BERITA TERKINI
Sosialisasi Desinfektan Alami dari Jeruk Nipis dan Cuka Digelar untuk Cegah PMK di Desa Cepoko, Sragen

Sosialisasi Desinfektan Alami dari Jeruk Nipis dan Cuka Digelar untuk Cegah PMK di Desa Cepoko, Sragen

Sragen, 26 Januari 2025 — Upaya pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak ruminansia dilakukan di Desa Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini menyasar peternak setempat melalui sosialisasi dan demonstrasi pembuatan desinfektan alami berbahan jeruk nipis dan cuka, sekaligus penyerahan produk desinfektan kepada peternak.

Warga Desa Cepoko diketahui banyak memelihara hewan ternak. Sementara itu, dalam beberapa waktu terakhir diberitakan adanya penyakit menular pada hewan berkuku belah atau ruminansia besar di daerah Grobogan. Penyakit ini dapat menular cepat pada hewan seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Selain berdampak pada kesehatan ternak, wabah PMK juga disebut merugikan dari sisi perekonomian karena sebagian pasar hewan ditutup sehingga aktivitas jual beli ternak tidak diperbolehkan.

PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) merupakan penyakit menular pada hewan berkuku belah yang disebabkan virus RNA dari genus Apthovirus dan famili Picornaviridae. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyerang ternak seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba, hingga hewan liar. Gejala yang disebutkan antara lain luka atau lepuh pada gusi, lidah, hidung, dan kuku; kesulitan berjalan; air liur berlebihan; serta penurunan nafsu makan.

Salah satu langkah pengendalian penyebaran PMK adalah penerapan biosekuriti kandang, termasuk pembersihan dan penyemprotan desinfektan setelah sanitasi kandang dilakukan. Dalam bidang peternakan, biosekuriti dipahami sebagai upaya mencegah bibit penyakit masuk ke area peternakan agar produktivitas ternak meningkat. Komponen yang menjadi perhatian dalam biosekuriti meliputi isolasi, pengendalian lalu lintas, serta pembersihan dan desinfeksi.

Dalam kegiatan tersebut, disampaikan bahwa masih ada peternak yang belum memberi perhatian memadai pada pencegahan PMK, khususnya pada ternak ruminansia. Disebutkan pula bahwa sebagian peternak belum rutin membersihkan kandang, dan ada ternak yang mati tanpa sebab. Selain itu, tidak semua peternak melakukan penyemprotan desinfektan setelah kandang dibersihkan, padahal langkah itu dinilai penting untuk menekan bakteri di lingkungan kandang.

Desinfektan alami yang diperkenalkan dibuat dari jeruk nipis dan cuka. Jeruk nipis disebut memiliki manfaat sebagai antiseptik dan antibakteri, sedangkan cuka dipaparkan sebagai asam kuat yang dapat bertindak membunuh virus dan bakteri. Kombinasi keduanya diharapkan dapat menekan pertumbuhan bakteri atau virus sehingga ternak terhindar dari penyakit berbahaya.

Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi ini dilakukan oleh Nurillah Dwi Oktavia, mahasiswa S1 Peternakan. Sasaran program adalah peternak di Desa Cepoko RT 1–6, dengan fokus pada peternakan berkomoditas ruminansia karena mayoritas warga memelihara sapi, kambing, dan domba. Selain memberikan penjelasan mengenai pencegahan PMK melalui biosekuriti, program ini juga menghasilkan produk desinfektan alami yang dibagikan kepada peternak.

Pelaksanaan demonstrasi dilakukan dengan mengumpulkan warga pemilik ternak ruminansia di balai desa dan menggunakan media leaflet berjudul “Pembuatan Desinfektan Alami dalam upaya pencegahan PMK”. Leaflet dibagikan agar peternak lebih mudah memahami langkah-langkah pembuatan desinfektan, bersamaan dengan pembagian produk desinfektan alami.

Adapun langkah pembuatan desinfektan yang dipraktikkan adalah mencampurkan 150 ml cuka ke dalam 300 ml air dengan perbandingan 1:2. Setelah itu, ditambahkan perasan jeruk nipis sebanyak 12–24 tetes atau menggunakan setengah potongan jeruk nipis. Cairan kemudian dimasukkan ke botol semprot dan siap digunakan.

Melalui sosialisasi dan demonstrasi ini, peternak diharapkan dapat menerapkan biosekuriti dengan lebih baik, sekaligus terdorong membuat desinfektan sendiri dari bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.