BERITA TERKINI
Tahu Susu dari Jogoroto Jombang Tetap Diminati, Produksi dan Omzet Sempat Turun Saat Pandemi

Tahu Susu dari Jogoroto Jombang Tetap Diminati, Produksi dan Omzet Sempat Turun Saat Pandemi

Tahu susu (tasu) produksi UD Tarik Jaya di Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, masih memiliki peminat. Usaha ini dirintis sejak adanya pameran Muktamar NU yang digelar di Jombang pada 2014 dan terus berjalan hingga kini.

Menurut pemilik UD Tarik Jaya, Aris (33), tasu yang diproduksinya memiliki karakter berbeda dibanding tahu pada umumnya. Teksturnya disebut lembut di bagian dalam dan renyah di bagian luar. Produk tersebut juga telah mengantongi izin dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang.

UD Tarik Jaya menawarkan beberapa varian rasa, antara lain original, keju, dan pedas. Seluruh varian dijual dengan kisaran harga Rp 10 ribu per boks berisi 50 buah. Sementara kemasan plastik dijual sekitar Rp 2 ribu untuk isi 10 buah.

Aris menjelaskan, meski disebut tahu susu, produk itu bukan berasal dari campuran susu asli. Ia menyebut rasa khasnya berasal dari sari kedelai yang digunakan sebagai campuran.

Dari sisi pemasaran, tasu produksi Jogoroto telah didistribusikan ke luar kota, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Solo. Aris mengatakan, sebelumnya kapasitas pesanan bisa mencapai 500 boks dalam sekali order. Namun saat pandemi Covid-19, jumlah itu turun menjadi sekitar 100 boks per pesanan.

Nila (26), istri Aris, menambahkan bahwa pada awal masa pandemi produksi tasu sempat meningkat. Ia menyebut produksi per hari pernah mencapai lebih dari seribu boks. Namun mulai Juli hingga saat ditemui pada Sabtu (12/9/2020), produksi menurun menjadi sekitar 200 boks per hari.

“Dulu waktu awal-awal pandemi sangat ramai dan meningkat drastis bahkan lebih ramai dari hari normal. Namun, sekarang mengalami penurunan dan kemungkinan karena Covid-19 atau rasa bosan saja,” ujar Nila.

Penurunan produksi turut berdampak pada omzet. Aris mengatakan, sebelumnya ia bisa meraup omzet sekitar Rp 9 juta per hari, tetapi belakangan turun menjadi kisaran Rp 900 ribu per hari.

Meski demikian, Aris dan Nila menyatakan tetap bersyukur usahanya masih bisa berjalan. “Alhamdulillah kita masih bisa produksi tasu setiap harinya kecuali hari Minggu libur,” kata Aris.