JAKARTA — Kekayaan kuliner Indonesia kembali menjadi rujukan dalam pengembangan menu yang menyesuaikan perubahan selera konsumen. Melalui inisiatif tahunan Future Menu 2026, Unilever Food Solutions (UFS) mengangkat dua tren kuliner, yakni Culinary Roots dan Street Food Couture, sebagai pendekatan untuk mengeksplorasi masakan lokal dan menerjemahkannya ke dalam sajian masa kini.
Berbeda dari pendekatan yang hanya mengandalkan prediksi tren, UFS tahun ini membawa eksplorasi ke lapangan lewat Culinary Trip. Sepanjang Juni hingga Juli 2026, sebanyak 18 chef mengikuti perjalanan kuliner ke sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam kegiatan itu, para chef mempelajari rasa, bahan, teknik pengolahan, serta cerita budaya di balik berbagai hidangan lokal.
Inspirasi dari perjalanan tersebut kemudian dikembangkan menjadi rangkaian Future Menu Collaboration di restoran mitra UFS. Menu yang dihadirkan merupakan interpretasi para chef terhadap kuliner lokal dengan tetap mempertahankan karakter utama hidangan asalnya.
Country Lead Marketing UFS Indonesia Raditya Beer mengatakan, Future Menu dikembangkan setiap tahun sebagai panduan untuk melihat perkembangan preferensi konsumen sekaligus memetakan peluang yang bisa dieksplorasi chef dan pelaku usaha kuliner. Pernyataan itu ia sampaikan dalam talkshow pada acara Media Gathering Unilever Food Solutions (UFS) yang membahas aktivitas di bawah inisiatif Future Menu 2026 di Jakarta, Rabu (30/9).
Menurut Raditya, penyusunan tren dilakukan melalui kombinasi laporan industri, analisis tren media sosial, masukan dari chef UFS, umpan balik dari ratusan chef profesional, serta pengamatan terhadap konsumen Gen-Z di berbagai negara. Untuk Indonesia, hasil riset tersebut dipersonalisasi dengan menempatkan Culinary Roots dan Street Food Couture sebagai dua tren utama.
Kecenderungan konsumen terhadap makanan yang dekat dengan keseharian menjadi salah satu latar belakang pengembangan tema itu. Survei Jakpat pada 2025 yang dikutip dalam materi UFS menunjukkan 61 persen masyarakat memilih makan di warung lokal, sedangkan 58 persen memilih pedagang kaki lima.
Data tersebut dinilai menggambarkan bahwa makanan yang familiar masih memiliki tempat penting dalam pola konsumsi masyarakat. Di sisi lain, pengalaman menemukan makanan lokal juga menjadi bagian dari aktivitas wisata, termasuk fenomena snackpacking di kalangan Gen-Z yang menjadikan eksplorasi jajanan lokal sebagai salah satu tujuan perjalanan.
Raditya mengatakan Future Menu 2026 ingin memberikan inspirasi nyata bahwa pengembangan kuliner Indonesia dapat berangkat dari kekayaan lokal. Ia menyebut, melalui dua tren tersebut, kekayaan kuliner daerah dapat terus dieksplorasi menjadi pengalaman baru yang lebih relevan bagi penikmat kuliner masa kini.
Menelusuri kuliner Jawa Tengah dan Jawa Timur
Eksplorasi kuliner dilakukan melalui perjalanan yang mencakup 12 titik pemberhentian di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam perjalanan itu, para chef tidak hanya mencicipi hidangan, tetapi juga mempelajari konteks di balik makanan, mulai dari bahan yang digunakan hingga teknik pengolahan yang diwariskan antargenerasi.
Culinary Storyteller sekaligus host Culinary Trip Future Menu 2026, Ade Putri, mengatakan perjalanan tersebut menunjukkan bahwa inspirasi tidak selalu berasal dari hidangan yang sudah populer. Menurutnya, masakan rumahan, bahan pangan yang tumbuh di lingkungan masyarakat, hingga teknik memasak tradisional dapat menjadi sumber gagasan untuk mengembangkan sajian baru.
Ade menilai, ketika melihat langsung dari sumbernya, satu hidangan dapat menyimpan banyak lapisan cerita. Hal itu, kata dia, memberi ruang eksplorasi bagi para chef untuk menempatkan kuliner lokal bukan hanya sebagai warisan yang dirayakan, melainkan sebagai titik awal untuk berkreasi.
Pendekatan tersebut kemudian diterapkan saat para chef kembali ke restoran masing-masing. Pengalaman selama perjalanan digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan menu yang disesuaikan dengan karakter restoran dan konsumennya.
Dari hidangan rumahan ke interpretasi modern
Salah satu chef peserta perjalanan adalah Chef Freddie Salim dari SILK Bistro. Ia mengatakan pengalaman selama Culinary Trip memberikan perspektif baru mengenai kemungkinan pengembangan kuliner Indonesia.
SILK Bistro kemudian mengembangkan Future Menu Collaboration bertema Homage to Home, yang terdiri atas Tahu Telur, Sate Srepeh, Beef Garang Asem, dan Ayam Bakar Kelopo. Freddie menyebut kreasi itu mengambil inspirasi dari sajian rumahan klasik khas Jawa Tengah. Elemen utama hidangan tradisional tetap dipertahankan, sementara penyajian dan interpretasinya disesuaikan dengan pendekatan restoran.
Selain kreasi dari SILK Bistro, sejumlah restoran mitra UFS juga mengembangkan menu berbasis inspirasi kuliner lokal. Di antaranya Sate Kerbau Lilit dan Es Dawet Bango dari Dailah Sajian Kontemporer, Ikan Dasun Tuturuga dari Mata Karanjang, Sate Gurita Serapah dari Umatis, serta Pipi Sapi Sambal Tongkol dari BEER HALL.
Menu Future Menu Collaboration lainnya disebut tersedia hingga November 2026 di berbagai restoran mitra, antara lain Serra Serri, GIOI, Akasta, Paras Nusantara, Bumi Aki Signature, TAMU, About All Day, Bakerzin, Brother Chang, Cork & Screw, Esa Restaurant, Kayu Manis, Mitte, Salira, Sate Khas Senayan, Semaja, The Bowery, serta Tide & Table.
Dokumentasi untuk pelaku industri kuliner
Selain menghadirkan menu di restoran, UFS merangkum temuan dan inspirasi dari perjalanan tersebut dalam bentuk e-Magazine berjudul Inspirasi Rasa Nusantara. Materi itu disiapkan sebagai referensi bagi pelaku industri kuliner yang ingin mengeksplorasi kembali bahan, teknik, serta kekayaan cita rasa dari berbagai daerah di Indonesia.
Raditya mengatakan eksplorasi kuliner lokal dapat menjadi salah satu cara untuk menemukan kemungkinan baru dalam pengembangan menu. Melalui Future Menu 2026, UFS ingin mendorong pelaku industri untuk mengeksplorasi kekayaan kuliner Indonesia dan menerjemahkannya secara relevan bagi konsumen masa kini.
Dengan pendekatan tersebut, Future Menu 2026 menempatkan kuliner tradisional bukan hanya sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk pengembangan menu yang mengikuti perubahan preferensi konsumen.