Ribuan warga memadati kawasan wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, untuk mengikuti Kirab Gunungan yang menjadi puncak rangkaian Ruwat Bumi Guci 2026 pada Selasa, 16 Juni 2026. Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini kembali menarik perhatian masyarakat karena memadukan unsur budaya, spiritualitas, dan pariwisata dalam satu perhelatan.
Gunungan berisi aneka hasil bumi—mulai dari sayuran, buah-buahan, palawija, hingga umbi-umbian—diarak menuju panggung utama di sekitar Kantor UPT Pengelolaan Objek Wisata Guci. Setelah didoakan bersama, ribuan warga dari Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, serta Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, Kecamatan Bojong, berbaur memperebutkan isi gunungan yang diyakini membawa keberkahan.
Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid mengatakan pelaksanaan Ruwat Bumi Guci tahun ini memiliki makna lebih mendalam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai masyarakat Guci menunjukkan semangat untuk bangkit setelah kawasan wisata tersebut sempat menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana banjir bandang yang berdampak pada kehidupan warga dan sektor pariwisata.
“Kita masih mengingat bagaimana beberapa waktu lalu kawasan wisata Guci menghadapi ujian berupa banjir bandang yang memberikan dampak bagi masyarakat maupun sektor pariwisata. Namun hari ini kita melihat semangat masyarakat yang luar biasa untuk bangkit dan kembali menata masa depan,” ujar Kholid.
Menurutnya, Kirab Gunungan bukan sekadar tradisi budaya tahunan, melainkan simbol rasa syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus gambaran kekuatan ekonomi masyarakat di lereng Gunung Slamet. Kholid menyebut hasil bumi yang diarak mencerminkan kekayaan alam Guci, kerja keras para petani, serta komitmen warga menjaga tradisi leluhur.
“Kirab Gunungan yang kita laksanakan hari ini bukan hanya simbol rasa syukur, tetapi juga cerminan potensi besar masyarakat Guci. Di dalamnya tergambar kekayaan alam, kerja keras petani, dan semangat warga dalam menjaga tradisi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin, menjelaskan seluruh isi gunungan memiliki makna filosofis. Menurutnya, hasil bumi yang disusun dalam gunungan dipilih sebagai simbol kemakmuran sekaligus pengingat pesan leluhur tentang pentingnya berbagi kepada sesama.

