilai pelayanan dan konsistensi rasa menjadi keunggulan utama. “Rasanya tidak berubah dari dulu, itu yang bikin pelanggan balik lagi,” ujarnya. Sejumlah pelanggan lain juga menyebut aroma bakaran yang khas kerap menarik perhatian pengunjung.

Berawal dari peralatan sederhana, usaha tersebut berkembang secara bertahap. Pelayanan yang ramah dan kualitas rasa membuat jumlah pelanggan terus meningkat. Kini, Ayam Bakar Jogja Mbah Wiryo dikelola dengan penekanan pada nilai kepemimpinan, kedisiplinan, dan kejujuran.

Ke depan, Andi berharap usahanya dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak konsumen tanpa meninggalkan nilai yang dibangun sejak awal. “Kalau dulu orang tua saya mendorong gerobak bakso, sekarang saya ingin mendorong usaha ini melangkah lebih jauh,” tuturnya.