Suara sendok beradu dengan nampan memecah suasana perpustakaan SD Negeri 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Jumat pagi, 31 Juli 2026. Di atas meja beralas taplak kotak-kotak merah putih, sejumlah siswa berseragam olahraga kuning-hijau menikmati makan siang bersama. Menu yang tersaji—nasi, rendang sapi, sayur, dan buah—ditata dalam wadah makan berbahan stainless steel.
“Enak, ini rendang daging sapi,” kata Ilham Rahmat Wibowo, salah satu siswa, sambil mengunyah suapan terakhirnya. Suasana hangat dan santai, seperti jam makan siang anak sekolah pada umumnya.
Namun kegiatan itu bukan sekadar makan bersama. Di lokasi yang sama, sejumlah orang tua duduk berhadapan dengan petugas puskesmas, perwakilan JAPFA for Kids, dan pihak sekolah untuk mengikuti sesi edukasi pola makan sehat serta pemenuhan gizi anak usia sekolah. Sejumlah siswa yang hadir juga merupakan bagian dari pemantauan status gizi dalam program tersebut.
Di SDN 1 Budidaya, delapan anak masuk kategori malagizi setelah pemeriksaan status gizi menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sebagian dari mereka terlihat aktif, ceria, dan tidak berbeda dari teman sebaya. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan gizi tidak selalu mudah dikenali hanya dari penampilan fisik anak.
Gambaran serupa juga tercermin dalam data nasional. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan IMT/U. Sementara pemantauan JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program sepanjang 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa mengalami kondisi serupa.
Tantangan pemenuhan gizi, menurut SKI 2023, juga berkaitan dengan kualitas konsumsi harian. Sebanyak 96,7 persen penduduk usia lima tahun ke atas tercatat belum mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran. Artinya, persoalan gizi tidak semata tentang ada atau tidaknya makanan, tetapi juga tentang apa yang dikonsumsi setiap hari.
Dalam jurnal “The Nutritional Status of School-Aged Children: Why Should We Care?” karya Cora Best dan rekan (Food and Nutrition Bulletin), disebutkan anak usia sekolah kerap terabaikan dalam pemantauan gizi karena perhatian lebih banyak tertuju pada balita. Padahal, masalah kurang gizi banyak terjadi pada kelompok usia sekolah dan dapat berdampak pada kemampuan konsentrasi, tingkat kelelahan, keaktifan di kelas, hingga kemampuan belajar.
Salah satu orang tua siswa, Agung Kurniawan, mengaku tidak menyadari putranya, Khatam Zikrullah Persada Agung (10), mengalami masalah gizi. Khatam sehari-hari dikenal aktif dan gemar bermain. “Kalau soal aktifnya malah luar biasa. Bisa dibilang lebih aktif dari teman-temannya yang lain,” ujar Agung, yang berprofesi sebagai guru ASN di salah satu SMA di Sidomulyo.
Meski demikian, Agung mengakui tubuh anaknya terlihat lebih kurus dibanding teman seusia. “Umur 10 tahun, teman-temannya badannya ada isinya, ini cuma tulang sama kulit doang,” katanya. Ia menyebut Khatam sejak kecil termasuk anak yang sulit makan. Dalam sekali makan, porsi yang dihabiskan sering kali hanya beberapa suap. “Kalau yang kecil ini memang nafsu makannya kurang. Makan sedikit, mainnya lama,” ujarnya.
Kondisi Khatam baru terungkap setelah pengukuran tinggi dan berat badan oleh petugas kesehatan dalam kegiatan yang diinisiasi JAPFA dengan melibatkan sekolah dan puskesmas. Dari hasil pengukuran, pertumbuhan tinggi dan berat badan Khatam dinilai belum seimbang sehingga masuk kategori yang memerlukan perhatian khusus.
Agung semula mengira peserta program dipilih berdasarkan penilaian guru atau sekolah. Setelah mendapat penjelasan, ia memahami penentuan sasaran dilakukan berdasarkan hasil pengukuran status gizi. Ia mengaku terbantu karena mendapat pengingat untuk lebih memperhatikan pola makan anak. “Saya malah berterima kasih karena diingatkan kembali bagaimana caranya supaya anak ini lebih mau makan, lebih nafsu makan lagi,” katanya.
Agung menyebut berbagai cara sudah dicoba, termasuk mengatur pola makan dan memberikan vitamin penambah nafsu makan, tetapi perubahan belum signifikan. Melalui JAPFA for Kids, Khatam mendapatkan tambahan asupan protein berupa telur serta pendampingan dan edukasi pemenuhan gizi. “Kalau saya sih bersedia banget,” ujar Agung.
Di sekolah, guru juga menemukan pola yang sama: masalah gizi kerap berkaitan dengan kebiasaan makan. Dwi Handayani, guru SDN 1 Budidaya, mengatakan beberapa siswa yang memerlukan perhatian khusus cenderung sulit makan dan memiliki pola makan yang kurang baik. “Sepertinya sih memang dari anaknya susah makan. Pola makannya juga mungkin kurang baik,” ujarnya.
Dwi menilai sebagian besar orang tua sebenarnya berupaya menyediakan makanan di rumah. Apalagi banyak warga sekitar sekolah berprofesi sebagai petani yang relatif mudah memperoleh sayuran seperti bayam, kangkung, dan daun singkong. Karena itu, tantangan yang dihadapi sering kali bukan pada ketersediaan, melainkan membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi secara cukup dan teratur. “Harusnya memang dibiasakan. Kadang anak enggak mau makan, tapi tetap harus diajak dan didorong terus,” katanya.
