Bangli — Aktivitas di SPPG Demulih dimulai bahkan sebelum kompor dinyalakan dan sayuran dicuci. Setiap pagi, dua sosok disebut selalu datang lebih awal: ahli gizi dan chef dapur. Keduanya berperan menyusun dan menyiapkan menu yang akan disantap ratusan anak sekolah, dengan tujuan memastikan makanan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mendukung kesehatan dan kesiapan belajar.
Ahli gizi memulai pekerjaan dengan menelaah buku menu, tabel kebutuhan gizi, serta catatan evaluasi asupan anak. Tugasnya mencakup memastikan bahan yang digunakan sesuai standar sekaligus menyeimbangkan nutrisi harian agar menu tetap variatif, menarik, dan memenuhi kebutuhan tumbuh kembang peserta didik. Dalam penyusunan menu, pemilihan bahan juga diarahkan pada pemanfaatan produk lokal, mulai dari sayur dari petani desa, telur dari peternak rumahan, hingga bumbu dapur dari UMKM setempat.
Di dapur, chef bersertifikat BNSP menjalankan rencana tersebut dalam proses memasak. Ia mengatur ritme kerja, menghitung waktu pemanasan, menjaga kebersihan area, serta mengawasi tiap tahap agar makanan aman untuk anak-anak. Tantangan lain adalah menjaga konsistensi rasa. Meski bahan dapat berubah mengikuti musim, chef tetap dituntut menghadirkan hidangan yang lezat dan familiar tanpa mengabaikan standar sanitasi yang ketat.
Dedikasi keduanya disebut tidak selalu berjalan mudah. Pada kondisi tertentu, pasokan bahan dari petani dapat menurun sehingga diperlukan improvisasi tanpa mengorbankan nilai gizi. Pada waktu lain, jumlah anak yang meningkat signifikan membuat ritme dapur harus lebih cepat. Dalam situasi tersebut, setiap keputusan tetap diambil dengan kesadaran bahwa kualitas gizi anak-anak yang sedang tumbuh menjadi taruhannya.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menilai peran ahli gizi dan chef sebagai fondasi keberhasilan layanan pangan sekolah. Dalam keterangannya pada Sabtu (13/11), ia menyatakan bahwa di balik satu porsi makanan sehat terdapat proses panjang yang dirancang tenaga profesional. “Di balik satu porsi makanan yang sehat, ada proses panjang yang dipikirkan oleh tenaga profesional. Mereka memastikan standar gizi terpenuhi tanpa kompromi,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya tenaga bersertifikat untuk menjaga kualitas layanan sekaligus melindungi anak dari risiko pangan.
Selain berdampak pada kualitas menu, kontribusi ahli gizi dan chef disebut turut membentuk ketertiban dapur dan budaya kerja profesional di tingkat desa. Dengan SOP yang dijalankan ketat, pelatihan sanitasi, serta standar penyajian yang konsisten, dapur SPPG Demulih digambarkan menjadi contoh perpaduan manajemen gizi modern dan nilai gotong royong. “Profesionalisme tenaga di SPPG membuktikan bahwa program pemerintah bisa berjalan efektif jika dikelola dengan hati, terukur, dan berbasis keahlian,” kata Khairul.