Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham mendorong pengembangan kuliner khas Makassar agar lebih inovatif dan mampu menembus pasar nasional hingga internasional. Dorongan itu disampaikannya saat menghadiri Rendez-Vous Rasa 2026 – France Indonesia Gastronomy Week di Anjungan Pantai Losari, Jalan Penghibur, Makassar, Kamis, 24 September 2026.
Kegiatan yang digelar Alliance Française Makassar bersama mitra dari Prancis dan Indonesia tersebut menjadi ruang kolaborasi budaya melalui gastronomi, dengan mengangkat kekayaan kuliner Makassar.
Salah satu kuliner yang menjadi perhatian dalam kegiatan itu adalah barongko, kudapan tradisional Bugis-Makassar berbahan dasar pisang. Aliyah menilai pertemuan tradisi gastronomi Makassar dan Prancis dapat menjadi momentum untuk menghadirkan inovasi tanpa menghilangkan identitas kuliner lokal.
Dalam sambutannya, Aliyah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rendez-Vous Rasa 2026. Ia berharap kegiatan itu tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan melahirkan gagasan, inovasi, dan kolaborasi yang berdampak nyata bagi pengembangan kuliner lokal.
“Atas nama Pemerintah Kota Makassar, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya. Harapan saya, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi ada kesinambungan dan keberlanjutan,” ujar Aliyah.
Aliyah secara khusus menyoroti potensi barongko untuk dikembangkan dari sisi rasa, bentuk, kemasan, maupun metode penyajian agar lebih praktis dan dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas, termasuk wisatawan.
“Barongko ini merupakan makanan tradisional kami. Mudah-mudahan dari sini muncul ide dan gagasan baru, apakah dari rasanya, kemasannya atau cara penyajiannya, sehingga bisa menjadi makanan yang lebih praktis dan bisa dinikmati oleh semua kalangan,” tambahnya.
Ia juga mendorong keterlibatan para chef serta alumni sekolah kuliner internasional yang berada di Makassar untuk membangun jejaring dan menghasilkan kreasi baru. Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat menjadi pintu masuk memperkenalkan kuliner khas Makassar dalam perspektif gastronomi global.
“Kita punya banyak alumni sekolah kuliner internasional di Makassar. Mereka bisa dikumpulkan dan diajak berdiskusi untuk melahirkan ide dan kreativitas baru, sehingga tercipta kuliner hasil kolaborasi Makassar dan Prancis,” katanya.
Dalam kegiatan itu, kolaborasi gastronomi menghadirkan Chef Stéphane Carrade, chef peraih dua bintang Michelin, Chef Eko Hadiwijaya, alumnus Le Cordon Bleu Paris, serta Chef Natalia Tanyadji, pemilik Mama Toko Kue.
Aliyah berharap kolaborasi tersebut memberikan dampak lebih luas bagi sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta pelaku usaha kuliner di Kota Makassar. Ia menekankan perlunya hasil yang berkelanjutan setelah acara berakhir.
“Jangan sampai setelah kegiatan ini selesai, semuanya berhenti sebagai seremoni. Kita berharap ada hasil yang melekat, ada inovasi baru yang bisa kita persembahkan untuk Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, bahkan diperkenalkan ke dunia internasional,” tutupnya.
Bagi Pemerintah Kota Makassar, pengembangan gastronomi tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat identitas budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan peluang promosi daerah. Melalui momentum Rendez-Vous Rasa 2026, Aliyah berharap kuliner khas Makassar seperti barongko dapat terus dikembangkan dengan tetap mempertahankan karakter tradisionalnya, sekaligus memiliki daya tarik dan nilai ekonomi yang semakin luas.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar Achmad Hendra Hakamuddin, sejumlah perwakilan dan undangan dari unsur Prancis dan Indonesia, serta perwakilan dari jajaran DPD ASITA Sulsel.