BERITA TERKINI
Paniki, Daftar “Terburuk”, dan Luka Kecil di Ruang Publik: Membaca Tren tentang Kuliner Sulawesi Utara

Paniki, Daftar “Terburuk”, dan Luka Kecil di Ruang Publik: Membaca Tren tentang Kuliner Sulawesi Utara

Nama paniki mendadak ramai dibicarakan setelah muncul kabar bahwa kuliner khas Sulawesi Utara itu masuk daftar 24 “makanan terburuk di dunia” tahun 2026.

Isu ini cepat menjadi tren karena menyentuh sesuatu yang sangat personal.

Makanan bukan sekadar rasa.

Ia adalah ingatan keluarga, identitas daerah, dan rasa bangga yang sering kali tak tertulis, tetapi hidup di meja makan.

-000-

Mengapa Paniki Mendadak Jadi Tren

Tren ini berangkat dari satu kalimat yang terdengar sederhana namun tajam: “terburuk di dunia”.

Label itu mudah memantik emosi.

Terutama ketika yang dilabeli adalah tradisi kuliner, bukan produk pabrik yang bisa diganti begitu saja.

Di ruang digital, satu label bisa berubah menjadi penghakiman massal.

-000-

Ada tiga alasan mengapa isu ini cepat menanjak di pencarian dan percakapan.

Alasan pertama adalah efek stigma.

Kata “terburuk” menciptakan rasa terancam, seolah sebuah komunitas sedang ditertawakan oleh dunia.

Orang yang tak pernah mencicipi paniki pun ikut bereaksi karena dorongan membela atau menghakimi.

-000-

Alasan kedua adalah benturan selera dan norma.

Paniki, bagi sebagian orang, bukan sekadar “makanan unik”.

Ia menyentuh batas psikologis tentang apa yang dianggap layak dimakan.

Di titik ini, perdebatan jarang membahas teknik memasak.

Yang diperdebatkan justru rasa jijik, rasa penasaran, dan rasa takut dianggap “tidak modern”.

-000-

Alasan ketiga adalah algoritma yang menyukai konflik.

Konten yang memicu pro dan kontra mudah dibagikan.

Reaksi keras, candaan, dan kemarahan memberi sinyal kuat bagi platform.

Akhirnya, topik ini mengalir dari satu linimasa ke linimasa lain.

-000-

Di Balik Label: Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan

Masuknya paniki dalam daftar “makanan terburuk” bukan hanya soal peringkat.

Ini adalah cermin cara dunia digital bekerja.

Satu daftar dapat menempelkan reputasi pada sebuah budaya.

Padahal budaya tidak pernah sesederhana daftar.

-000-

Ketika sebuah makanan dinilai buruk, yang sering terluka adalah martabat kolektif.

Warga daerah merasa dipandang rendah.

Para perantau merasa identitasnya digugat.

Dan publik nasional merasa “Indonesia” ikut dipertaruhkan.

-000-

Namun ada bahaya lain yang lebih halus.

Perdebatan yang terlalu emosional bisa mengunci pembicaraan pada dua kubu.

Satu kubu membela tanpa ruang kritik.

Kubu lain mengejek tanpa usaha memahami konteks.

-000-

Riset yang Membantu Membaca Fenomena Ini

Dalam studi psikologi makanan, preferensi rasa bukan hanya soal lidah.

Ia dipengaruhi pengalaman masa kecil, lingkungan sosial, dan paparan budaya.

Itulah sebabnya “aneh” sering berarti “asing”.

-000-

Riset tentang neophobia makanan menjelaskan kecenderungan manusia menolak makanan yang tidak familiar.

Penolakan itu bisa muncul sebagai jijik, bahkan sebelum mencicipi.

Di internet, respons ini mudah membesar menjadi stigma.

-000-

Riset antropologi kuliner juga menunjukkan makanan berperan sebagai penanda identitas.

Ketika identitas ditantang, responsnya bukan sekadar argumen.

Responsnya bisa berupa pembelaan emosional, karena yang dipertahankan adalah “siapa kita”.

-000-

Di sisi lain, riset komunikasi digital menekankan bahwa platform cenderung menguatkan konten yang memicu keterlibatan.

Konten yang memancing kemarahan atau tawa sering lebih cepat menyebar.

Label “terburuk” adalah bahan bakar yang efisien.

-000-

Isu Besar Indonesia: Identitas, Pariwisata, dan Ketahanan Budaya

Kontroversi paniki terhubung dengan isu besar tentang cara Indonesia merawat keberagaman.

Indonesia bukan satu rasa.

Indonesia adalah ribuan rasa yang hidup berdampingan, kadang saling memahami, kadang saling curiga.

-000-

Dalam konteks pariwisata, reputasi kuliner ikut membentuk citra daerah.

Ketika satu makanan diberi label buruk, dampaknya bisa meluas.

