Anak yang terlihat gemuk, aktif, dan lahap makan sering dianggap sebagai tanda sehat. Selama berat badan anak dinilai normal dan tidak tampak sakit, banyak orang tua merasa kebutuhan gizinya sudah terpenuhi. Namun, anggapan ini belum tentu tepat.
Dokter Spesialis Anak dr. Mesty Ariotedjo mengingatkan adanya risiko hidden hunger atau kelaparan tersembunyi, yakni kondisi ketika anak kekurangan mikronutrien penting meski asupan makan terlihat cukup, bahkan berlebih. Menurutnya, kondisi ini kerap luput dari perhatian karena persepsi bahwa anak gemuk identik dengan anak sehat masih kuat.
“Anak bisa makan banyak, tetapi makanannya rendah vitamin dan mineral. Akhirnya berat badannya normal atau berlebih, tapi kebutuhan mikronutriennya tidak terpenuhi,” ujarnya.
Dalam situasi hidden hunger, anak dapat mengalami kekurangan vitamin dan mineral yang berperan penting bagi tumbuh kembang. Dampaknya, risiko gangguan perkembangan tetap ada meski secara kasat mata anak tampak sehat.
Dr. Mesty menyebut dua mikronutrien yang paling sering kurang pada anak adalah vitamin D dan zat besi. Vitamin D berperan dalam menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan tulang. Sementara zat besi dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak.
Ia menambahkan, pemeriksaan medis juga menunjukkan tidak sedikit anak dengan berat badan berlebih justru mengalami defisiensi zat besi. “Banyak pasien saya yang terlihat gemuk dan sehat, tetapi setelah dicek, kadar zat besinya rendah,” ungkapnya.
Selain vitamin D dan zat besi, kekurangan mikronutrien lain seperti zinc juga disebut berkaitan dengan pembentukan jaringan saraf otak. Mikronutrien ini berperan dalam kemampuan belajar, konsentrasi, dan daya pikir anak.
Berbeda dengan kekurangan energi yang biasanya terlihat dari penurunan berat badan, defisiensi mikronutrien sering tidak menunjukkan tanda fisik yang jelas. “Kalau anak kurang makan, berat badannya bisa turun. Kalau kurang mikronutrien, tidak kelihatan dari fisiknya, tapi berdampak pada kecerdasannya,” kata dr. Mesty.
Karena itu, hidden hunger perlu diwaspadai sejak dini. Kekurangan mikronutrien dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak, terutama pada dua tahun pertama kehidupan. Pada fase ini, asupan nutrisi dan stimulasi disebut memiliki peran besar dalam menentukan kecerdasan anak, bahkan melampaui faktor genetik.

