Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Doddy Izwardy menegaskan pentingnya edukasi gizi sejak dini sebagai gerakan nasional lintas generasi. Ia menilai perubahan perilaku makan masyarakat tidak dapat dicapai secara instan, sehingga diperlukan upaya yang konsisten dan berkelanjutan.
Doddy menyebut sasaran edukasi gizi sangat luas, mencakup ibu hamil, balita, hingga anak sekolah. Ia menyoroti besarnya jumlah kelompok sasaran tersebut di Indonesia. “Karena profesi gizi ini yang paling penting adalah masalah edukasi. Ibu hamil kan 5 juta, balita ada 23 juta, anak sekolah kan 55 juta,” kata Doddy usai perayaan puncak Hari Gizi Nasional di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.
Menurutnya, perubahan perilaku gizi perlu disertai pemahaman menyeluruh dan tidak sekadar mengikuti konsep lama. Ia menekankan fokus utama adalah perubahan perilaku pola makan.
Doddy juga menyinggung pendekatan gizi pada masa lalu yang masih membekas di masyarakat. Ia mencontohkan pengalaman generasi sebelumnya yang akrab dengan susu skim dan slogan “4 sehat 5 sempurna”.
Selain pola makan, Doddy mengingatkan konsep gizi seimbang juga berkaitan dengan aktivitas fisik. Ia menilai pemantauan berat badan dan asupan gizi secara rutin penting untuk mendukung penerapan gizi seimbang.
Ia menambahkan, Persagi terus mempelajari pengakuan edukasi gizi serentak terbanyak di sekolah-sekolah sebagai penguatan gerakan jangka panjang. “Ini gerakan kami dari Persagi menuju 2029 hingga ke 2045, ini harus ditanamkan tiap generasi,” ujarnya. Menurut Doddy, pengakuan tersebut menjadi pengingat agar edukasi gizi dilakukan secara konsisten.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi menyampaikan pemenuhan gizi pada ibu hamil menunjukkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut angka anemia pada ibu hamil menurun dalam lima tahun terakhir. “Lima tahun yang lalu yang anemia ibu hamil itu 48%, jadi 1 dari 2. Sekarang sudah turun menjadi 27%,” kata Maria.
Meski demikian, Maria menilai capaian tersebut belum cukup karena masih lebih tinggi dibandingkan negara maju yang berada di bawah 20 persen. Ia juga menyoroti peran bidan dan ahli gizi dalam edukasi gizi bagi ibu hamil dan balita, seraya menyebut masih ada pekerjaan rumah besar terutama pada periode awal kehidupan anak.