Dalam kegiatan makan bersama, Dwi menyebut tidak semua anak langsung menghabiskan makanan. Ada yang mengaku tidak menyukai telur, ada pula yang lebih tertarik mengobrol. Para guru memilih tetap mendampingi dan memberi contoh. “Tadi ada yang bilang enggak suka telur. Kami bilang, ayo dimakan. Akhirnya dimakan juga,” ujarnya.
Kepala SDN 1 Budidaya, Andri Sugiarto, mengatakan persoalan gizi yang ditemukan pada sejumlah siswa tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Dari 186 siswa di sekolah itu, delapan anak menjadi sasaran utama program perbaikan gizi JAPFA for Kids berdasarkan hasil pemantauan status gizi. Sebagian dari mereka, menurut Andri, berasal dari keluarga yang tergolong mampu. “Ada yang orang tuanya pegawai negeri, ibunya guru, ada yang punya usaha. Jadi bukan karena faktor ekonomi. Memang ada anak yang sulit makan,” katanya.
Selain kebiasaan sulit makan, sekolah juga menyoroti pola konsumsi jajanan. Andri menyebut tidak sedikit siswa lebih menyukai makanan ringan atau jajanan dibanding makanan utama di rumah. “Kebanyakan anak sekarang lebih suka jajan daripada makan yang bergizi,” ujarnya.
Program JAPFA for Kids di SDN 1 Budidaya berjalan sejak Juli 2026 dan direncanakan berlangsung hingga Desember. Setiap Sabtu, siswa mengikuti rangkaian kegiatan Hari Sehat JAPFA, mulai dari senam bersama, praktik mencuci tangan yang benar, pemeriksaan kebersihan kuku, hingga edukasi pentingnya makanan bergizi. Pihak sekolah menilai kegiatan ini sebagai bagian dari pembiasaan hidup sehat sejak dini, meski menambah tugas guru di luar kegiatan belajar mengajar. “Memang ada tambahan pekerjaan bagi guru. Tapi kesehatan anak harus menjadi prioritas. Anak yang sehat tentu akan lebih siap menerima pelajaran,” kata Andri.
Temuan di SDN 1 Budidaya merupakan bagian dari gambaran yang lebih luas di Lampung Selatan. Delapan siswa di sekolah tersebut termasuk dalam 159 anak yang teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk dari total 2.051 siswa yang diperiksa di 15 sekolah.
Social Investment Supervisor JAPFA, Khumaidah, mengatakan angka itu menunjukkan persoalan gizi masih ditemukan di sekitar kita, termasuk pada anak yang tampak sehat dan aktif. “Sering kali masyarakat berpikir anak yang mengalami malnutrisi pasti berasal dari keluarga tidak mampu. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian,” ujarnya.
Menurut Khumaidah, dalam pendampingan di berbagai daerah, pola yang berulang adalah kasus gizi kurang juga ditemukan pada anak dari keluarga dengan kemampuan ekonomi cukup baik. Penyebabnya beragam, mulai dari susah makan sejak kecil, lebih suka jajan, hingga terlalu bebas memilih makanan yang disukai. Sebaliknya, ada pula anak dari keluarga sederhana yang status gizinya baik karena orang tua membiasakan pola makan teratur dan memastikan anak mengonsumsi makanan bergizi.
Untuk 159 siswa sasaran di 15 sekolah, bantuan yang diberikan tidak hanya edukasi, tetapi juga tambahan asupan protein berupa telur. Setiap anak menerima tujuh butir telur per pekan selama enam bulan. Meski demikian, Khumaidah menekankan perbaikan gizi tidak bisa hanya mengandalkan telur. “Kami percaya protein itu penting. Tapi kebutuhan gizi anak tidak hanya protein. Karena itu sekolah dan orang tua juga kami libatkan untuk melengkapi kebutuhan karbohidrat, sayur, buah, dan nutrisi lainnya melalui bekal yang dibawa anak ke sekolah,” katanya.
Pemantauan dilakukan secara rutin. Guru mencatat konsumsi telur yang diterima siswa, sementara tinggi dan berat badan dipantau berkala untuk melihat perkembangan. “Ketika bantuan diberikan, kami ingin memastikan benar-benar dikonsumsi dan berdampak. Karena itu pemantauan dilakukan secara detail, mulai dari konsumsi telur sampai perkembangan berat dan tinggi badan siswa,” ujar Khumaidah.
Pendampingan dimulai dari pengukuran status gizi seluruh siswa pada Juni 2026 bersama puskesmas sebagai data awal, lalu diverifikasi untuk memastikan ketepatan pencatatan. Setelah data dinyatakan valid, orang tua diundang ke sekolah untuk mendapat penjelasan program. Khumaidah menyebut, sebelum seluruh proses administrasi selesai, anak-anak sasaran sudah lebih dulu menerima bantuan telur setiap pekan agar orang tua dapat melihat bentuk intervensi yang diberikan.
Di akhir kegiatan makan bersama di perpustakaan, wadah makan dibereskan dan anak-anak kembali berlarian serta bercengkerama. Dari luar, mereka tampak seperti anak-anak pada umumnya: ceria, aktif, dan penuh energi. Namun pertemuan itu memperlihatkan satu pelajaran penting bagi orang tua, guru, dan tenaga kesehatan: kesehatan anak tidak selalu bisa dinilai dari apa yang terlihat, dan persoalan gizi kerap baru terungkap ketika tumbuh kembang diukur serta dipantau secara berkala.