BERIKAN KESAKSIAN ATAS LUKA SOSIAL MELALUI SASTRA

BERIKAN KESAKSIAN ATAS LUKA SOSIAL MELALUI SASTRA

- Diskusi dengan Duta Besar Rusia

Oleh Denny JA

Saya membaca kembali undangan berjumpa Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, yang dikirim sekretarisnya melalui pesan singkat.

Undangan itu dikaitkan dengan saya yang baru saja menerima BRICS Award for Literary Innovation 2025. Penghargaan tersebut berkaitan dengan genre sastra yang saya kembangkan, puisi esai, yang kini meluas ke ASEAN. Malaysia baru saja menyelenggarakan Festival Puisi Esai ASEAN ke 5 pada Februari 2026.

Saya membayangkan percakapan apa yang akan terjadi. Apa yang layak dibicarakan dalam ruang diplomasi budaya.

Pada saat yang sama, saya baru saja membaca karya pemenang pertama lomba puisi esai 2026, karya Gita Utami. Puisi itu berbicara tentang luka sosial dan luka ekologis.

Yang dramatis dalam puisi itu bukan hanya kematian seorang ayah. Yang dramatis adalah ironi moral yang telanjang.

Seorang lelaki yang ingin menanam pohon demi menyelamatkan lereng bukit justru mati tertimpa kayu hasil penebangan liar. Seorang anak kehilangan masa depan, tetapi menemukan sebutir mahoni di saku celana ayahnya.

Di tengah galodo yang menghancurkan ribuan rumah dan ribuan nyawa, harapan hadir dalam bentuk paling kecil dan paling sunyi. Banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan tagihan sejarah atas kerakusan manusia.

Yang dramatis adalah keputusan Nurmina menanam harapan di atas tanah yang baru saja merenggut ayahnya.

-000-

Saya membaca puisi tentang biji mahoni itu pada malam yang hening. Di luar jendela, Jakarta tetap menyala seperti biasa. Tidak ada lumpur. Tidak ada sirine. Tidak ada kayu gelondongan yang menghantam rumah.

Namun di dalam diri saya, sesuatu bergeser.

Sejak lama kita terbiasa membaca angka. Seribu korban. Ribuan rumah. Puluhan titik longsor. Angka itu rapi dan presisi. Tetapi angka tidak memiliki wajah. Angka tidak memeluk anak yang kehilangan ayahnya.

Puisi itu memaksa saya berhenti pada satu tubuh. Satu ayah. Satu anak. Satu biji mahoni.

Saya teringat masa kecil di kampung yang masih dikelilingi pepohonan. Suara hujan dulu terdengar seperti doa. Kini ia sering terdengar seperti ancaman. Sejak kapan alam berubah dari sahabat menjadi penggugat.

Di sanalah saya memahami kembali bahwa sastra bukan sekadar keindahan bahasa. Sastra adalah kesaksian. Ia memberi wajah pada luka yang hampir kita biarkan menjadi statistik.

Ketika luka memiliki wajah, kesadaran tidak bisa lagi ditunda.

Ayah dalam puisi itu adalah nurani kolektif yang terlambat bangun. Ia tahu bahwa hutan telah dilucuti. Ia tahu bahwa sungai kehilangan rumahnya. Ia tahu bahwa manusia telah terlalu banyak mengambil.

Namun ia tidak memilih pidato. Ia memilih menanam.

Ironinya, ia mati tertimpa kayu hasil kerakusan kolektif yang ingin ia tebus.

-000-

Di titik itu, tragedi ekologis berubah menjadi tragedi moral. Banjir bukan lagi sekadar fenomena alam. Ia adalah cermin.

Sastra berdiri di tengah reruntuhan dan berkata dengan sunyi, lihatlah dirimu.

Ia tidak menggantikan kebijakan publik. Ia tidak membangun bendungan. Namun ia mengubah cara kita memandang bendungan. Ia mengubah bencana menjadi tanggung jawab.

-000-

Pentingnya membuat gerakan sastra yang mengajak orang banyak bersaksi atas luka sosial inilah yang ingin saya sampaikan dalam pertemuan dengan Duta Besar Rusia.

Pada Jumat, 13 Februari 2026, saya bersama Koordinator BRICS Award Indonesia, Sastri Bakry, dan rombongan, memenuhi undangan Duta Besar Sergei Gennadievich Tolchenov.

Pertemuan berlangsung formal sekaligus hangat. Saya menyampaikan sedikit orasi dalam bahasa Inggris.

Saya memulai dengan rasa syukur sebagai penulis. Saya katakan bahwa di dunia yang gemar mengukur kekuatan melalui senjata, pasar, dan teknologi, keputusan mendukung sastra adalah keputusan peradaban.

Sebelum kita menjadi warga negara, kita adalah pembawa kisah. Kisah tentang cinta, kehilangan, dan ketidakadilan.

Saya juga menyampaikan bahwa jika BRICS Award untuk Sastra ingin bertahan lintas generasi, ia membutuhkan fondasi yang kokoh. Nobel Prize yang berdiri sejak 1901 bertahan karena dana abadi yang dikelola profesional. Booker Prize yang dimulai pada 1969 berkembang karena dukungan sponsor dan yayasan yang stabil.

