Tren perawatan kulit berbahan dasar hewani kembali menjadi perbincangan. Produk seperti balm berbasis lemak sapi (beef tallow) hingga perawatan wajah menggunakan sperma salmon kini semakin sering muncul di media sosial, ditawarkan di spa kelas atas, dan beredar di pasar lokal.
Di tengah popularitasnya, para ahli mengingatkan bahwa klaim manfaat dari produk-produk tersebut belum ditopang bukti ilmiah yang kuat. Meski dipromosikan sebagai alternatif “alami” dibanding bahan sintetis, penggunaan bahan hewani dalam skincare tetap memunculkan pertanyaan soal keamanan dan efektivitasnya.
Salah satu contoh yang mencerminkan tren ini datang dari California, Amerika Serikat. Seorang peternak bernama Bryan Vander Dussen, yang sebelumnya bekerja di sektor peternakan sapi perah lalu beralih menjual daging sapi, dalam setahun terakhir bersama istrinya mulai memproduksi balm dari lemak organ sapi yang diolah menjadi produk perawatan kulit.
Dalam prosesnya, tantangan utama yang mereka hadapi adalah membuat formula yang tidak beraroma seperti daging. Untuk mengurangi bau khas lemak sapi, mereka menambahkan bahan seperti lavender dan jeruk agar aromanya lebih netral.
Fenomena tersebut dinilai sejalan dengan meningkatnya minat konsumen terhadap produk perawatan kulit yang dianggap lebih “alami”, termasuk yang bersumber dari hewan. Pelembap berbasis lemak sapi dan facial berbahan sperma salmon disebut-sebut sebagai bagian dari gelombang ini, dengan promosi yang menekankan kesan natural.
Profesor sosiologi dari Rutgers University, Norah MacKendrick, menilai tren tersebut berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap dampak bahan kimia dalam produk perawatan pribadi. “Dalam beberapa tahun terakhir, ada gerakan yang mendorong konsumsi produk berbasis hewani. Hal ini tampaknya juga merambah ke dunia kosmetik,” ujarnya.
MacKendrick juga menyoroti faktor sosial yang ikut mendorong tren, termasuk peran ibu yang semakin memperhatikan keamanan produk untuk anak-anak. Sementara itu, tren seperti penggunaan sperma salmon turut dipengaruhi persepsi bahwa negara seperti Korea Selatan lebih inovatif dalam dunia skincare, sehingga produk yang diasosiasikan dengan tren global tersebut lebih mudah menarik perhatian.

