Banyak orang merasa sudah berada di jalur yang benar saat memilih makanan berlabel “sehat” untuk mendukung program diet. Namun, sejumlah makanan yang tampak baik justru bisa menyimpan gula, lemak, atau kalori tinggi—terutama bila dikonsumsi berlebihan.
Kebiasaan mengonsumsi makanan semacam ini tanpa disadari dapat menghambat penurunan berat badan, bahkan berisiko berdampak kurang baik bagi kesehatan. Karena itu, penting untuk mengenali makanan yang kerap dianggap sehat, tetapi tetap perlu dikonsumsi dengan lebih bijak.
Dikutip dari DailyMailUK, ahli gizi asal London Lily Soutter menyebut ada lima jenis makanan yang sering dicap sehat, namun perlu diwaspadai saat menjalani diet.
1. Jus hijau
Jus hijau kerap dipromosikan sebagai cara praktis memenuhi kebutuhan sayur dan asupan gizi harian. Meski dapat mengandung vitamin, sebagian produk jus hijau juga bisa mengandung gula tambahan dan minim serat karena ampasnya dibuang. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan gula darah.
Soutter menyarankan memilih jus dengan komposisi sayuran lebih banyak dibanding buah. Ia juga merekomendasikan jus cold-pressed karena dinilai cenderung mempertahankan nutrisi. Alternatif yang lebih seimbang adalah smoothie buatan rumah dari buah dan sayur utuh, ditambah sumber protein. Mengonsumsi jus sebagai bagian dari makan utama juga disebut dapat membantu menjaga kestabilan gula darah.
2. Matcha latte
Matcha latte kerap dianggap sebagai minuman sehat karena matcha dikenal kaya antioksidan. Namun, masalah bisa muncul ketika minuman ini dibuat dengan susu penuh lemak, gula, atau tambahan sirup.
Menurut Soutter, satu porsi matcha latte dari kafe dapat mengandung hingga 220 kalori dan 29 gram gula. Selain itu, kandungan kafein matcha cukup tinggi dan dapat memicu gelisah atau gangguan tidur bila dikonsumsi berlebihan. Matcha juga disebut berpotensi menghambat penyerapan zat besi nabati.
Agar tetap bisa menikmati matcha, konsumen disarankan memilih matcha tanpa gula, porsi kecil, serta bahan yang berkualitas.
3. Minuman bersoda tanpa kalori
Minuman bersoda dengan klaim bebas kalori sering dipilih sebagai pengganti minuman manis. Soutter menilai minuman diet dapat membantu sebagian orang mengurangi konsumsi gula. Namun, ia menyebut penelitian terbaru menunjukkan pemanis buatan berpotensi memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus.
Meski tidak mengandung kalori, konsumsi berlebihan tetap tidak disarankan. Minuman diet sebaiknya dikonsumsi sesekali, bukan menjadi kebiasaan harian. Sebagai alternatif, air putih dengan infus buah atau sayuran seperti lemon, mentimun, atau mint bisa menjadi pilihan. Air berkarbonasi dengan perisa alami tanpa gula juga disebut semakin mudah ditemukan.
4. Sayuran yang diolah kurang tepat
Sayuran umbi panggang sering dianggap pilihan lebih sehat dibanding kentang goreng. Bit, wortel, ubi, hingga parsnip memang kaya serat, vitamin, dan mineral. Namun, cara memasaknya tetap perlu diperhatikan.
Soutter menjelaskan, pemanggangan pada suhu tinggi dapat mengurangi kandungan air pada sayuran, sementara gula alaminya mengalami karamelisasi sehingga lebih mudah diserap tubuh. Jika proses memasak ditambah minyak berlebih, mentega, atau pemanis seperti madu, kandungan kalori dan lemaknya dapat meningkat. Ia menekankan pemanggangan tidak menghilangkan manfaat gizi, tetapi bahan tambahan perlu dikontrol agar tidak membuatnya menjadi kurang sehat.
5. Buah kering
Buah kering dikenal padat nutrisi karena mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan. Namun, proses pengeringan membuat kadar gulanya menjadi lebih terkonsentrasi. Jika dikonsumsi berlebihan, hal ini berisiko memicu kenaikan berat badan dan masalah gigi.
Soutter menyarankan porsi buah kering maksimal sekitar 30 gram atau setara satu sendok makan penuh. Ia juga menganjurkan buah kering dikonsumsi bersamaan dengan waktu makan untuk mengurangi risiko kerusakan gigi. Untuk camilan di sela waktu makan, buah segar dinilai lebih aman karena kandungan air dan seratnya membantu mengontrol asupan gula secara alami.

