Sebanyak 2.500 pekerja industri rokok di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengikuti edukasi bertajuk Belanja Pinter Gizine Bener untuk meningkatkan pemahaman pemenuhan gizi seimbang sebagai upaya pencegahan stunting atau tengkes.
Senior Manager Bakti Sosial Djarum Foundation David Setiadi mengatakan edukasi tersebut menyasar 2.500 karyawan yang tersebar di lima lokasi produksi sigaret kretek tangan (SKT), yakni Blolo, Besito, Tanjungkarang 1, Tanjungkarang 2, dan Garung. Ia menyebut kegiatan ini mengajak pekerja memahami bahwa langkah hidup sehat dimulai dari pilihan makanan di piring dan kebiasaan berbelanja yang tepat.
Dalam kegiatan itu, peserta lebih dulu mendapat pembekalan mengenai konsep gizi seimbang serta pentingnya memilih bahan pangan sehat bagi keluarga. Setelahnya, setiap peserta menerima uang belanja Rp25.000 untuk digunakan berbelanja di pasar terdekat dengan tujuan membeli bahan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi seimbang.
Hasil belanja kemudian dinilai tim juri berdasarkan kelengkapan komponen gizi, meliputi sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayuran, buah-buahan, serta pelengkap seperti susu. Peserta juga mengikuti permainan edukatif yang membahas pola makan sehat dan pentingnya pemenuhan gizi keluarga.
David menyampaikan program ini ditujukan untuk membiasakan pola hidup sehat, dengan harapan pembelajaran yang diterima dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta yang memenuhi seluruh kriteria mendapatkan hadiah tambahan berupa paket sembako, sementara tiga peserta terbaik menerima paket sembako lengkap. Penilaian dilakukan oleh tim ahli gizi dengan mempertimbangkan hasil belanja, jawaban peserta saat sesi edukasi, serta kemampuan mengelola anggaran secara efisien.
Selain lomba belanja, peserta juga diminta membuat konten tentang cara mengolah bahan belanja menjadi menu bergizi untuk dinikmati bersama keluarga. Langkah tersebut diharapkan memperkuat penerapan pola makan sehat di lingkungan rumah tangga.
Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation Achmad Budiharto menambahkan, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pencegahan stunting, tetapi juga membangun kebiasaan keluarga dalam memilih dan mengolah makanan bergizi dengan anggaran terbatas. Menurutnya, latihan semacam ini perlu diulang agar menjadi kebiasaan.
Salah satu peserta, Siti Fatimah, pekerja SKT asal Desa Setrokalangan, mengaku memperoleh pengetahuan baru tentang kebutuhan gizi keluarga. Ia mempraktikkan materi pembekalan dengan berbelanja menggunakan anggaran Rp25.000, antara lain membeli beras sebagai sumber karbohidrat, ikan lele untuk protein hewani, tahu dan tempe sebagai protein nabati, bayam sebagai sayuran, jeruk dan klengkeng sebagai buah, serta susu sebagai pelengkap gizi.
Ia menilai edukasi tersebut memberi gambaran bahwa pemenuhan gizi keluarga tidak selalu membutuhkan biaya besar, asalkan mampu memilih bahan pangan secara tepat dan seimbang.