Jagat media sosial kembali diramaikan tren viral yang tak terduga. Kali ini, potongan pernyataan bernuansa matematika seperti “1+1 sama dengan 2” hingga “11 kali 11 sama dengan 121” menyebar luas dan diparodikan di TikTok serta platform lain.
Ucapan tersebut berasal dari video klarifikasi aktor Roby Tremonti, yang belakangan menjadi sorotan publik seiring polemik memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Buku itu mengangkat pengalaman pahit terkait child grooming dan memicu spekulasi warganet tentang identitas tokoh di dalamnya.
Warganet kemudian mengaitkan sosok “Bobby” dalam buku tersebut dengan Roby Tremonti, meski belum pernah ada penetapan hukum apa pun.
Potongan klarifikasi yang berujung jadi parodi
Sorotan bermula ketika Roby Tremonti mengunggah video klarifikasi terkait tudingan yang mengarah padanya. Dalam video itu, ia mempertanyakan logika isi buku dengan analogi hitung-hitungan sederhana.
“1+1 sama dengan 2, 11x11 sama dengan 121, 12x12 = 144. 8x8 6x4? Yang waras ya, gak boleh dipelintir, yang waras. Ibu kota Indonesia adalah? Jakarta. Saya tambahin lagi, ibu kota Jawa barat? Bandung. Gubernurnya? KDM, bapak aing. Yang logik, izin enggak bermaksud apapun,” ucapnya.
Alih-alih meredam situasi, potongan ucapan itu justru memicu gelombang kreativitas warganet. Cuplikan tersebut dipakai ulang sebagai sound, meme, dan berbagai versi video parodi, hingga menjadi salah satu tren yang ramai dibicarakan pada awal 2026.
Nama Roby Tremonti kembali disorot
Roby Tremonti dikenal sebagai aktor yang telah lama berkecimpung di industri hiburan. Ia pernah membintangi sinetron seperti Amanah Wali dan Police 86, serta serial Kupu Malam. Di layar lebar, namanya tercatat dalam film Chrisye (2017) dan Nagabonar Reborn (2019), serta Tenung dan Mama: Pesan dari Neraka (2025).
Dalam klarifikasinya, Roby juga mengklaim pernah menikah dengan Aurelie Moeremans. Namun, Aurelie membantah dan menyatakan pernikahan itu tidak sah secara kanonik.
Polemik “Broken Strings” dan respons publik
Memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth membuat Aurelie Moeremans menjadi perbincangan publik pada awal 2026. Buku tersebut menyoroti pengalaman manipulasi psikologis yang dialaminya saat remaja. Seiring viralnya buku itu, sebagian warganet berspekulasi mengenai identitas tokoh-tokoh di dalam cerita dan menyeret nama Roby Tremonti.
Di tengah derasnya reaksi warganet, selebgram Tengku Zanzabella mengingatkan agar publik tidak gegabah menghakimi seseorang hanya berdasarkan dugaan. “Jadi ada ketidakadilan yang dilakukan oleh para netizen kita, yaitu memvonis dengan langsung menunjuk orangnya seperti Robby gitu, dengan tidak mengurangi empati kita terhadap korban Kita itu nggak boleh juga memvonis langsung kalau dia adalah pelakunya,” ujarnya.
Ia juga menilai klarifikasi Roby wajar dilakukan untuk menjaga reputasi. “Kalau misalnya si Roby itu klarifikasi karena dia menyangka itu dia, karena mungkin orang menunjuk dia dan memvonis dia adalah orang tersebut (Bobby) yang melakukan abuse atau apapun itu maka reputasi dia jatuh ya,” kata Tengku Zanzabella.
Aurelie minta publik hentikan perundungan dan spekulasi
Melihat situasi yang semakin memanas, Aurelie Moeremans turut menyampaikan pernyataan melalui Threads. Ia meminta publik menghentikan perundungan dan tidak menyerang karakter-karakter dalam bukunya, terutama bila masih sebatas dugaan.
“Please.. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan. Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar dan jujur aku gak enak bacanya,” tulisnya.
Aurelie menegaskan fokus bukunya bukan untuk memburu identitas seseorang. “Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” lanjutnya.
Ia juga menyatakan tidak bertanggung jawab atas pihak yang merasa mengidentifikasi diri sebagai karakter dalam buku tersebut.

