BERITA TERKINI
Ahli Gizi: Buah dalam Program MBG SD Penting, tetapi Penyajiannya Harus Aman

Ahli Gizi: Buah dalam Program MBG SD Penting, tetapi Penyajiannya Harus Aman

Buah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah dasar (SD) dinilai bukan sekadar pelengkap menu. Selain mendukung tumbuh kembang, buah juga berperan dalam membantu konsentrasi belajar anak. Namun, pemilihan jenis buah dan cara penyajiannya perlu diperhatikan agar aman dikonsumsi.

Dokter spesialis gizi klinik dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, mengatakan buah merupakan komponen penting dalam konsep gizi seimbang “Isi Piringku”. Ia menjelaskan, kebutuhan buah pada anak SD krusial karena mereka masih berada dalam masa pertumbuhan dan menjalani aktivitas belajar yang tinggi.

“Buah juga sumber vitamin, misalnya vitamin A dan C, mineral, serat alami, dan antioksidan,” ujar dr. Igus saat dihubungi pada Jumat (25/9/2026). Menurutnya, buah juga mendukung imunitas tubuh serta daya konsentrasi anak di kelas.

Selain manfaat gizi, pengenalan buah melalui program MBG juga dinilai bisa menjadi sarana edukasi untuk membentuk kebiasaan makan sehat jangka panjang. Anak yang terbiasa makan buah sejak SD disebut lebih mudah mempertahankan pola makan sehat hingga dewasa.

Meski menyehatkan, dr. Igus mengingatkan buah dapat menjadi berisiko bila disajikan dengan cara yang tidak tepat. Ia menekankan aspek ukuran, tekstur, serta kebersihan sebagai kunci keamanan konsumsi buah untuk anak SD.

Beberapa prinsip yang disorot antara lain menghindari penyajian buah dalam bentuk bulat licin seukuran kerongkongan. Ia menyarankan buah dipotong memanjang atau seukuran sekali suap karena bentuk bulat utuh berisiko tertelan langsung.

Ia juga mengingatkan pentingnya memilih tingkat kematangan yang pas. Buah yang terlalu mentah atau keras dapat menyulitkan anak mengunyah, sementara buah yang terlalu lembek juga tidak ideal.

Selain itu, biji yang keras dan licin sebaiknya dibuang terlebih dahulu sebelum buah diberikan kepada siswa. Dari sisi kebersihan, kulit buah perlu dicuci hingga bersih dan dipastikan bebas dari getah, pestisida, atau kontaminasi kotoran tanah.

Terkait buah yang berpotensi membuat anak tersedak, dr. Igus menyebut buah berbentuk bulat, bertekstur licin, dan memiliki biji keras di dalamnya—seperti kelengkeng atau anggur utuh—memang memiliki potensi risiko tersedak atau choking hazard. Risiko ini, menurutnya, bisa meningkat terutama bila anak makan sambil bercanda atau terburu-buru.

Untuk penyajian yang lebih aman, ia menyarankan kulit dan biji buah jenis tersebut dibuang terlebih dahulu, lalu daging buah dibelah menjadi dua bagian. Jika buah disajikan utuh dengan kulit, ia menilai perlu ada pendampingan guru atau pengawas saat makan serta instruksi yang jelas kepada siswa agar berhati-hati membuang bijinya.

Dr. Igus juga menyinggung perlunya evaluasi menu buah dalam program MBG, yang menurutnya perlu dilihat dari dua sisi yang saling melengkapi.