Sastra membutuhkan ketahanan finansial. Namun lebih dari itu, ia membutuhkan komitmen moral. Tanpa dana, penghargaan berhenti. Tanpa kesaksian, nurani mengering.

Diplomasi budaya dan kesaksian sosial ternyata berada dalam satu garis yang sama. Keduanya berbicara tentang warisan.

-000-

Kami terlibat percakapan yang intens. Saya menceritakan kecintaan saya pada sastra Rusia.

Novel Doctor Zhivago karya Boris Pasternak, diterbitkan pada tahun 1957, selalu kembali dalam ingatan saya. Film adaptasinya tahun 1965 dibintangi Omar Sharif dan Julie Christie.

Saya sampailan ke Dubes Rusia, Film Doctor Zhivago telah saya tonton lebih dari lima kali.

Yuri Zhivago adalah dokter dan penyair yang hidup di tengah Revolusi Rusia. Ia bukan tokoh ideologis. Ia ingin mencintai, menulis, dan menyembuhkan.

Namun sejarah memaksanya memilih. Revolusi memecah keluarga dan menghancurkan stabilitas.

Zhivago kalah secara sosial dan politik. Namun puisinya tetap hidup. Pasternak menunjukkan bahwa ketika negara menuntut kesetiaan total, kebebasan batin tetap menjadi ruang terakhir yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai.

Tubuh bisa dihancurkan sejarah. Kesaksian batin melampaui sejarah.

-000-

Sepulang dari Kedutaan Rusia, saya mengingat karya sastra Rusia lain yang membentuk kesadaran saya.

War and Peace karya Leo Tolstoy, diterbitkan pada tahun 1869, menggambarkan Rusia dalam bayang invasi Napoleon. Tolstoy meruntuhkan mitos bahwa sejarah digerakkan oleh tokoh besar semata. Ia menunjukkan bahwa sejarah dibentuk oleh jutaan keputusan manusia biasa.

Pierre mencari makna hidup. Andrei mencari kehormatan. Natasha belajar tentang cinta dan kehilangan. Perang di tangan Tolstoy menjadi ujian spiritual.

Kemudian Crime and Punishment karya Fyodor Dostoevsky, diterbitkan pada tahun 1866. Raskolnikov membunuh dengan teori bahwa manusia luar biasa boleh melampaui moralitas umum. Namun ia dihancurkan oleh nuraninya sendiri. Hukuman sejati bukan vonis hukum, melainkan runtuhnya integritas batin.

Jika puisi tentang galodo berbicara tentang dosa kolektif terhadap alam, maka novel ini berbicara tentang dosa individual terhadap sesama.

Lalu Fathers and Sons karya Ivan Turgenev, diterbitkan pada tahun 1862, menggambarkan benturan generasi dan lahirnya nihilisme modern. Bazarov menolak tradisi dan iman. Namun ketika ia jatuh cinta, keyakinannya retak. Modernitas tanpa akar melahirkan kekosongan.

Ketiga novel itu membuktikan bahwa sastra Rusia intens merekam luka sosial melalui dunia batin personal.

-000-

Refleksi ini diperkuat oleh dua karya pemikiran.

Dalam Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life karya Martha C. Nussbaum, diterbitkan pada tahun 1995, ditegaskan bahwa demokrasi membutuhkan imajinasi moral.

Warga negara harus mampu membayangkan kehidupan orang lain. Tanpa empati, hukum menjadi dingin. Sastra melatih kemampuan membayangkan penderitaan secara konkret.

Dalam The Death of Tragedy karya George Steiner, diterbitkan pada tahun 1961, dijelaskan bahwa tragedi mengajarkan manusia menghadapi penderitaan tanpa ilusi solusi instan. Kesadaran tragis membuat manusia lebih rendah hati.

Jika galodo dibaca sebagai tragedi ekologis, maka sastra membantu kita menerima kenyataan pahit dan mendorong perubahan yang bertanggung jawab.

-000-

Dari tenda pengungsian di Sumatra hingga ruang diplomasi di Jakarta, dari Zhivago yang tersisih hingga Raskolnikov yang runtuh, satu benang merah menjadi terang.

Sastra tidak menghapus luka. Ia membuat luka bermakna.

Ia menolak membiarkan korban menjadi angka. Ia menanam biji mahoni dalam kesadaran kolektif kita.

Jika biji mahoni itu adalah harapan, maka sastra adalah tangan yang menanamnya kembali setiap kali sejarah menghancurkan rumah kita.

Bangsa yang besar bukan hanya yang kuat secara ekonomi atau militer, tetapi yang berani merawat nurani melalui sastra ketika dunia sedang terluka.***

-000-

REFERENSI
1. Pasternak, Boris. Doctor Zhivago. 1957.
2. Tolstoy, Leo. War and Peace. 1869.
3. Dostoevsky, Fyodor. Crime and Punishment. 1866.
4. Turgenev, Ivan. Fathers and Sons. 1862.
5. Nussbaum, Martha C. Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life. 1995.
6. Steiner, George. The Death of Tragedy. 1961.