BERITA TERKINI
Tren Kencan Naik Motor Viral di Vietnam, Tawarkan Pengalaman Romantis dengan Produksi Profesional

Tren Kencan Naik Motor Viral di Vietnam, Tawarkan Pengalaman Romantis dengan Produksi Profesional

Tren kencan dengan menyewa sepeda motor tengah viral di Vietnam, terutama di kalangan anak muda. Layanan ini menawarkan pengalaman “kencan” berupa tur kota dengan pengendara pria, lengkap dengan dokumentasi video yang direkam dan diedit secara profesional untuk dibagikan kepada pelanggan.

Pada sebuah malam sejuk di Desember 2025, My Kim (25) mengikuti sesi kencan semacam itu di Ho Chi Minh City. Ia duduk di belakang sepeda motor sambil berpegangan pada seorang pria yang baru dikenalnya. Perjalanan mereka melintasi jalanan kota yang dipenuhi cahaya neon, sementara dua sepeda motor lain mengikuti dari belakang—ditumpangi kru produksi yang terdiri dari sutradara dan juru kamera.

Selama perjalanan, Kim menerima arahan melalui radio di dalam helmnya, mulai dari cara meletakkan tangan hingga ekspresi wajah. Momen-momen tersebut direkam untuk kemudian diedit oleh tim profesional sebelum hasilnya dikirimkan kepadanya. Kim menyebut pengalaman itu seperti menjadi pemeran utama dalam drama romantis. Untuk paket yang ia pilih, layanan tersebut dibanderol 2 juta dong (sekitar Rp 1,3 juta).

Menurut Kim, layanan ini seolah mewujudkan gambaran romantis yang telah lama ia idamkan. Sebelum populer di Vietnam, konsep serupa lebih dulu viral di China, Jepang, dan Korea Selatan, di mana “pendamping” pria profesional menjadi pilihan untuk tur kota, baik bagi warga lokal maupun turis asing.

Survei yang dilakukan VnExpress mencatat terdapat hampir 10 kelompok ojek di Ho Chi Minh City dan lima di Hanoi yang menawarkan layanan sejenis. Seluruhnya dilaporkan sudah penuh dipesan untuk dua bulan ke depan.

Di media sosial, tren yang kerap disebut “Motor Vietnam” menjadi perbincangan luas lewat unggahan foto dan video yang meraih jutaan penonton. Popularitasnya juga memicu diskusi di forum-forum sepeda motor berkapasitas tinggi, termasuk soal peluang pendapatan baru bagi pengendara yang memiliki penampilan dan perlengkapan yang dianggap sesuai.

Di Vietnam, layanan ini disebut telah menyesuaikan diri dengan selera dan anggaran lokal. Sejumlah orang mengaku terkejut karena kualitas produksi dan profesionalisme agensi-agensi yang mengelolanya dinilai setara dengan layanan serupa di luar negeri, namun dengan biaya yang lebih murah. Di Ho Chi Minh City, pelanggan membayar mulai dari beberapa ratus ribu hingga beberapa juta dong, bergantung pada paket yang dipilih. Layanan ini juga tidak hanya diminati anak muda, tetapi turut menarik perhatian perempuan paruh baya.

Salah satunya Nguyen Hanh (43), yang mengaku kesibukan kerja membuatnya kerap mengabaikan kebutuhan emosional. Ia menyewa pasangan kencan dengan harapan bisa merasakan kembali romantisme masa muda. Dalam pengalamannya, ia merasa diperhatikan ketika pengendara membantu memasangkan helm, membantunya naik ke motor, dan bersikap sopan sepanjang perjalanan. Meski mengaku sempat malu, klip berdurasi 30 detik dari kencannya kemudian meraih puluhan ribu penayangan di media sosial.

Nguyen Ngoc Phuoc, pendiri grup Dream Moto di Ho Chi Minh City, mengatakan permintaan meningkat tajam sejak awal Desember 2025. Setelah video pertama mereka tayang, grup tersebut menerima ribuan pertanyaan, terutama dari perempuan berusia 20 hingga 40 tahun.

Dream Moto menawarkan layanan dengan tarif 700 ribu hingga 950 ribu dong (sekitar Rp 447 ribu hingga Rp 607 ribu) per video, termasuk pengalaman berkendara dengan sepeda motor berkapasitas tinggi. Menurut Phuoc, sebagian pelanggan bahkan menyewa pengendara untuk parade ulang tahun.

Untuk menjaga kualitas, timnya membatasi layanan maksimal tiga klien per malam. Satu sesi pengambilan gambar biasanya melibatkan empat hingga lima orang, termasuk pengendara, juru kamera, dan teknisi pencahayaan. Phuoc menegaskan pihaknya mematuhi peraturan lalu lintas dan mengandalkan teknik pengambilan gambar, sudut kamera, serta pencahayaan untuk menciptakan daya tarik, bukan aksi berbahaya.

Pham Ngoc Trung, mantan dekan pengembangan budaya di Akademi Jurnalisme dan Komunikasi, menilai fenomena ini bagian dari “ekonomi emosi” yang berkembang secara global pada era pasca-COVID. Ia berpendapat tingginya permintaan menunjukkan adanya pergeseran nilai tradisional di Vietnam, termasuk berkurangnya anggapan bahwa perempuan hanya seharusnya mengekspresikan kasih sayang romantis kepada suami atau pacar.