Panjang umur dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan dan gaya hidup. Pakar kesehatan Dan Buettner membagikan satu kebiasaan makan yang ia nilai sederhana namun efektif untuk membantu menurunkan berat badan sekaligus mendukung usia panjang: tidak ngemil di antara waktu makan.
Buettner, yang dikenal sebagai peneliti populasi dengan harapan hidup tinggi dan merupakan bagian dari National Geographic Fellow serta penulis buku terlaris, menyebut rahasia hidup lebih lama tidak bertumpu pada suplemen, vitamin mahal, atau camilan berprotein tinggi. Menurutnya, yang lebih penting adalah ritme makan yang teratur.
Dalam video yang dibagikannya di Instagram, Buettner menyampaikan bahwa jika seseorang ingin menurunkan berat badan dan hidup lebih lama melalui pola makan, langkah yang bisa dilakukan adalah berhenti ngemil. Ia juga menilai banyak orang terpengaruh klaim kesehatan yang menyebut tubuh membutuhkan asupan tambahan seperti protein, serat, atau nutrisi tertentu di luar waktu makan utama.
Buettner menjelaskan, temuan dari penelitiannya di wilayah yang dikenal sebagai “Blue Zones” menunjukkan pola yang konsisten. Di kawasan tersebut, penduduk yang dapat hidup hingga usia 100 tahun ke atas terbiasa makan sarapan dalam porsi besar, makan siang secukupnya, dan makan malam ringan. Setelah itu, mereka memberi jeda istirahat bagi sistem pencernaan selama sekitar 14 jam.
“Kami melihat dengan sangat jelas, orang-orang di Blue Zones makan teratur tanpa ngemil di antaranya, dan memberi waktu istirahat bagi tubuh dari makanan,” kata Buettner, seperti dikutip dari DailyMailUK, 20 Januari 2026.
Blue Zones merujuk pada beberapa wilayah seperti Sardinia di Italia, Okinawa di Jepang, dan Ikaria di Yunani, yang dikenal sebagai tempat tinggal masyarakat dengan tingkat kesehatan tinggi dan usia panjang.
Buettner menambahkan, kebiasaan jarang atau tidak ngemil sama sekali disebut dapat membantu tubuh menjaga kestabilan gula darah dan kesehatan pencernaan. Ia juga mengungkapkan ada jenis makanan yang tidak ia izinkan masuk ke rumahnya, yakni daging olahan seperti sosis, nugget, atau ham, serta minuman tinggi gula. Buettner menyebut ia mengetahui daging olahan berkaitan dengan penyakit kanker.
Menurutnya, kunci pola makan sehat tidak semata soal pengendalian diri, melainkan juga pengaturan lingkungan. Buettner mengaku telah menjalani pola makan berbasis nabati atau vegan selama lebih dari satu dekade dan merasakan manfaatnya terhadap energi, berat badan, dan kesehatan secara keseluruhan.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa umur panjang bukan soal mengikuti tren diet terbaru, melainkan kembali pada ritme makan yang telah dijalani manusia selama berabad-abad.

