BERITA TERKINI
10 Ide Jualan Kuliner di Teras Rumah atau Minimarket yang Dinilai Menguntungkan pada 2026

10 Ide Jualan Kuliner di Teras Rumah atau Minimarket yang Dinilai Menguntungkan pada 2026

Memulai bisnis kuliner skala kecil dengan memanfaatkan area strategis kian menjadi pilihan wirausaha pemula. Konsep berjualan di teras rumah atau teras minimarket dinilai menarik karena biaya operasional relatif efisien dan akses konsumen yang mudah. Posisi teras yang berada di jalur lalu lalang juga memberi visibilitas tinggi tanpa perlu anggaran pemasaran besar.

Memasuki 2026, tren belanja praktis masyarakat urban diproyeksikan mendorong peluang usaha makanan dan minuman siap beli di lokasi yang mudah dijangkau. Namun, pemilihan jenis usaha tetap perlu mempertimbangkan permintaan pasar, modal awal, dan potensi pengembalian investasi.

Berikut 10 pilihan usaha kuliner yang disebut berpotensi menguntungkan untuk dijalankan di teras rumah atau teras minimarket, beserta kisaran modal awalnya.

1. Es teh kekinian
Es teh dengan varian rasa seperti teh lemon, teh tarik, atau teh susu disebut memiliki pasar luas dan biaya bahan baku yang ekonomis. Kisaran modal awal Rp2.500.000–Rp3.500.000, mencakup booth sederhana, dispenser, mesin cup sealer, serta stok bahan untuk pekan pertama.

2. Gorengan premium
Gorengan dengan sentuhan modern—misalnya tahu crispy isi, tempe mendoan spesial, atau singkong keju—dinilai dapat menaikkan nilai jual, terutama bila disajikan dengan kemasan higienis dan label merek. Modal awal sekitar Rp1.500.000–Rp2.500.000 untuk kompor, wajan, etalase, dan stok bahan mentah.

3. Takoyaki dan okonomiyaki
Street food Jepang seperti takoyaki dan okonomiyaki disebut terus diminati. Proses memasak dan aroma yang kuat dianggap membantu menarik perhatian pengunjung. Modal awal Rp3.000.000–Rp4.500.000 untuk cetakan khusus, booth portabel, peralatan pendukung, serta stok awal bahan.

4. Ayam goreng crispy rumahan
Ayam goreng homemade dengan bumbu khas, pilihan tingkat pedas, atau lapisan unik dinilai punya pasar besar karena cocok untuk berbagai waktu makan. Produk juga disebut dapat bertahan beberapa jam dalam penghangat. Investasi awal Rp4.000.000–Rp6.000.000 untuk penggorengan, etalase penghangat, freezer kecil, dan pasokan ayam awal.

5. Corndog dan sosis bakar
Menu praktis dengan opsi topping seperti keju mozarella, saus sambal, atau mayones pedas disebut digemari generasi muda. Penggunaan bahan beku yang tahan lama dinilai mengurangi risiko bahan rusak. Modal awal Rp2.000.000–Rp3.000.000 untuk pemanggang gas, peralatan pendukung, freezer, dan inventaris makanan beku.

6. Jasuke (jagung susu keju)
Jasuke dinilai sebagai camilan mengenyangkan dengan proses pembuatan sederhana dan cepat. Bahan baku jagung lokal yang melimpah juga disebut mendukung kestabilan pasokan. Modal awal Rp1.000.000–Rp1.500.000 untuk panci kukus besar, kompor portabel, kotak pendingin, dan persediaan jagung pipil.

7. Dessert box dan salad buah
Dessert dalam kemasan praktis disebut terus diminati, terutama karena tampilan yang menarik dan cocok untuk kebutuhan konsumsi cepat. Variasi menu musiman dengan buah lokal juga disebut dapat menekan biaya. Investasi Rp1.500.000–Rp2.000.000 untuk chiller display, kemasan, hand mixer, dan bahan baku.

8. Telur gulung
Telur gulung disebut kembali populer dengan tambahan topping seperti keju atau sosis. Usaha ini dinilai ramah pemula karena kebutuhan peralatan dan keterampilan relatif sederhana. Kisaran modal Rp800.000–Rp1.500.000 untuk wajan khusus, kompor, meja lipat, dan bahan dasar.

9. Thai bread dan roti bakar premium
Roti panggang dengan isian dan topping beragam dinilai memicu pembelian impulsif karena aroma dan tingkat kustomisasi yang tinggi. Jam ramai sore hingga malam disebut selaras dengan kebiasaan ngemil. Modal awal Rp2.500.000–Rp3.500.000 untuk pemanggang datar, oven pemanggang roti, konter display, dan olesan premium.

10. Kopi gula aren artisanal
Kopi dengan gula aren disebut menawarkan diferensiasi berbasis bahan lokal, sementara metode seduh manual seperti pour over atau Vietnamese drip dinilai memberi pengalaman berbeda. Kisaran biaya awal Rp3.500.000–Rp5.000.000 untuk peralatan manual brew, penggiling, peralatan saji, dan stok biji kopi awal.

Perkiraan balik modal
Waktu pengembalian modal disebut bervariasi bergantung jenis usaha, lokasi, dan strategi pemasaran. Usaha bermodal kecil seperti telur gulung atau jasuke diperkirakan bisa mencapai titik impas dalam 1–2 bulan dengan asumsi penjualan konsisten. Usaha bermodal menengah seperti es teh atau gorengan premium diperkirakan 2–4 bulan, sedangkan investasi lebih besar seperti ayam goreng atau booth kopi sekitar 4–6 bulan.

Perizinan jika berjualan di teras minimarket
Untuk legalitas, disebut diperlukan perjanjian sewa atau kerja sama dengan pemilik minimarket dalam bentuk kontrak tertulis (bagi hasil atau sewa bulanan). Selain itu, pelaku usaha juga dapat mengurus SIUP Mikro atau NIB melalui OSS. Sertifikat halal disebut relevan jika menyasar pasar muslim, serta izin kesehatan dari dinas terkait terutama untuk usaha makanan.

Strategi menghadapi kompetitor
Dalam persaingan lokasi, diferensiasi produk disebut menjadi kunci, misalnya melalui resep khas, porsi, atau harga. Program loyalitas sederhana seperti “beli 5 gratis 1” juga disebut dapat membantu membangun pelanggan tetap, disertai inovasi menu berkala.

Komponen biaya operasional bulanan
Beberapa pos biaya yang disebut perlu diperhitungkan antara lain sewa lokasi (Rp500.000–Rp1.500.000 untuk teras minimarket), bahan baku (30–40% dari omzet), gas LPG (Rp100.000–Rp300.000), listrik (Rp150.000–Rp400.000), dan kemasan (5–10% dari omzet). Ada pula transportasi belanja bahan (Rp200.000–Rp500.000) serta pemeliharaan peralatan (Rp100.000–Rp200.000). Jika mempekerjakan karyawan, gaji disebut berkisar Rp1.500.000–Rp2.500.000.