Universitas Negeri Padang (UNP) mendorong pengembangan kuliner tradisional Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, melalui penerapan teknologi pangan retort. Teknologi ini diperkenalkan untuk memperpanjang daya simpan produk, sekaligus membuka peluang pemasaran kuliner lokal ke wilayah yang lebih luas.
Ketua Tim Pengabdian UNP, Riski Gusri Utami, M.Sc., mengatakan Nagari Taram memiliki beragam kuliner tradisional yang berpotensi menjadi produk unggulan daerah, seperti gulai obu aia, punju boluk, tumi itik, cabodak bihu, dan singgang gantuang. Namun, sejumlah produk tersebut masih menghadapi keterbatasan dalam pengolahan dan daya simpan.
“Taram memiliki banyak kuliner unik, seperti gulai obu aia, punju boluk, tumi itik, cabodak bihu, dan singgang gantuang. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan teknologi yang dapat membantu masyarakat mengembangkan produk kuliner lokal agar memiliki daya simpan lebih panjang dan berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Riski pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurut Riski, penerapan teknologi retort juga relevan dengan kondisi Nagari Taram yang memiliki risiko banjir. Produk pangan siap saji dengan daya simpan lebih panjang dinilai dapat menjadi alternatif penyediaan pangan ketika akses terhadap bahan pangan segar maupun aktivitas memasak masyarakat terkendala dalam situasi darurat.
Program ini dilaksanakan melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) selama dua hari, 16–17 September 2026, di Kantor Wali Nagari Taram. Kegiatan melibatkan ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM kuliner dengan tema pemberdayaan UMKM melalui teknologi pangan retort untuk penguatan ekonomi kreatif dan mitigasi bencana.
Pada hari pertama, peserta mendapat edukasi mengenai teknologi retort sederhana dan keamanan pangan, mencakup prinsip sterilisasi, hubungan suhu dan tekanan, pemilihan kemasan retort pouch, serta penerapan higiene dalam pengolahan pangan. Peserta juga diperkenalkan pada penerapan teknologi tersebut untuk kuliner khas Taram, yakni tumih itiak.
Setelah sesi materi, peserta mengikuti praktik pengolahan tumih itiak menggunakan panci presto modifikasi yang dilengkapi pengukur suhu dan tekanan, serta panci presto standar. Praktik meliputi penimbangan dan pengisian produk, pengemasan vakum, proses pemanasan dan pendinginan, hingga evaluasi warna, aroma, tekstur, dan rasa sebelum dan sesudah proses retort.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi standardisasi resep yang disampaikan oleh Ruhul Fitri Rosel, S.Pd., M.Pd. Dalam sesi ini, peserta bersama tim membahas konsistensi bahan, teknik pengolahan awal, ukuran potongan daging, serta berat produk dalam setiap kemasan. Standardisasi resep disebut menjadi langkah penting agar kualitas produk lebih konsisten sebelum masuk tahapan retort.
Pada hari kedua, peserta mendapat pelatihan pengemasan, pelabelan, dan pemasaran digital yang disampaikan praktisi Defia Wenisa, S.E. Peserta juga diajak membuat logo dan label sederhana dengan bantuan AI dan Canva, serta mempelajari pembuatan konten promosi melalui TikTok, Facebook, dan Instagram Reels.
Materi pengemasan dan pelabelan kemudian diterapkan langsung dengan menempelkan label yang telah disiapkan tim pada kemasan produk tumih itiak khas Taram yang telah melalui proses retort. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan, tetapi juga menghubungkannya dengan tampilan produk dan strategi pemasaran.
Wali Nagari Taram, Nanang Anwar, S.E., menyambut program tersebut karena dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama untuk mendukung penyediaan pangan saat bencana banjir. “Saya berharap kuliner khas Taram dapat dikembangkan secara berkelanjutan sehingga memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim pengabdian UNP menyerahkan sejumlah peralatan pengolahan pangan kepada Pemerintah Nagari Taram. Peralatan tersebut terdiri atas satu unit panci retort presto modifikasi yang dilengkapi pressure gauge dan temperature gauge, tiga unit timbangan digital, dua unit termometer digital, satu unit power pack vacuum sealer, serta satu paket retort pouch berisi 100 kemasan. Penyerahan dilakukan oleh Ketua Tim Pengabdian, Riski Gusri Utami, kepada Wali Nagari Taram, Nanang Anwar.
Melalui program ini, UNP mendorong teknologi retort tidak hanya sebagai inovasi pengolahan pangan, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan nilai tambah UMKM sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Kegiatan tersebut juga disebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2, SDG 8, dan SDG 9.