PATI, Jawa Tengah — Perayaan Iduladha kerap diiringi meningkatnya konsumsi daging sapi, kambing, dan domba. Daging dikenal sebagai sumber protein lengkap serta mengandung berbagai zat gizi mikro yang dibutuhkan tubuh, termasuk untuk pertumbuhan, perkembangan otak anak, dan perbaikan jaringan.
Ketua Tim Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati, Evi Rosdiana Sari, S.ST., R.D., menjelaskan bahwa daging merupakan sumber protein hewani yang mengandung asam amino esensial. Zat tersebut tidak dapat diproduksi tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan.
“Daging sangat bermanfaat bagi anak, terutama untuk pertumbuhan maupun perkembangan otak anak,” ujar Evi, Jumat (29/5/2026).
Selain protein, daging juga mengandung zinc yang berperan dalam pertumbuhan dan daya tahan tubuh, zat besi yang mudah diserap untuk mencegah anemia, serta vitamin B12 untuk fungsi saraf dan otak. Dalam 100 gram daging sapi segar, terdapat energi sekitar 200–250 kkal, protein 18–20 gram, lemak 14–18 gram, zat besi 2–3 mg, dan zinc 4–5 mg.
Meski kaya zat gizi, Evi mengingatkan konsumsi daging tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Ia menekankan pentingnya memilih jenis yang lebih sehat serta memperhatikan cara pengolahan agar kesehatan tetap terjaga.
“Mengonsumsi daging harus sesuai kebutuhan gizi masing-masing. Pilih jenis yang lebih sehat dan perhatikan cara mengolahnya agar kesehatan tetap terjaga,” tegas Nutrisionis Ahli Madya Dinkes Pati tersebut.
Evi juga mengingatkan agar prinsip gizi seimbang diterapkan dengan mengombinasikan daging bersama sayur, buah, dan variasi sumber protein lain. Ia menyebut konsumsi daging merah dan daging olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, hipertensi, penyakit jantung, obesitas, serta gangguan metabolik.
Terkait takaran, Evi menyampaikan konsumsi ideal untuk orang dewasa adalah 2–3 kali sepekan dengan porsi 40–50 gram per sajian. Sementara anak-anak dapat mengonsumsi lebih sering selama tetap menyesuaikan kebutuhan gizi.
Untuk ibu hamil, ia menyarankan 2–3 porsi sumber protein per hari, dengan tambahan 1 porsi ekstra pada trimester kedua dan ketiga untuk memenuhi kebutuhan protein dan zat besi.
Evi menambahkan, keluhan kolesterol dan hipertensi setelah Iduladha menurutnya lebih sering dipicu cara pengolahan, bukan semata karena daging.
“Kebiasaan masyarakat pakai santan kental dimasak berjam-jam itu yang menaikkan risiko kolesterol. Begitu juga garam dan kecap berlebih memicu hipertensi,” paparnya.
Ia menyarankan metode pengolahan yang lebih sehat seperti dikukus, direbus, atau dipanggang. Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu sering menggoreng serta mengurangi kebiasaan membakar hingga gosong karena dapat memicu terbentuknya zat karsinogenik.
Dari sisi pemilihan bahan, Evi menganjurkan masyarakat memilih daging yang bersih, segar, mengkilat, dengan warna merah muda hingga merah tua. Lemak berlebih sebaiknya dibuang, dan jeroan seperti hati, paru, serta usus dianjurkan untuk dihindari.
Ia juga menyebut daging putih dari unggas seperti ayam umumnya memiliki risiko kesehatan lebih rendah dibanding daging merah seperti sapi, kambing, atau kerbau.
Pesan Evi, daging bukan makanan yang harus dihindari, namun konsumsinya perlu dibatasi. Ia mengingatkan masyarakat untuk memilih jenis yang lebih sehat, mengolahnya dengan cara yang tepat, serta menyeimbangkannya dengan konsumsi sayur dan buah.