Orang bisa menggeneralisasi: daerahnya “aneh”, budayanya “ekstrem”, warganya “berbeda”.

-000-

Padahal pariwisata kuliner modern justru dibangun dari keunikan.

Yang dibutuhkan adalah narasi yang jujur dan berimbang.

Bukan glorifikasi, bukan pula penghakiman.

-000-

Isu ini juga menyentuh ketahanan budaya.

Apakah tradisi kuliner harus selalu mencari validasi global?

Atau kita mampu memegang tradisi dengan percaya diri, sambil tetap terbuka pada dialog etis dan kesehatan?

-000-

Pengalaman Luar Negeri yang Serupa

Kontroversi makanan “dibenci” bukan hal baru di dunia.

Di banyak negara, makanan tradisional pernah menjadi bahan olok-olok global.

Sering kali karena aroma kuat, bahan yang tak lazim, atau cara penyajian.

-000-

Di Eropa Utara, misalnya, ada makanan fermentasi yang kerap dianggap ekstrem oleh orang luar.

Di Asia, beberapa makanan berbahan organ dalam atau hasil fermentasi juga sering masuk daftar “paling tidak disukai”.

Polanya mirip: penilaian cepat, viral, lalu debat identitas.

-000-

Namun ada pelajaran penting dari kasus-kasus itu.

Sejumlah komunitas memilih merespons dengan edukasi budaya.

Mereka menjelaskan sejarah, teknik, serta konteks sosialnya.

Dengan begitu, perbincangan bergeser dari ejekan menjadi pemahaman.

-000-

Membaca Paniki Tanpa Menghakimi

Fakta bahwa paniki masuk daftar “makanan terburuk” tidak otomatis berarti paniki harus disingkirkan.

Daftar semacam itu sering berbasis selera, pengalaman singkat, atau persepsi umum.

Selera tidak pernah universal.

-000-

Namun pembelaan juga perlu cermat.

Membela tradisi bukan berarti menutup ruang diskusi tentang kesehatan, konservasi, atau etika.

Jika ada pertanyaan publik, jawaban terbaik adalah transparansi dan literasi, bukan kemarahan.

-000-

Ruang publik kita sering terjebak pada dua pilihan: bangga atau malu.

Padahal ada pilihan ketiga yang lebih dewasa: memahami.

Memahami tidak sama dengan setuju.

Memahami berarti memberi konteks sebelum memberi vonis.

-000-

Rekomendasi: Cara Menanggapi Isu Ini dengan Dewasa

Pertama, pisahkan kritik selera dari penghinaan budaya.

Seseorang boleh tidak suka paniki.

Tetapi mengejek komunitas yang menghidupi tradisi itu adalah bentuk kekerasan simbolik.

-000-

Kedua, dorong literasi kuliner.

Media, komunitas, dan pelaku wisata bisa menjelaskan sejarah, proses, serta makna sosial sebuah makanan.

Penjelasan yang baik mengurangi ruang bagi stereotip.

-000-

Ketiga, responslah dengan data dan cerita, bukan amarah.

Jika ada klarifikasi yang perlu disampaikan, lakukan dengan bahasa yang tenang.

Perlihatkan bahwa kebudayaan kuat tidak mudah goyah oleh satu daftar.

-000-

Keempat, gunakan momentum ini untuk memperkuat diplomasi budaya.

Perkenalkan keragaman kuliner Indonesia secara lebih luas, termasuk yang “menantang”.

Diplomasi bukan hanya tentang yang mudah diterima.

Diplomasi juga tentang mengajak orang memahami yang berbeda.

-000-

Kelima, rawat etika percakapan digital.

Warganet bisa mengkritik daftar tersebut tanpa merendahkan selera orang lain.

Di era algoritma, sopan santun adalah bentuk perlawanan yang sunyi namun penting.

-000-

Penutup: Ketika Dunia Menilai, Kita Memilih Cara Menjawab

Paniki yang masuk daftar “makanan terburuk” telah berubah menjadi cermin.

Cermin tentang cara kita memaknai identitas, cara kita menghadapi penilaian luar, dan cara kita berbicara satu sama lain.

-000-

Mungkin yang paling penting bukan apakah sebuah daftar itu adil.

Yang lebih penting adalah apakah kita mampu merespons tanpa kehilangan kejernihan.

Karena kebudayaan yang dewasa tidak hidup dari pujian.

Kebudayaan yang dewasa hidup dari pemahaman.

-000-

Di tengah riuh peringkat dan label, kita diingatkan bahwa martabat tidak ditentukan oleh daftar.

Martabat ditentukan oleh cara kita menjaga warisan, sekaligus cara kita menghormati perbedaan.

-000-

“Kebijaksanaan bukanlah menang dalam perdebatan, melainkan tetap manusiawi ketika berbeda.”