Pemanfaatan kuliner dan pangan lokal dinilai dapat memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain dianggap lebih dekat dengan selera anak, penggunaan bahan pangan dari daerah sekitar juga berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Ahli gizi di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Nani Maulidia, mengatakan menu berbasis pangan lokal dapat digunakan dalam MBG selama memenuhi prinsip gizi seimbang, aman, disukai anak, tersedia di daerah, dan sesuai dengan alokasi biaya.
“Tujuan pemerintah mengadakan program MBG tentu untuk meningkatkan kualitas status gizi anak bangsa. Selain itu, juga untuk memberdayakan perekonomian masyarakat setempat,” ujar Nani dalam siaran pers, Kamis (24/09/2026).
Menurut Nani, satu porsi makanan bergizi perlu mengandung karbohidrat, protein hewani atau nabati, lemak, vitamin, dan mineral. Komponen tersebut dapat dipenuhi melalui makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, serta buah yang tersedia di masing-masing daerah.
Nani menilai menu MBG yang pernah diamatinya telah memenuhi unsur gizi seimbang. Penilaian itu didasarkan pada makanan yang diterima anaknya di sekolah.
“Kalau saya lihat dari jenis bahan makanannya, sudah mencakup standar gizi seimbang. Dalam makanannya sudah ada karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Secara estimasi, porsinya juga sudah mencukupi untuk anak seusianya,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan makanan lokal tidak bisa langsung digunakan hanya karena mudah ditemukan atau merupakan makanan khas daerah. Kandungan gizi, porsi, keamanan pangan, penerimaan anak, ketersediaan bahan baku, dan biaya tetap perlu dikaji sebelum menu disajikan.
Di Sanggau, sejumlah bahan seperti pakis, rebung, daun katuk atau cangkok manis, labu kuning, dan tebu telur disebut dapat dikembangkan menjadi menu MBG. Bahan-bahan tersebut, menurut Nani, bisa diolah dengan berbagai cara agar lebih menarik bagi anak.
Salah satu menu yang dinilai berpotensi dikembangkan adalah sayur rampai, yakni olahan yang menggabungkan beberapa jenis sayuran sehingga dapat memberikan variasi vitamin dan mineral dalam satu hidangan.
“Sayur rampai tidak hanya terdiri dari satu bahan. Bisa ada rebung, daun katuk, labu kuning, dan tebu telur. Itu bagus sekali karena kandungan vitamin dan mineralnya menjadi lebih beragam,” jelas Nani.
Pangan lokal juga dinilai dapat membantu membangun rantai pasok yang lebih dekat dengan dapur MBG. Namun, pengelola tetap perlu mempertimbangkan faktor musim, ketersediaan, harga, dan anggaran.
Nani menambahkan, kreativitas pengolahan menjadi bagian penting agar makanan lokal lebih mudah diterima anak. Ia mencontohkan ikan yang dapat diolah menjadi nugget tanpa tulang dan dicampur dengan sayuran seperti wortel atau labu siam.
“Bahan makanan bisa diinovasi cara pengolahannya. Ikan dapat dibuat menjadi nugget dan dicampur dengan sayuran. Kandungan lauk dan sayurnya bisa didapat dalam satu makanan,” ujarnya.
Menurut Nani, variasi menu diperlukan karena setiap anak memiliki selera berbeda. Ia menyarankan survei sederhana dan uji penerimaan untuk membantu SPPG mengetahui makanan yang lebih disukai tanpa mengurangi standar gizi.
Di sisi lain, inovasi menu harus berjalan beriringan dengan penerapan keamanan pangan. Hal ini dinilai penting karena dapur MBG menyiapkan ratusan hingga ribuan porsi makanan dalam satu waktu.
Standar keamanan yang disebut Nani mencakup kualitas bahan baku, kebersihan dapur, kesehatan petugas, penggunaan penutup kepala, apron, masker dan sarung tangan, serta pemisahan peralatan untuk bahan mentah dan makanan matang.
“Keamanan pangan dan higienitas penting sekali. Prosesnya harus diperhatikan sejak pengolahan sampai pendistribusian kepada konsumen,” tegasnya.
Ia juga menekankan makanan harus matang sempurna, menggunakan wadah yang aman dan mudah dibersihkan, serta didistribusikan tepat waktu. Nani menilai wadah berbahan stainless steel yang digunakan dalam layanan MBG mendukung aspek keamanan karena relatif aman dan mudah dibersihkan.
Kolaborasi antara ahli gizi, pengelola dapur, petani, dan tokoh kuliner daerah dinilai dapat menghasilkan menu yang memenuhi standar gizi sekaligus dekat dengan keseharian anak. Pendekatan ini diharapkan membuat makanan lebih menarik sehingga makanan tersisa dapat ditekan.
Nani juga menilai MBG dapat membantu memperkuat kebiasaan makan sehat yang dibangun sejak keluarga. Anak perlu dikenalkan pada makanan yang beragam dan seimbang agar tidak terbiasa memilih jenis makanan tertentu saja.
“Kalau sejak dini anak sudah terbiasa disuguhkan makanan bergizi seimbang, kebiasaan itu akan terbawa sampai besar,” pungkasnya.