BERITA TERKINI
Alivia Chairani Dorong Digitalisasi UMKM Kuliner Bekicot di Kediri Lewat Gerakan Eskargot Van Java

Alivia Chairani Dorong Digitalisasi UMKM Kuliner Bekicot di Kediri Lewat Gerakan Eskargot Van Java

KEDIRI – Deretan warung olahan bekicot di sepanjang jalan Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu potret kuliner lokal yang bertahan dari waktu ke waktu. Dari sate hingga krengsengan, aroma masakan hangat kerap menyapa pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Di balik aktivitas dapur yang sederhana, banyak warung olahan bekicot dikelola oleh perempuan, termasuk ibu rumah tangga yang mengandalkan keterampilan memasak untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Potensi berbasis kearifan lokal inilah yang menarik perhatian Alivia Chairani, perempuan 24 tahun yang akrab disapa Vivi.

Vivi mencetuskan gerakan Eskargot Van Java untuk mendampingi pemberdayaan UMKM kuliner khas daerahnya. Lulusan S1 Manajemen Universitas Islam Kediri itu mengamati adanya hambatan yang dihadapi sekitar 30 warung olahan bekicot di Plosoklaten, mulai dari minimnya variasi produk, branding yang belum optimal, hingga keterbatasan penggunaan sistem pembayaran digital.

Berbekal pengalaman bekerja sebagai Sekretaris Area Head di Bank Mandiri, Vivi memfokuskan pendampingan pada digitalisasi transaksi perbankan dan pemasaran digital. Melalui akun Instagram @alivia_chairani, ia juga kerap membagikan aktivitasnya saat mendampingi pelaku usaha kecil.

Langkah pemberdayaan tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari pengalaman organisasi dan kepemimpinan yang pernah dijalani, antara lain sebagai Purna Paskibraka Kabupaten Kediri, Duta Fakultas Ekonomi Uniska, hingga terpilih sebagai Duta Wisata Inu Kirana Kabupaten Kediri dan Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur. Jejak tersebut menjadi modal untuk membangun jejaring dan menggerakkan pemuda di sekitarnya.

“Dalam pelaksanaan gerakan ini, saya menggandeng rekan-rekan sesama Duta Wisata Inu Kirana untuk menggelar sosialisasi di balai kelurahan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (4/8/2026).

Edukasi yang diberikan difokuskan pada pembuatan platform e-commerce serta penerimaan pembayaran melalui QRIS. Vivi mengakui, pada awalnya terdapat tantangan berupa keraguan dari sebagian pemilik UMKM yang belum bersedia ikut serta. Namun, ia menyebut inisiatif tersebut kemudian menunjukkan hasil.

“Sebanyak 30 UMKM kini telah memiliki e-commerce dan fasilitas transaksi digital, yang terbukti meningkatkan volume penjualan serta memperluas jangkauan pasar baru,” kata Vivi.

Vivi menilai pemanfaatan kuliner lokal seperti krengsengan bekicot bukan sekadar upaya melestarikan tradisi, melainkan juga bagian dari penguatan kemandirian ekonomi perempuan. Ia berharap gerakan ini mendapat dukungan pemerintah agar ekosistem digitalisasi UMKM dapat berjalan berkelanjutan.

“Pemberdayaan perempuan yang sejati tidak selalu lahir dari panggung besar, melainkan dari ketekunan jemari para ibu yang mengolah potensi alam sekitar di dapur mereka,” tuturnya. Ia menambahkan, pendampingan bagi pelaku usaha, khususnya perempuan, merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. “Mari kita bangun kesadaran bersama: mendukung UMKM perempuan adalah investasi sosial terbaik untuk menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera,” ujarnya.